Suatu Pagi Menjelang Pemilu
by Eko Wm Yudinovic on Wednesday, April 8, 2009 at 7:00am
ada yang mengetuk pintu, menjual bual. seperti hari sebelumnya, dengan singgasananya ia meminta paksa: belilah omong kosong ini. saat itu, dengan mata hati tertutup, dengan sumpah yang pengecut berduyun-duyun intimidasi kapitalis membayang lebuh lebam.
perkenalkan, saya datu negeri! ingatkan anak istrimu yang kurang gizi, dusunmu yang gulita bahkan temaram ketika tengah hari! saya memohon kepada kalian membeli ini agar dusunmu tidak hitam lagi, supaya anak istrimu bisa makan roti.
saya menontonnya berdiri di tengah kerumunan. bajunya adalah warna paling terang siang malam. ucapannya menekan, membuat kerumunan itu terpental mentalnya. jatuh. jatuh sedalam-dalamnya. dengan cemas yang beribu dan kepala yang tertunduk.
2009
menjelang usai usia dan moksa
abi dari putri kecil yang cantik: zaizathifah mirajiah yudinovic
1.13.2011
Sajak Jeme Dusun
Sajak Jeme Dusun
Jeme dusun betitip nga kancenye
sambil betungkat ajai ngenang sebitu
“aku ka pegi ke pasar, balik kele jadi jeme gerut,” die berupuk
Anye jeme dusun dek tau pegi
Gi pacak betitip nga kancenye
Sambil ngenang ade rejungan zaman mak ini
“Amu ke pasar pagian pagi, sampaika salam ghinduku. Kicikkah nga die
: kawe-kawe mulai tumbuh.”
Jeme dusun betitip salam
Li kundang kance jarang balik
Li ading sanak jauh di seberang
Li dusun laman jadi sepi
Li die ghindu nga gegalenye
Jeme dusun ngenang sebitu
Die, anak lanang ye belum terti idup
Mak ini die payah li idup.
2009
Jeme dusun betitip nga kancenye
sambil betungkat ajai ngenang sebitu
“aku ka pegi ke pasar, balik kele jadi jeme gerut,” die berupuk
Anye jeme dusun dek tau pegi
Gi pacak betitip nga kancenye
Sambil ngenang ade rejungan zaman mak ini
“Amu ke pasar pagian pagi, sampaika salam ghinduku. Kicikkah nga die
: kawe-kawe mulai tumbuh.”
Jeme dusun betitip salam
Li kundang kance jarang balik
Li ading sanak jauh di seberang
Li dusun laman jadi sepi
Li die ghindu nga gegalenye
Jeme dusun ngenang sebitu
Die, anak lanang ye belum terti idup
Mak ini die payah li idup.
2009
Gumam Basi
Gumaman Basi Eko WM Pagaralam
“Tentang Pemain SFC yang Memukul Itu”
Hari-hari terakhir ini banyak hal yang membuat hati mengkal. Komjen Susno yang tetap ditargetkan ditangkap apapun alasannya termasuk juga bikin mengkal. Tetapi, besok saja kita berbicara tentang jendral bintang tiga itu. Yang tak kalah serius bikin mengkal adalah pemukulan yang dilakukan empat pemain Sriwijaya FC (SFC) kepada supporternya.
Saya membayangkan kembali sebuah tulisan lama saya yang pernah dimuat secara online di harian terkemuka daerah. Tulisan tersebut mengenai SFC yang sempat saya singgung gudangnya pemain belian. Tidak satu pun putra Sumsel yang diberi kesempatan menendang bola barang sedetik pun di tim yang kini dijuluki Laskar Wong Kito ini. Dan hal tersebut berlangsung hingga kini.
Tetapi supporter tidak peduli. Mereka tetap mendukung dengan setia. Meskipun awalnya membentuk tradisi gila bola (gibol) tidak terlalu diyakini, setidaknya oleh generasi sebelum 2000-an. Saat itu sangat asing berbicara bola di Sumsel ini. Bahkan di Palembang, ketika awal-awal SFC datang beberapa orang di sekitar saya sempat bertanya kenapa kita bermain terus padahal minggu sebelumnya menelan kekalahan? Sebaliknya tidak sedikit yang bertanya setelah menang ini SFC melawan siapa lagi? Dalam anggapan mereka setiap pertandingan memakai sistem gugur. Meskipun ada juga yang sedikit paham yaitu mereka yang pernah mencermati Krama Yudha dan Pusri Palembang di kompetisi Galatama dulu. Saya waktu itu baru saja bermukim kembali di Sumsel setelah sebelumnya terdampar di banyak tempat.
