aku pun menikahimu
040905 dan emas satu suku adalah maharnya
pada minggu pagi yang tenang
dalam naungan cinta-Nya
dalamtempat yang penuh keselamatan (Assalam)
abi dari: al fajriah yudinovic, zaizathifah mirajiah yudinovic, muhammad az zahwan yudinovic, & zelena humairah yudinovic
9.08.2005
6.13.2005
6.02.2005
6.01.2005
AlifBaTa-ku baru sebataz lafaz
alifbata-ku baru sebatas lafaz
akadku baru sejumput berkas
sepanjang hidup yang lebam
dalam senandung yang memar
aku ingin mencumbu-Mu dengan deras
sebanyak Kaubombardirkan cinta-Mu teramat jelas
namun alifbata-ku baru sebatas lafaz
dini hari yang membenturkan dinginnya pada tanah basah
menjumpai-Mu dalam tengadah
berurai isak tangis alangkah jadah
aku tersipu dalam doa jatuh
sebatas lafaz pula
subuh pun sajadah terentang
diikuti rintih begitu pedih
juga dalam pagi dhuha setelahnya
di tengah tekanan duniawi
mencari akad dan tekad pasti
sepanjang hari hingga petang yang menggumpalkan kembali
doa-doa lusuh
menjelang maghrib yang luluh
dan malam yang meruntuhkan cahaya siang
aku mengumpulkan tekad
dalam senandung yang tetap memar
ingin mencumbu-Mu dengan penuh
sebanyak Kaubanjirkan nikmat yang takterkalkulasi
namun alifbata-ku memang hanya sebatas lafaz
"sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku serta matiku hanya
untuk Allah Sang Raja Alam"
namun alifbata-ku baru sekadar lafaz
2005
akadku baru sejumput berkas
sepanjang hidup yang lebam
dalam senandung yang memar
aku ingin mencumbu-Mu dengan deras
sebanyak Kaubombardirkan cinta-Mu teramat jelas
namun alifbata-ku baru sebatas lafaz
dini hari yang membenturkan dinginnya pada tanah basah
menjumpai-Mu dalam tengadah
berurai isak tangis alangkah jadah
aku tersipu dalam doa jatuh
sebatas lafaz pula
subuh pun sajadah terentang
diikuti rintih begitu pedih
juga dalam pagi dhuha setelahnya
di tengah tekanan duniawi
mencari akad dan tekad pasti
sepanjang hari hingga petang yang menggumpalkan kembali
doa-doa lusuh
menjelang maghrib yang luluh
dan malam yang meruntuhkan cahaya siang
aku mengumpulkan tekad
dalam senandung yang tetap memar
ingin mencumbu-Mu dengan penuh
sebanyak Kaubanjirkan nikmat yang takterkalkulasi
namun alifbata-ku memang hanya sebatas lafaz
"sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku serta matiku hanya
untuk Allah Sang Raja Alam"
namun alifbata-ku baru sekadar lafaz
2005
5.31.2005
mencoba merangkai kepingan hati kembali
mencoba merangkai kepingan hati kembali yang cecer dalam tahun-tahun yang bangkang. lalu kau pun muncul dengan cerita yang menyuburkan kembali cinta. aku pun meneruskan pertanyaan lama tentang tema yang sama: ketika aku jatuh cinta mengapa mesti padamu? dan rindu yang berderak pasti hanyalah bisu.
ketika aku jatuh cinta mestinya bukan padamu, karena kata-kataku yang berarak pasti akan membeku. mencoba merangkaikan kembali kepingan yang cecer itu dalam cinta yang menerjemahkan detak hati dan rindu-rindu yang lebam dan lepas karena cemas.
mencoba merangkaikan kembali kepingan hati, aku pun pias dalam gemetar yang purba. merangkai musim yang lepas di penghujung usia.
2005
ketika aku jatuh cinta mestinya bukan padamu, karena kata-kataku yang berarak pasti akan membeku. mencoba merangkaikan kembali kepingan yang cecer itu dalam cinta yang menerjemahkan detak hati dan rindu-rindu yang lebam dan lepas karena cemas.
mencoba merangkaikan kembali kepingan hati, aku pun pias dalam gemetar yang purba. merangkai musim yang lepas di penghujung usia.
2005
5.16.2005
deadline
pagi ini dan segelas hemaviton dan secangkir kopi
kombinasi yang hebat bukan?
4 hari menuju deadline bayar tagihan
pusing dan cape rasanya
tapi rutinitas tetap harus berjalan
the show must go on
2005
siang harinya amat panas dan membuat mata terkatup buka
sepi di tengah kebisingan
2005
kombinasi yang hebat bukan?