Ada hal menarik yang sempat disampaikan oleh salah seorang pemain Sriwijaya FC generasi awal yang berasal dari Aceh, Akhyar Ilyas (mungkin orang tidak ingat lagi nama ini), seperti pernah dimuat di sebuah harian tahun 2005 lalu. Menurut Akhyar waktu itu perhatian masyarakat Palembang kepada sepakbola sangat kurang. Ia melihatnya dari sambutan masyarakat sekitar asrama tempat para pemain Sriwijaya FC berada sepertinya biasa-biasa saja. Memang ada yang mengatasnamakan kelompok supporter tertentu, tetapi secara umum tidak terlihat kegembiraan masyarakat Palembang terhadap kehadiran Sriwijaya FC.
Ia membandingkan dengan ketika ia memperkuat Persiraja Banda Aceh atau kesebelasan lain. Setiap hari markas tempat para pemain ramai dikunjungi pala penggemar bola dari seluruh penjuru kota dan mereka mendapatkan dukungan luas dari segenap lapisan masyarakat. Suatu hal yang sangat berbeda dengan kondisi di Palembang ini.
Mencermati kedatangan Sriwijaya FC sebagai kesebelasan "belian" dibandingkan dengan kesebelasan "asli" seperti PS Palembang setidaknya kita bisa mempelajari kondisinya dengan kota lain yang memang terkenal gila sepakbola. Jakarta dengan Persijanya, Bandung dengan Persibnya, Surabaya dengan Persebayanya, Medan dengan PSMSnya, atau Makassar dengan PSMnya. Memang terlihat seperti tidak adil jika kita membandingkan Palembang dengan kota-kota tersebut. Tradisi bola sudah begitu mengakar dalam kehidupan masyarakat kota-kota tersebut. Semua unsur masyarakat dari pemerintah daerah, pengusaha, sampai ibu-ibu rumah tangga larut dalam fanatisme bola. Sebetulnya lebih tepat disebut fanatisme kedaerahan dengan jalan sepakbola.
Persib Bandung, misalnya, setiap kali akan bertanding, di jalan-jalan di kota Bandung terlihat ramai oleh spanduk atau poster dukungan bagi Persib. Sampai-sampai seperti ada iklan dari para pedagang koran yang berkoar-koar di bus kota mengenai pertandingan Persib. Optimisme masyarakat Bandung khususnya dan masyarakat Jawa Barat pada umumnya sering kali membuat tersenyum bahkan terpingkal-pingkal. Ada kisah yang lumayan populer di kalangan penonton Bandung. "Mun maenna di Siliwangi, Brasil ge moal meunang lawan Persib." Maksudnya kira-kira jika bermain atau bertanding di Stadion Siliwangi (stadion kebanggan masyarakat Bandung), Brasil pun tidak akan menang!
Bisa dibayangkan keyakinan dan optimisme masyarakat Bandung tersebut. Optimisme tersebut juga bisa terlihat kota-kota sepakbola yang lain seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, Medan, dll. Nah, tentunya jadi pertanyaan kenapa kondisinya bisa tercipta sedemikian rupa? Jawabnya sebetulnya adalah iklim sepakbola tidak bisa diciptakan secara instan dan karbitan.
Tetapi seiring waktu suasana Palembang perlahan-lahan mulai digairahi oleh sepakbola. Terutama kalangan muda yang mulai menjadikan SFC sebagai idola mereka. Stadion mulai bergemuruh. Seluruh Palembang bahkan Sumsel mulai menerima kehadiran SFC meskipun yang bermain adalah orang luar.
Orang luar itu kemudian berulah. Mereka yang sebagian adalah pemain tim nasional Republik Indonesia melakukan tindakan tidak terpuji dengan memukul pendukungnya. Ah beruntung supporter Palembang ini termasuk supporter yang santun. Bukan supporter yang brutal. Hmm seandainya pemain seperti itu ada di tim lain, barangkali mereka juga akan babak belur bahkan “lumer”. Dan babak belur itu adalah sesuatu yang pantas untuk mereka.