4 hari menuju deadline bayar tagihan
pusing dan cape rasanya
tapi rutinitas tetap harus berjalan
the show must go on
2005
siang harinya amat panas dan membuat mata terkatup buka
sepi di tengah kebisingan
2005
5.13.2005
ekspresionisme bulan
melihat bulan meminang malam seusai memproduksi keserakahan. nafas cuma sengal dari tubuh yang penat
mengharubiru dalam konsumsi gagap bernama posmodernisme yang multitafsir. maka kita pun menghitung
purnama ke berapa kini yang pias. malam cuma gelap yang rutin, sedangkan peradaban adalah gelap yang lain.
ah, dapatkah kita membayangkan kanak-kanak masa depan menyerupa alien berwajah mutan dan tak bisa menafsir
kemanusiaan?
melihat bulan memancarkan segan cahayanya. kita cuma membombardirkan harapan dalam kecemasan yang terformulasi.
postulat-postulat menghamili bahasa mengaborsi frase yang invalid. dan kita pun mengalkulasi ulang aktiva fasiva moralitas
yang dikubur hidup-hidup dalam kitab-kitab sekolah. lalu, sanggupkah kita menerawang ke hari depan melihat kanak-kanaknya
adalah qorun, namruj, dan firaun yang menghias kitab suci dengan api sampai menjadi abu?
kita pun memproduksi kecemasan lebih dari tiga perempat hidup. membayangkan sisa usia yang dijejali kekhawatiran yang lain.
dengan kerja yang dikorosi keinginan-keinginan semu. dan peradaban pun telah menuai polutan-polutan.
lalu engkau di mana?
2005
mengharubiru dalam konsumsi gagap bernama posmodernisme yang multitafsir. maka kita pun menghitung
purnama ke berapa kini yang pias. malam cuma gelap yang rutin, sedangkan peradaban adalah gelap yang lain.
ah, dapatkah kita membayangkan kanak-kanak masa depan menyerupa alien berwajah mutan dan tak bisa menafsir
kemanusiaan?
melihat bulan memancarkan segan cahayanya. kita cuma membombardirkan harapan dalam kecemasan yang terformulasi.
postulat-postulat menghamili bahasa mengaborsi frase yang invalid. dan kita pun mengalkulasi ulang aktiva fasiva moralitas
yang dikubur hidup-hidup dalam kitab-kitab sekolah. lalu, sanggupkah kita menerawang ke hari depan melihat kanak-kanaknya
adalah qorun, namruj, dan firaun yang menghias kitab suci dengan api sampai menjadi abu?
kita pun memproduksi kecemasan lebih dari tiga perempat hidup. membayangkan sisa usia yang dijejali kekhawatiran yang lain.
dengan kerja yang dikorosi keinginan-keinginan semu. dan peradaban pun telah menuai polutan-polutan.
lalu engkau di mana?
2005
5.10.2005
berjalan
aku telah menjejaki banyak tempat di nusantara di luar sumsel. tetapi di sumsel ini aku bahkan belum pernah menyelesaikan kunjungan-kunjunganku terutama ke ibukota-ibukota kabupaten dan kota(madya) di sini. tadi pagi aku ke pangkalan balai pertama kali dengan sengaja ke sana. sebelumnya sempat sekadar lewat dalam perjalanan palembang-jambi-riau. satu persatu aku akan mengunjungi kota-kota dalam wilayah sumsel.
2005
2005
Ke Pangkalan Balai
Tadi pagi aku pergi ke Pangkalan Balai mengurus BPKB dan STNK motor. Masih dalam jam kerja pegawai negeri sipil. Aku sempat mampir di sebuah kantin di depan sebuah kantor dinas yang mengurusi lalu lintas dan jalan raya.
Di kantin tersebut banyak terlihat para pegawai dan petugas yang bergerombol sambil omong kosong tentang banyak hal, termasuk tentang seks dan sejenisnya. Juga ada yang dengan semangat membandingkan pemimpin kantor yang sekarang dengan yang dulu. Sepertinya pemimpin kantor yang dulu masih lebih baik dalam pandangan salah seorang pegawai karena sering royal dan menugaskan serta mengajak ke luar kota, tentu saja dengan imbalan yang lumayan. Sementara yang lainnya mengatakan yang sekarang lebih enak diajak kompromi.
Ah, klise sekali rasanya kalau kita cermati. Tetapi lihat saja berapa banyak uang negara dihambur-hamburkan hanya untuk menggaji orang-orang seperti itu.
Maka kita pun berhutang sejak bayi sampai tutup usia untuk sebuah ketidakjelasan birokrasi.
2005
Di kantin tersebut banyak terlihat para pegawai dan petugas yang bergerombol sambil omong kosong tentang banyak hal, termasuk tentang seks dan sejenisnya. Juga ada yang dengan semangat membandingkan pemimpin kantor yang sekarang dengan yang dulu. Sepertinya pemimpin kantor yang dulu masih lebih baik dalam pandangan salah seorang pegawai karena sering royal dan menugaskan serta mengajak ke luar kota, tentu saja dengan imbalan yang lumayan. Sementara yang lainnya mengatakan yang sekarang lebih enak diajak kompromi.
Ah, klise sekali rasanya kalau kita cermati. Tetapi lihat saja berapa banyak uang negara dihambur-hamburkan hanya untuk menggaji orang-orang seperti itu.
Maka kita pun berhutang sejak bayi sampai tutup usia untuk sebuah ketidakjelasan birokrasi.
2005
5.07.2005
malam ini listrik setengah hidup
malam ini tiba2 saja listrik menjadi aneh. meredup dan sampai titik cahaya. lalu tiba-tiba membesar dan terang kembali. berulang-ulang. teramat aneh karena di ruko sebelah tidak demikian.
kebangkitan?