Apakah supporter Palembang ini tergolong penakut? Saya tidak tahu. Yang jelas kelakuan empat pemain itu meskipun mereka sempat meminta maaf harus diberi ganjaran yang setimpal. Juga official dan konon beberapa oknum TNI yang ikut-ikutan memukul pula. Okelah secara hukum mereka diproses, tetapi prosesnya harus serius. Bahkan bila perlu mereka juga perlu diberi shock therapy sampai babak belur pula. Karena mereka kelak akan pulang ke kampungnya sambil menyombong: Ah, orang Palembang itu hanya omong doang beraninya. Pada dasarnya mereka penakut, toh seperti kami malah menghajar mereka di rumah mereka sendiri. Saya sering mendengar yang seperti ini diceritakan seorang teman yang pernah tinggal di daerah yang tergolong keras. Ketika pulang kampung ia bercerita dengan nada seperti tadi yaitu ia pernah menghajar orang “sana”. Padahal belum tentu yang diceritakannya itu tepat atau benar.
Satu hal patut dilakukan terhadap empat orang pemain tadi, mereka itu harus dipecat! Tidak perlu merekrut orang seperti itu sehebat apapun mereka! Mereka mencari nafkah di bumi Sriwijaya, tetapi melecehkan masyarakat Sriwijaya. Dan saya sepakat dengan boikot supporter seperti di Jakabaring saat SFC melawan Persisam kemarin. Sudah main selalu kalah, eh pakai bertingkah pula.
Di timnas juga mereka harus dienyahkan. Sungguh harus dienyahkan.
Penulis adalah pencinta sepakbola
“Tentang Pemain SFC yang Memukul Itu”
Hari-hari terakhir ini banyak hal yang membuat hati mengkal. Komjen Susno yang tetap ditargetkan ditangkap apapun alasannya termasuk juga bikin mengkal. Tetapi, besok saja kita berbicara tentang jendral bintang tiga itu. Yang tak kalah serius bikin mengkal adalah pemukulan yang dilakukan empat pemain Sriwijaya FC (SFC) kepada supporternya.
Saya membayangkan kembali sebuah tulisan lama saya yang pernah dimuat secara online di harian terkemuka daerah. Tulisan tersebut mengenai SFC yang sempat saya singgung gudangnya pemain belian. Tidak satu pun putra Sumsel yang diberi kesempatan menendang bola barang sedetik pun di tim yang kini dijuluki Laskar Wong Kito ini. Dan hal tersebut berlangsung hingga kini.
Tetapi supporter tidak peduli. Mereka tetap mendukung dengan setia. Meskipun awalnya membentuk tradisi gila bola (gibol) tidak terlalu diyakini, setidaknya oleh generasi sebelum 2000-an. Saat itu sangat asing berbicara bola di Sumsel ini. Bahkan di Palembang, ketika awal-awal SFC datang beberapa orang di sekitar saya sempat bertanya kenapa kita bermain terus padahal minggu sebelumnya menelan kekalahan? Sebaliknya tidak sedikit yang bertanya setelah menang ini SFC melawan siapa lagi? Dalam anggapan mereka setiap pertandingan memakai sistem gugur. Meskipun ada juga yang sedikit paham yaitu mereka yang pernah mencermati Krama Yudha dan Pusri Palembang di kompetisi Galatama dulu. Saya waktu itu baru saja bermukim kembali di Sumsel setelah sebelumnya terdampar di banyak tempat.
Ada hal menarik yang sempat disampaikan oleh salah seorang pemain Sriwijaya FC generasi awal yang berasal dari Aceh, Akhyar Ilyas (mungkin orang tidak ingat lagi nama ini), seperti pernah dimuat di sebuah harian tahun 2005 lalu. Menurut Akhyar waktu itu perhatian masyarakat Palembang kepada sepakbola sangat kurang. Ia melihatnya dari sambutan masyarakat sekitar asrama tempat para pemain Sriwijaya FC berada sepertinya biasa-biasa saja. Memang ada yang mengatasnamakan kelompok supporter tertentu, tetapi secara umum tidak terlihat kegembiraan masyarakat Palembang terhadap kehadiran Sriwijaya FC.
Ia membandingkan dengan ketika ia memperkuat Persiraja Banda Aceh atau kesebelasan lain. Setiap hari markas tempat para pemain ramai dikunjungi pala penggemar bola dari seluruh penjuru kota dan mereka mendapatkan dukungan luas dari segenap lapisan masyarakat. Suatu hal yang sangat berbeda dengan kondisi di Palembang ini.