Mungkinkah suatu ketika tahun 1908 itu, Dr. Soetomo membayangkan Indonesia yang sekarang? Pemikiran kebangkitan berbangsa, kebangkitan nasional, memang membuat Dr Soetomo juga Dr Wahidin Soedirohoesodo pernah mengangankan Indonesia yang berdaulat, berjaya, berpikir dan bertindak tidak atas kemauan orang atau bangsa lain. Jejak-jejak keinginan Soetomo dan Wahidin mengilhami atau mungkin memelopori pergerakan menuju kemerdekaan bangsa. Lalu dimulai perjalanan panjang menuju sebuah negeri bernama Indonesia. Lalu lahirlah sebuah negeri bernama Indonesia. Lalu sengsaralah rakyat sebuah negeri bernama Indonesia.
Sengsarakah? Sepintas tidak kok. Tidak mungkin sebuah negeri yang berlimpah kekayaannya sengsara. Tempat hiburan senantiasa dipenuhi gelak tawa yang membuat orang tidak pernah berani membayangkan negeri yang bernama Indonesia itu sengsara. Orang masih bisa berplesir beserta keluarga. Para petinggi negara dari eksekutif, legislatif, dan yudikatif tidak pernah merasakan kepenatan dan kepeningan. Media massa baik cetak, elektronik, maupun internet berkembang. Televisi dibanjiri iklan-iklan. Sinetron dan film bercerita tidak satupun yang berakhir dengan kesedihan. Semua happy ending. Dsbnya dsbnya...
Apakah negeri yang seperti itu sengsara?
Sengsara itu pada akhirnya adalah alasan barangkali. Meskipun banyak orang yang harus melakukan kejahatan karena sesuap nasi. Meskipun bertebaran kemiskinan baik moral maupun materi. Tetapi jika disebut sengsara? Apakah memang kesengsaraan itu ada?
Mungkin suatu ketika pada tahun-tahun awal abad 20 itu, Soetomo, Wahidin, dilanjutkan Soekarno-Hatta, Syahrir, Soeharto Adam Malik, Sultan HB IX, Habibie sampai SBY di awal abad 21 ini mempunyai pemikiran berbeda. Bahwa Indonesia masa depan adalah Indonesia yang aneh. Barangkali suatu saat akan menjadi negara bagian yang ke-51 atau 52 dari sebuah negara besar di belahan utara Amerika. Mungkin saja tidak. Bahkan mungkin saja tidak akan ada lagi Indonesia dalam bentuk apa saja.
Selamat jalan Sipadan-Ligitan! Selamat jalan (barangkali) Ambalat! Selamat Jalan In....
Wahhh, aku bermimpi buruk rupanya. Selamat memperingati hari pendidikan nasional dan hari kebangkitan nasional dengan cara yang terdidik dan terbangkit!
2005
Sengsarakah? Sepintas tidak kok. Tidak mungkin sebuah negeri yang berlimpah kekayaannya sengsara. Tempat hiburan senantiasa dipenuhi gelak tawa yang membuat orang tidak pernah berani membayangkan negeri yang bernama Indonesia itu sengsara. Orang masih bisa berplesir beserta keluarga. Para petinggi negara dari eksekutif, legislatif, dan yudikatif tidak pernah merasakan kepenatan dan kepeningan. Media massa baik cetak, elektronik, maupun internet berkembang. Televisi dibanjiri iklan-iklan. Sinetron dan film bercerita tidak satupun yang berakhir dengan kesedihan. Semua happy ending. Dsbnya dsbnya...
Apakah negeri yang seperti itu sengsara?
Sengsara itu pada akhirnya adalah alasan barangkali. Meskipun banyak orang yang harus melakukan kejahatan karena sesuap nasi. Meskipun bertebaran kemiskinan baik moral maupun materi. Tetapi jika disebut sengsara? Apakah memang kesengsaraan itu ada?
Mungkin suatu ketika pada tahun-tahun awal abad 20 itu, Soetomo, Wahidin, dilanjutkan Soekarno-Hatta, Syahrir, Soeharto Adam Malik, Sultan HB IX, Habibie sampai SBY di awal abad 21 ini mempunyai pemikiran berbeda. Bahwa Indonesia masa depan adalah Indonesia yang aneh. Barangkali suatu saat akan menjadi negara bagian yang ke-51 atau 52 dari sebuah negara besar di belahan utara Amerika. Mungkin saja tidak. Bahkan mungkin saja tidak akan ada lagi Indonesia dalam bentuk apa saja.
Selamat jalan Sipadan-Ligitan! Selamat jalan (barangkali) Ambalat! Selamat Jalan In....
Wahhh, aku bermimpi buruk rupanya. Selamat memperingati hari pendidikan nasional dan hari kebangkitan nasional dengan cara yang terdidik dan terbangkit!