Mencermati kedatangan Sriwijaya FC sebagai kesebelasan "belian" dibandingkan dengan kesebelasan "asli" seperti PS Palembang setidaknya kita bisa mempelajari kondisinya dengan kota lain yang memang terkenal gila sepakbola. Jakarta dengan Persijanya, Bandung dengan Persibnya, Surabaya dengan Persebayanya, Medan dengan PSMSnya, atau Makassar dengan PSMnya. Memang terlihat seperti tidak adil jika kita membandingkan Palembang dengan kota-kota tersebut. Tradisi bola sudah begitu mengakar dalam kehidupan masyarakat kota-kota tersebut. Semua unsur masyarakat dari pemerintah daerah, pengusaha, sampai ibu-ibu rumah tangga larut dalam fanatisme bola. Sebetulnya lebih tepat disebut fanatisme kedaerahan dengan jalan sepakbola.
Persib Bandung, misalnya, setiap kali akan bertanding, di jalan-jalan di kota Bandung terlihat ramai oleh spanduk atau poster dukungan bagi Persib. Sampai-sampai seperti ada iklan dari para pedagang koran yang berkoar-koar di bus kota mengenai pertandingan Persib. Optimisme masyarakat Bandung khususnya dan masyarakat Jawa Barat pada umumnya sering kali membuat tersenyum bahkan terpingkal-pingkal. Ada kisah yang lumayan populer di kalangan penonton Bandung. "Mun maenna di Siliwangi, Brasil ge moal meunang lawan Persib." Maksudnya kira-kira jika bermain atau bertanding di Stadion Siliwangi (stadion kebanggan masyarakat Bandung), Brasil pun tidak akan menang!
Bisa dibayangkan keyakinan dan optimisme masyarakat Bandung tersebut. Optimisme tersebut juga bisa terlihat kota-kota sepakbola yang lain seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, Medan, dll. Nah, tentunya jadi pertanyaan kenapa kondisinya bisa tercipta sedemikian rupa? Jawabnya sebetulnya adalah iklim sepakbola tidak bisa diciptakan secara instan dan karbitan.
Tetapi seiring waktu suasana Palembang perlahan-lahan mulai digairahi oleh sepakbola. Terutama kalangan muda yang mulai menjadikan SFC sebagai idola mereka. Stadion mulai bergemuruh. Seluruh Palembang bahkan Sumsel mulai menerima kehadiran SFC meskipun yang bermain adalah orang luar.
Orang luar itu kemudian berulah. Mereka yang sebagian adalah pemain tim nasional Republik Indonesia melakukan tindakan tidak terpuji dengan memukul pendukungnya. Ah beruntung supporter Palembang ini termasuk supporter yang santun. Bukan supporter yang brutal. Hmm seandainya pemain seperti itu ada di tim lain, barangkali mereka juga akan babak belur bahkan “lumer”. Dan babak belur itu adalah sesuatu yang pantas untuk mereka.
Apakah supporter Palembang ini tergolong penakut? Saya tidak tahu. Yang jelas kelakuan empat pemain itu meskipun mereka sempat meminta maaf harus diberi ganjaran yang setimpal. Juga official dan konon beberapa oknum TNI yang ikut-ikutan memukul pula. Okelah secara hukum mereka diproses, tetapi prosesnya harus serius. Bahkan bila perlu mereka juga perlu diberi shock therapy sampai babak belur pula. Karena mereka kelak akan pulang ke kampungnya sambil menyombong: Ah, orang Palembang itu hanya omong doang beraninya. Pada dasarnya mereka penakut, toh seperti kami malah menghajar mereka di rumah mereka sendiri. Saya sering mendengar yang seperti ini diceritakan seorang teman yang pernah tinggal di daerah yang tergolong keras. Ketika pulang kampung ia bercerita dengan nada seperti tadi yaitu ia pernah menghajar orang “sana”. Padahal belum tentu yang diceritakannya itu tepat atau benar.
Satu hal patut dilakukan terhadap empat orang pemain tadi, mereka itu harus dipecat! Tidak perlu merekrut orang seperti itu sehebat apapun mereka! Mereka mencari nafkah di bumi Sriwijaya, tetapi melecehkan masyarakat Sriwijaya. Dan saya sepakat dengan boikot supporter seperti di Jakabaring saat SFC melawan Persisam kemarin. Sudah main selalu kalah, eh pakai bertingkah pula.
Di timnas juga mereka harus dienyahkan. Sungguh harus dienyahkan.
Penulis adalah pencinta sepakbola
Sajak Lama
Riaye Ini Aku Dek Tau Balik Agi
by Eko Wm Yudinovic on Sunday, September 13, 2009 at 9:55pm
“Riaye ini aku dek tau balik agi,” kate lanang itu.