2005
selamat sore
selamat sore, adik
kita cuma berbincang dalam maya
melepaskan angan tentang rupa
seperti apakah engkau
dan kau pula berpikir seperti apa aku
kita nikmati saja
barangkali nanti akan ada akhir
sebuah simpulan buat bersama
dan bagaimana
kita lihat saja
selamat sore, adik
kita cuma berbincang dalam maya
melepaskan angan tentang rupa
seperti apakah engkau
dan kau pula berpikir seperti apa aku
kita nikmati saja
barangkali nanti akan ada akhir
sebuah simpulan buat bersama
dan bagaimana
kita lihat saja
selamat sore, adik
5.06.2005
sepi
sepi naghan oi
entah ngape nian dek bedie jeme ye datang
saghi ni aghi jemaat pule
mungkin li titulah sangkah jeme dek bedie njebul
tambah ujan pule dikit
entah ngape nian dek bedie jeme ye datang
saghi ni aghi jemaat pule
mungkin li titulah sangkah jeme dek bedie njebul
tambah ujan pule dikit
5.05.2005
Sajak Lagi
lamur
lalu aku pun lamur memandangmu
sekadar angan
pada frase yang berbau
di ujung penghujan
sebagai persiapan bagi keharubiruan
2005
pada 1998
kita pernah mengukur hari
terjerembab dalam
dalam sekali
kau pun lelah barangkali
aku juga
di sekujur tahun yang bising
di sela gumam yang kering
pada derajat nol
di belantara luar ada ketukan hymne
sepertinya tentang maut yang dirindukan
kau pun teramat lelah barangkali
aku juga
biarkan saja musim itu melindas
dalam gulirannya yang rutin
kita harus tetap mengukir hari lagi
dalam lelah itu
2005
lalu aku pun lamur memandangmu
sekadar angan
pada frase yang berbau
di ujung penghujan
sebagai persiapan bagi keharubiruan
2005
pada 1998
kita pernah mengukur hari
terjerembab dalam
dalam sekali
kau pun lelah barangkali
aku juga
di sekujur tahun yang bising
di sela gumam yang kering
pada derajat nol
di belantara luar ada ketukan hymne
sepertinya tentang maut yang dirindukan
kau pun teramat lelah barangkali
aku juga
biarkan saja musim itu melindas
dalam gulirannya yang rutin
kita harus tetap mengukir hari lagi
dalam lelah itu
2005
5.02.2005
hari pendidikan nasional
hari pendidikan nasional di tengah kekuasaan yang aneh. pendidikan pun cuma jualan.
5.01.2005
melacak jejak
baru saja aku melacak jejak
cuma angin yang bahkan kehilangan bisiknya
kau tak ada
di tikungan tempat tanda-tanda kita dulu
terdesak jamur kapitalisme
jemu
lalu aku beranjak sambil meninggalkan jejak baru
bukan apa-apa
entah kelak aku kembali kemari
meskipun kau tetap tak ada
2005
cuma angin yang bahkan kehilangan bisiknya
kau tak ada
di tikungan tempat tanda-tanda kita dulu
terdesak jamur kapitalisme
jemu
lalu aku beranjak sambil meninggalkan jejak baru
bukan apa-apa
entah kelak aku kembali kemari
meskipun kau tetap tak ada
2005
4.30.2005
sakit perut euy
seusai makan empek-empek
kena cuka yang asam dan pedas
habis 14 biji tanpa terasa
dan berakhir dengan menwa (mencret wae,sorry:))
kena cuka yang asam dan pedas
habis 14 biji tanpa terasa
dan berakhir dengan menwa (mencret wae,sorry:))
4.29.2005
Jejaring
Jejaring namanya.
Kami cuma mencoba mempermasyarakatkan istilah Indonesia.
Konon dalam Bahasa Inggrisnya ia dilemakan sebagai web.
Meskipun world wide web sudah terpadankan sebagai jejaring jagad jembar masih terasa asing mencaplok jjj. sebagai pengganti www.
Jejaring awalnya sementara ini sekadar warnet dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Mungkin nanti ada perubahan atau perkembangan. Entahlah!
Kami cuma mencoba mempermasyarakatkan istilah Indonesia.
Konon dalam Bahasa Inggrisnya ia dilemakan sebagai web.
Meskipun world wide web sudah terpadankan sebagai jejaring jagad jembar masih terasa asing mencaplok jjj. sebagai pengganti www.
Jejaring awalnya sementara ini sekadar warnet dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Mungkin nanti ada perubahan atau perkembangan. Entahlah!
4.27.2005
segar sekali
segar sekali sore ini
padahal aku belum mandi
gak tahu deh kenafaaaahh
kok tiba-tiba saja segar
apa aku sudah mau mati ya?
padahal aku belum mandi
gak tahu deh kenafaaaahh
kok tiba-tiba saja segar
apa aku sudah mau mati ya?
dendam?
Entah mengapa. Aku begitu pendendam akhir-akhir ini. Sebetulnya bukan karena banyak sebab. Cuma satu yang membentuknya. Aku sebetulnya bukan seorang pendendam. Aku memang agak gampang tersinggung, tetapi aku juga bisa dengan cepat melupakan kemarahan jika si penyebab meminta maaf atau bahkan tidak perlu meminta maaf sama sekali. Sudah berulang-ulang pula kejadian yang menyakitkan kualami, tetapi dengan cepat atau perlahan aku bisa memakluminya.
Tetapi ada sebuah kejadian yang membuat aku demikian marah. Teramat marah. Aku ceritakan intinya saja. Aku disepelekan karena sebuah alasan yang sama sekali tidak masuk akal. Tentang sebuah hubungan antara lelaki dan perempuan. Sebetulnya aku lebih senang misalnya orang menerima atau tidak sama sekali. Langsung saja katakan: iya atau tidak. Tidak mengambang dan plinplan. Aku tidak mau menjelaskan detailnya. Biarlah aku simpan sendiri. Pokoknya sampai sekarang entah mengapa untuk yang satu itu itu aku teramat sakit hati. Dan celakanya sakit hati itu tidak bisa kulupakan dengan cepat. Semakin ingin kulupakan semakin bertumpuk sakit hati itu. Sebetulnya yang lebih tepat bukan dendam sih. Sakit hati barangkali lebih tepat, tetapi kayaknya nyerempet-nyerempet ke dendam deh. Padahal sebelum ini hubungan yang terjadi meskipun tidak berhasil tidak pernah menyisakan sakit hati seperti itu. Naudzubillahi min zalik! Celakanya itu masih berlangsung sampai aku menulis ini, beberapa minggu atau bulan setelah kejadian itu.
Aku berlindung kepada-Mu Ya Allah dari setan yang menguasai dendam ini!
Kota kito, 2005
Tetapi ada sebuah kejadian yang membuat aku demikian marah. Teramat marah. Aku ceritakan intinya saja. Aku disepelekan karena sebuah alasan yang sama sekali tidak masuk akal. Tentang sebuah hubungan antara lelaki dan perempuan. Sebetulnya aku lebih senang misalnya orang menerima atau tidak sama sekali. Langsung saja katakan: iya atau tidak. Tidak mengambang dan plinplan. Aku tidak mau menjelaskan detailnya. Biarlah aku simpan sendiri. Pokoknya sampai sekarang entah mengapa untuk yang satu itu itu aku teramat sakit hati. Dan celakanya sakit hati itu tidak bisa kulupakan dengan cepat. Semakin ingin kulupakan semakin bertumpuk sakit hati itu. Sebetulnya yang lebih tepat bukan dendam sih. Sakit hati barangkali lebih tepat, tetapi kayaknya nyerempet-nyerempet ke dendam deh. Padahal sebelum ini hubungan yang terjadi meskipun tidak berhasil tidak pernah menyisakan sakit hati seperti itu. Naudzubillahi min zalik! Celakanya itu masih berlangsung sampai aku menulis ini, beberapa minggu atau bulan setelah kejadian itu.
Aku berlindung kepada-Mu Ya Allah dari setan yang menguasai dendam ini!
Kota kito, 2005
hari ini masih
hari ini masih
terdeteksi seperti kemarin
bergulat pada korosi
dan polutan yang memenuhi
haridepan kota
juga aku
bersikukuh pada dendam
yang subur
kota musi, 2005
terdeteksi seperti kemarin
bergulat pada korosi
dan polutan yang memenuhi
haridepan kota
juga aku
bersikukuh pada dendam
yang subur
kota musi, 2005
4.26.2005
Sampah Peradaban
Sampah peradaban itu bernama demokrasi.
Terserah jika para pendukung demokrasi tersinggung.
Terserah jika para pendukung demokrasi tersinggung.
4.24.2005
Tentang Seorang Teman
Temanku yang seorang ini adalah sedikit di antara orang yang kompleks. Bukan karena berkepribadian ganda, tetapi berkemampuan ganda. Sejak Taman Kanak-kanak sampai masa berkuliah ia sangat menonjol di segala bidang yang digelutinya. Ia mahir dalam permainan olahraga sepakbola, basket, volly, sampai renang dan tenis. Dalam banyak cabang itu ia bahkan menjadi kapten tim dan play maker. Terakhir ia sempat ikut seorang teman belajar bermain golf, dengan cepat ia diketegorikan mahir untuk kalangan pemula. Ia sering pula ke bermain billiar dan jarang bertemu tandingan di antara sesama amatir. Ia juga jago bermain gitar dan piano serta menyanyi serta mahir menggambar baik manual atau menggunakan komputer. Ia senang berpuisi dan menonton teater dan terlibat sesekali dalam pementasan. Ia berkuliah di jurusan yang bergengsi di perguruan tinggi yang termasuk terbaik di negeri ini. Indeks prestasi kumulatifnya tinggi apalagi untuk orang yang beraktivitas tinggi seperti ia. Ia mahir berdebat dalam bahasa Indonesia, daerah, atau asing. Ia menguasai banyak bahasa daerah karena pergaulannya tidak pandang bulu dan kegemarannya bepergian ke banyak tempat. Ia cakap dalam tiga bahasa asing secara aktif dan lebih banyak lagi yang pasif. Ia selalu memanfaatkan hari libur panjang dengan pergi ke banyak tempat sendirian. Nyaris seluruh nusantara dijelajahinya. Terkadang ia menginap di penginapan sederhana acap pula mampir ke tempat temannya. Teman-temannya banyak diperolehnya melalui chat room di MiRc atau YM. Ia tidak pernah bermain-main mencari teman. Ia chat untuk serius dan memperbanyak sahabat.
Temanku yang luar biasa ini terbiasa berpikiran jernih dalam menyelesaikan masalah dengan apa pun atau siapa pun. Tetapi pada saat tertentu ia juga bukan seorang yang diam saja jika harus menyelesaikan sesuatu dengan kekerasan. Ia mahir berkelahi meskipun tidak pernah memasuki satu pun cabang bela diri. Pada suatu saat adakalanya orang harus diyakinkan dengan kekerasan, ia pernah berkata.