Die ncungak ke langit tinggi, natap sedih sesedih-sedihe
“Aku ngitung jejak nek tetapak sandi dusun laman ke tanah rantau, entah ngape dek tebace agi jejak dengah,” rupuk lanang itu dalam-dalam.
Di bada die netap mak ini, sekali agi die ngulang ncungak ke langit tinggi, langit itu basah beghakap, datang aban itam dimikuti sesekali petir nyambar-nyambar.
Laju tughunlah ujan.
Lanang itu laju ngitung ujan, mbayangkah ngitung tahun-tahun umure nek la liwat. Dek teghase ayek mate nggenang di matenye sampai penginakannye kabur. “Aghi la ujung bulan, petang paling kedian puase,” die merenung.
Ai, dia tegagau. Pagi la aghi raye.
Anye die masih teduduk di kersinye nek bekepindingan. Masih berupuk tulah dek bemancean.
“Riaye ini aku dek tau balik agi,” katenye.
2009
Keterangan tulisan vokal dan konsonan dalam bahasa Besemah sesuai dengan fonemis dan fonetis.
Balik misalnya tidak dituliskan fonemisnya [balek], tetapi tetap ditulis sebagai [balik] karena jika dituliskan [balek] maka bunyi fonetisnya adalah [bal3k] fonem –e- diucapkan sebagai e pada ekor, bebek dsbnya.
Sedangkan fonem “i” mempunyai dua alofon yaitu[i] seperti “i” pada gigi, titi dsbnya dan alofon [I] yang seperti “i” pada banting [bant (antara i dan e) ng] atau pada pelafalan semir, balik, sedih dalam bahasa besemah yang mendekati bunyi [e].
Tughun misalnya, tidak dituliskan sebagai tughon, karena bunyi “ghun” secara fonetis dituliskan sebagai [RUn] , dengan U besar yang bunyinya seperti bunyi u di “ghun” pada kata tughun. Contoh lain: langsung [laŋsUŋ], berbunyi mendekati bunyi o tetapi tidak tepat jika dituliskan dengan huruf “o”.
Tulisan fonetis memang lebih mudah membuat pengertian yang sama, karena tulisan itu mencerminkan bunyi atau ucapan aslinya. Seseorang yang memakai ilmu bahasa, akan langsung tahu bagaimana membaca sebuah tulisan jika dituliskan secara fonetis walaupun ia berbahasa berbeda bahkan tidak paham sama sekali bahasa itu.
Jadi, misalnya ada seorang Jerman yang ingin membaca pengucapan atau artikulasi yang tepat dalam bahasa Besemah tuliskan saja secara fonemis (misal, langsung) dan fonetis [laŋsUŋ] maka dia bisa membacanya dengan benar: (langsuong) dengan bunyi u mendekati o.
Contoh lain:
Tanjung, gunung, balik, sedih, bersih, lengit dllnya, tidak dituliskan sebagai tanjong, gunong, balek, sedeh, berseh, lenget dllnya. Karena secara ilmu kebahasaan agak keliru.
Catatan: tanda fonetis di atas disederhanakan, karena dicari dalam simbol di komputer tidak ada untuk karakter tertentu. Mohon maaf bukan untuk menggurui tetapi tulisan itu adalah didasarkan semata-mata dengan pertimbangan perkembangan bahasa Besemah, sehingga bila kelak ada orang asing yang mempelajari bahasa Besemah dia tidak usah bingung menuliskan balik atau balek, karena kedua versi penulisan tersebut sama banyaknya dipergunakan dalam bentuk tulisan.
“Payuh kite jage base Besemah mangke dek lengit sandi jagat raye ni.” Sebab base Besemah ini ternyate dek temasuk dalam base ndek diperkirekah pacak betahan lame li abis penutur atau pemakainye atau dituturkah secare keliru laju becampur base lain (base Plimbang, Jawe, Jakarta dll) sehingge base Besemah jadi dek asli agi.
Terima kasih.
by Eko Wm Yudinovic on Sunday, September 13, 2009 at 9:55pm
“Riaye ini aku dek tau balik agi,” kate lanang itu.
Die ncungak ke langit tinggi, natap sedih sesedih-sedihe
“Aku ngitung jejak nek tetapak sandi dusun laman ke tanah rantau, entah ngape dek tebace agi jejak dengah,” rupuk lanang itu dalam-dalam.
Di bada die netap mak ini, sekali agi die ngulang ncungak ke langit tinggi, langit itu basah beghakap, datang aban itam dimikuti sesekali petir nyambar-nyambar.