Tetapi ia juga seorang yang sangat lembut hati yang gampang terharu jika melihat musibah. Ia penyayang anak kecil. Ia pencinta binatang. Ia seorang yang teramat rendah hati untuk segala keluarbiasaannya itu.
Malam-malam sepi ia sering kulihat secara tidak sengaja bersujud panjang kepada Khaliknya. Dalam solat malam yang khusyu ia tenggelam dalam interaksi dengan sang Pencipta. Ia memang seorang yang taat meskipun sepintas orang tidak akan melihatnya seperti itu. Ia sering membaca ayat-ayat suci Alquran sampai subuh menjelang.
Karena penampilan luarnya teramat sederhana--sering ia hanya memakai kaos oblong dan sendal jepit ke mana-mana-- ia acapkali dipandang sebelah mata oleh orang. Wajahnya biasa saja, dan sepertinya wanita tidak tertarik kepada penampilan yang seperti itu. Akan tetapi, wanita yang mengenalnya dengan dekat akan sulit mengatakan tidak tertarik kepadanya. Tutur bahasanya lembut tetapi tegas. Ia susah kompromi kepada kemungkaran meskipun hal tersebut akan merugikan posisinya. Dan kelak terbukti ketika ia mendapat sebuah jabatan strategis di sebuah perusahaan swasta. Ketika para petinggi perusahaan menyatakan akan merampingkan jumlah karyawan di perusahaannya, ia mengatakan bahwa perusahaan akan efektif jika para petinggi perusahaanlah yang harus dikurangi. Gaji dua orang petinggi perusahaan ternyata seharga gaji seratusan karyawan kecil. Maka dengan ia mengatakan bahwa yang layak dikeluarkan adalah dua orang petinggi bukan ratusan karyawan. Ketika itu ada seorang yang nyeletuk dengan mengatakan mengapa tidak ia saja yang mundur, dengan serta merta ia mengatakan bahwa ia sanggup mundur kalau memang dianggap tidak efektif. Ia akhirnya memang memilih mundur bukan karena ia tidak efektif, tetapi ternyata ia kalah suara dan ratusan karyawan yang menjadi tanggung jawabnya ternyata memang dirumahkan.
Tetapi selepas dari itu ia justru merasa bebas. Banyak tawaran yang lebih menarik untuknya. Tetapi ia sudah memutuskan bekerja sendiri dulu. Dengan kepandaiannya yang beragam ia pernah mengajar les piano, menjadi guru privat di rumah seorang kaya yang anak didiknya yang gadis itu pernah menggodanya. Ia juga pernah menjadi satpam untuk mencoba melihat kehidupan satpam seperti apa. Menjadi pedagang kaki lima yang digusur, menjadi sopir pribadi maupun sopir angkutan umum juga pernah dialaminya. Menjadi administrator jaringan sebuah perusahaan TI, konsultan keuangan, editor di sebuah penerbit, menulis artikel dan buku, menerbitkan buku terjemahan, menjadi pemandu wisata, menjadi wartawan, dosen, dan sebagainya juga pernah dilakoninya. Tetapi tidak ada yang lebih dari satu tahun. Ada yang cuma beberapa bulan, bahkan ada yang cuma beberapa hari, seperti menjadi guru privat pelajaran untuk orang kaya tadi. Semua penghasilannya memuaskan dan mencukupi. Semua terkadang ditabung sebagian untuk ongkos perjalanan sebagian lagi disumbangkannya ke banyak tempat memerlukan.
Ia juga terkadang jadi sukarelawan di posko-posko bencana atas nama sendiri, karenanya ia tidak pernah tercatat dalam pandangan orang. Ia juga pernah menjadi pelaut selama tiga bulan dan masuk ke sana atas ajakan seorang temannya. Di kapal ia banyak melihat kemungkaran dan ia sering berkelahi karena tidak mau dipaksa mabuk-mabukan dan main perempuan.
Semua itu tidak dijalaninya di satu kota. Ia hinggap di banyak kota bahkan di beberapa negara, sambil menantikan saat yang tepat untuk mengakhirinya.
Akhirnya ketika ia merasa sudah cukup berjalan. Ia kembali ke kampung halamannya. Meminta maaf kepada ibu dan ayahnya yang sudah tua dan senantiasa mencemaskannya. Ia memohon ampun kepada orang tuanya karena selama berkuliah ia sangat jarang pulang menjenguk sama sekali orang tuanya. Bahkan seusai berkuliah ia tidak pernah pulang. Sudah belasan tahun ia berkelana. Meskipun ia selalu memberi tahu orang tuanya di mana dia berada. Dan barulah ia memikirkan usianya yang sudah menjalani kepala tiga.