Laju tughunlah ujan.
Lanang itu laju ngitung ujan, mbayangkah ngitung tahun-tahun umure nek la liwat. Dek teghase ayek mate nggenang di matenye sampai penginakannye kabur. “Aghi la ujung bulan, petang paling kedian puase,” die merenung.
Ai, dia tegagau. Pagi la aghi raye.
Anye die masih teduduk di kersinye nek bekepindingan. Masih berupuk tulah dek bemancean.
“Riaye ini aku dek tau balik agi,” katenye.
2009
Keterangan tulisan vokal dan konsonan dalam bahasa Besemah sesuai dengan fonemis dan fonetis.
Balik misalnya tidak dituliskan fonemisnya [balek], tetapi tetap ditulis sebagai [balik] karena jika dituliskan [balek] maka bunyi fonetisnya adalah [bal3k] fonem –e- diucapkan sebagai e pada ekor, bebek dsbnya.
Sedangkan fonem “i” mempunyai dua alofon yaitu[i] seperti “i” pada gigi, titi dsbnya dan alofon [I] yang seperti “i” pada banting [bant (antara i dan e) ng] atau pada pelafalan semir, balik, sedih dalam bahasa besemah yang mendekati bunyi [e].
Tughun misalnya, tidak dituliskan sebagai tughon, karena bunyi “ghun” secara fonetis dituliskan sebagai [RUn] , dengan U besar yang bunyinya seperti bunyi u di “ghun” pada kata tughun. Contoh lain: langsung [laŋsUŋ], berbunyi mendekati bunyi o tetapi tidak tepat jika dituliskan dengan huruf “o”.
Tulisan fonetis memang lebih mudah membuat pengertian yang sama, karena tulisan itu mencerminkan bunyi atau ucapan aslinya. Seseorang yang memakai ilmu bahasa, akan langsung tahu bagaimana membaca sebuah tulisan jika dituliskan secara fonetis walaupun ia berbahasa berbeda bahkan tidak paham sama sekali bahasa itu.
Jadi, misalnya ada seorang Jerman yang ingin membaca pengucapan atau artikulasi yang tepat dalam bahasa Besemah tuliskan saja secara fonemis (misal, langsung) dan fonetis [laŋsUŋ] maka dia bisa membacanya dengan benar: (langsuong) dengan bunyi u mendekati o.
Contoh lain:
Tanjung, gunung, balik, sedih, bersih, lengit dllnya, tidak dituliskan sebagai tanjong, gunong, balek, sedeh, berseh, lenget dllnya. Karena secara ilmu kebahasaan agak keliru.
Catatan: tanda fonetis di atas disederhanakan, karena dicari dalam simbol di komputer tidak ada untuk karakter tertentu. Mohon maaf bukan untuk menggurui tetapi tulisan itu adalah didasarkan semata-mata dengan pertimbangan perkembangan bahasa Besemah, sehingga bila kelak ada orang asing yang mempelajari bahasa Besemah dia tidak usah bingung menuliskan balik atau balek, karena kedua versi penulisan tersebut sama banyaknya dipergunakan dalam bentuk tulisan.
“Payuh kite jage base Besemah mangke dek lengit sandi jagat raye ni.” Sebab base Besemah ini ternyate dek temasuk dalam base ndek diperkirekah pacak betahan lame li abis penutur atau pemakainye atau dituturkah secare keliru laju becampur base lain (base Plimbang, Jawe, Jakarta dll) sehingge base Besemah jadi dek asli agi.
Terima kasih.
5.12.2010
2.20.2010
7.29.2009
1.05.2009
Za Kami Mulai Besar
Za kami mulai besar
kini lima bulan jalan enam di awal dua ribu sembilan
Za mulai tertawa keras
menangis kencang seperti berteriak
"Za lapar, Ummi," barangkali itu maksudnya.
Za kami mulai besar
mulai bisa bercerita dengan bahasanya
berekspresi dengan ceria
atau merengek seperti seumurannya
mudah-mudahan ya Za,
tidak kehilangan cinta
kini lima bulan jalan enam di awal dua ribu sembilan
Za mulai tertawa keras
menangis kencang seperti berteriak
"Za lapar, Ummi," barangkali itu maksudnya.
Za kami mulai besar
mulai bisa bercerita dengan bahasanya
berekspresi dengan ceria
atau merengek seperti seumurannya
mudah-mudahan ya Za,
tidak kehilangan cinta
Langgan:
Entri (Atom)