Ia lalu mengikuti saran orang tuanya untuk ikut test pegawai negeri. Mungkin ini kesempatan tes terakhir baginya. Ia mengikuti saran tersebut meskipun tidak pernah ada dalam hatinya keinginan untuk menjadi PNS. Ia kali ini berkompromi dengan keinginan orang tuanya untuk menebus rasa bersalahnya selama ini. Tetapi, pada saat tes itulah ia menemukan keajaiban negerinya. Justru ketika ia mengikuti tes yang digembargemborkan bersih bebas dari KKN ia tidak lulus. Bayangkan seorang yang lulus UMPTN di perguruan terbaik dan selesai dengan predikat cum laude dan selesai hanya dalam 3 tahun tanpa semester pendek (dulu memang tidak ada semester pendek:)), punya kemampuan di atas rata-rata, dengan nilai rapot dari SD tidak pernah di bawah 7, dan tidak pernah tidak berhasil tes sebelumnya baik dalam pendidikan atau mencari pekerjaan atau dalam pekerjaan itu sendiri ternyata tidak lulus tes calon pegawai negeri sipil! Padahal soal-soal yang disajikan dalam tes tersebut bukanlah soal-soal yang rumit baginya. Maka keajaiban itu telah dimulai baginya. Barulah ia melihat negerinya yang sesungguhnya melalui kampung halamannya bahwa yang diperlukan negerinya untuk melayani masyarakat bukanlah orang-orang yang mampu dan pintar.
Maka ia teringat Ronggowarsito. Jadilah orang gila di negeri yang gila.
Tetapi ia terlalu cerdas untuk menjadi gila. Otaknya yang brilian itu segera dengan cepat menemukan ide baru. Ia mulai mempelajari pertanian yang selama ini telah turut membantu pendidikannya dan adik-adiknya melalui orang tuanya. Ia membuat pertanian dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang kampungnya. Ia membeli lahan yang cukup dengan uang tabungannya dan menanam sayur-sayuran yang cocok dengan tanah kampungnya yang dikelola secara modern dengan mengundang seorang temannya yang pakar pertanian. Dan memasarkan hasilnya melalui jaringan yang sudah dibangunnya selama ini. Hanya dalam hitungan bulan hasilnya terlihat. Produksinya yang berlimpah dan hasilnya yang tidak mengecewakan membuat banyak orang tertarik dan latah ikut memproduksi. Tetapi ia memang seorang yang baik hati. Semua ilmunya dibagikan kepada tetangga dan masyarakatnya. Produksi massal itu menjadi perhatian pemerintah daerah pula akhirnya. Dan bantuan modal untuk para petani mengucur. Lalu mulailah kegilaan lain muncul. Seorang teman dan pemerintah daerah memotong jalur distribusinya dengan mencatut namanya. Tanamannya tiba-tiba banyak yang mati. Hasilnya tidak ada. Ia sempat merugi.
Akhirnya ia mengetahui penyebabnya. Ia hanya tersenyum getir dan dalam hati segera memaafkan perbuatan temannya itu. Pikirannya yang jernih itu telah melatihnya dengan baik. Sesaat setelah produksi sayur-sayurannya berjalan ia telah mempunyai rencana yang lain. Ia telah bekerja sama dengan temannya yang lain lagi. Dan pada saat itu ia juga telah menemukan pendampingnya, seorang teman masa kecilnya yang juga telah tinggal di mana-mana yang sekarang menjadi dokter. Mereka menikah. Mereka ternyata pasangan yang hebat. Masing-masing berpikir kreatif. Dengan jaringan mereka yang luas karena pergaulan panjang selama ini mereka segera saja telah punya usaha-usaha lain yang banyak jenisnya. Mereka mendirikan sebuah klinik kesehatan, juga telah mendirikan lembaga bimbingan dan bantuan untuk hukum dan keadilan. Mereka juga mendirikan tempat-tempat kursus bahasa asing dan komputer. Dengan inovasi yang beragam orang jadi kesulitan menjegal mereka. Atau mau latah mengekor usaha mereka.
Temanku yang hebat itu tetap saja seperti dulu meskipun untuk ukuran kampungnya bahkan mungkin propinsinya sudah menjadi konglomerat. Lalu usahanya juga berkembang di ibukota. Dia terakhir menjadi menjadi pemegang saham dalam sebuah penerbitan di Jakarta. Menjadi mitra untuk sebuah usaha pembibitan jagung di Bogor. Menjalin kerja sama dengan seorang rekannya di Makassar dan membuka usaha pengawetan ikan dan rumah makan Makassar di Papua. Membuka usaha tambak udang di Lampung yang dikelola adiknya. Tetapi ia tetap saja sederhana dan tidak dikenal orang, karena ia mewanti-wanti untuk tidak terlalu membesar-besarkan kehidupannya. Ia masih saja memakai kaos oblong sederhana dan bersandal meskipun sekarang sandalnya sandal sepatu. Ia masih sering berjalan kaki, meskipun ia punya dua mobil dan sepeda motor. Pagi-pagi seusai subuh dan mengaji satu dua surat Alquran, ia berolahraga bersepeda, kadang-kadang jogging. Sering pula sesekali bermain tenis dan badminton dengan para pemuda tetangganya. Dan ia masih kuat bermain volly. Sesekali masih bersepakbola dan berenang di kolam renang kecil di belakang rumahnya.
Di waktu senggang yang sedikit sesekali ia bermusik dan mengajari dua orang anaknya bermusik dan pelajaran sekolah. Ia juga mengajarkan langsung pelajaran agama dan mengaji kepada anak-anaknya selain juga memanggil guru mengaji ke rumahnya. Dan ia pun sudah berhaji.
Hebatnya lagi, ia tetap meluangkan waktunya untuk menjalin silaturahmi dengan teman-temannya di segala penjuru baik melalui sms, chatting, atau menelepon. Bahkan jika ia menuju ke sebuah kota yang terdapat teman-temannya ia sempatkan untuk mampir. Termasuk ke tempatku, meskipun ia juga bilang aku termasuk orang yang agak susah dideteksi keberadaanya.
Temanku yang hebat itu sekarang sudah berbahagia. Meskipun katanya kebahagiaan itu tidak bisa dilihat kasat mata. Tetapi aku berdoa, agar orang baik seperti dia tetap merasa bahagia di dunia maupun akhirat kelak.
Temanku yang luar biasa ini terbiasa berpikiran jernih dalam menyelesaikan masalah dengan apa pun atau siapa pun. Tetapi pada saat tertentu ia juga bukan seorang yang diam saja jika harus menyelesaikan sesuatu dengan kekerasan. Ia mahir berkelahi meskipun tidak pernah memasuki satu pun cabang bela diri. Pada suatu saat adakalanya orang harus diyakinkan dengan kekerasan, ia pernah berkata.
Tetapi ia juga seorang yang sangat lembut hati yang gampang terharu jika melihat musibah. Ia penyayang anak kecil. Ia pencinta binatang. Ia seorang yang teramat rendah hati untuk segala keluarbiasaannya itu.
Malam-malam sepi ia sering kulihat secara tidak sengaja bersujud panjang kepada Khaliknya. Dalam solat malam yang khusyu ia tenggelam dalam interaksi dengan sang Pencipta. Ia memang seorang yang taat meskipun sepintas orang tidak akan melihatnya seperti itu. Ia sering membaca ayat-ayat suci Alquran sampai subuh menjelang.
Karena penampilan luarnya teramat sederhana--sering ia hanya memakai kaos oblong dan sendal jepit ke mana-mana-- ia acapkali dipandang sebelah mata oleh orang. Wajahnya biasa saja, dan sepertinya wanita tidak tertarik kepada penampilan yang seperti itu. Akan tetapi, wanita yang mengenalnya dengan dekat akan sulit mengatakan tidak tertarik kepadanya. Tutur bahasanya lembut tetapi tegas. Ia susah kompromi kepada kemungkaran meskipun hal tersebut akan merugikan posisinya. Dan kelak terbukti ketika ia mendapat sebuah jabatan strategis di sebuah perusahaan swasta. Ketika para petinggi perusahaan menyatakan akan merampingkan jumlah karyawan di perusahaannya, ia mengatakan bahwa perusahaan akan efektif jika para petinggi perusahaanlah yang harus dikurangi. Gaji dua orang petinggi perusahaan ternyata seharga gaji seratusan karyawan kecil. Maka dengan ia mengatakan bahwa yang layak dikeluarkan adalah dua orang petinggi bukan ratusan karyawan. Ketika itu ada seorang yang nyeletuk dengan mengatakan mengapa tidak ia saja yang mundur, dengan serta merta ia mengatakan bahwa ia sanggup mundur kalau memang dianggap tidak efektif. Ia akhirnya memang memilih mundur bukan karena ia tidak efektif, tetapi ternyata ia kalah suara dan ratusan karyawan yang menjadi tanggung jawabnya ternyata memang dirumahkan.
Tetapi selepas dari itu ia justru merasa bebas. Banyak tawaran yang lebih menarik untuknya. Tetapi ia sudah memutuskan bekerja sendiri dulu. Dengan kepandaiannya yang beragam ia pernah mengajar les piano, menjadi guru privat di rumah seorang kaya yang anak didiknya yang gadis itu pernah menggodanya. Ia juga pernah menjadi satpam untuk mencoba melihat kehidupan satpam seperti apa. Menjadi pedagang kaki lima yang digusur, menjadi sopir pribadi maupun sopir angkutan umum juga pernah dialaminya. Menjadi administrator jaringan sebuah perusahaan TI, konsultan keuangan, editor di sebuah penerbit, menulis artikel dan buku, menerbitkan buku terjemahan, menjadi pemandu wisata, menjadi wartawan, dosen, dan sebagainya juga pernah dilakoninya. Tetapi tidak ada yang lebih dari satu tahun. Ada yang cuma beberapa bulan, bahkan ada yang cuma beberapa hari, seperti menjadi guru privat pelajaran untuk orang kaya tadi. Semua penghasilannya memuaskan dan mencukupi. Semua terkadang ditabung sebagian untuk ongkos perjalanan sebagian lagi disumbangkannya ke banyak tempat memerlukan.
Ia juga terkadang jadi sukarelawan di posko-posko bencana atas nama sendiri, karenanya ia tidak pernah tercatat dalam pandangan orang. Ia juga pernah menjadi pelaut selama tiga bulan dan masuk ke sana atas ajakan seorang temannya. Di kapal ia banyak melihat kemungkaran dan ia sering berkelahi karena tidak mau dipaksa mabuk-mabukan dan main perempuan.
Semua itu tidak dijalaninya di satu kota. Ia hinggap di banyak kota bahkan di beberapa negara, sambil menantikan saat yang tepat untuk mengakhirinya.
Akhirnya ketika ia merasa sudah cukup berjalan. Ia kembali ke kampung halamannya. Meminta maaf kepada ibu dan ayahnya yang sudah tua dan senantiasa mencemaskannya. Ia memohon ampun kepada orang tuanya karena selama berkuliah ia sangat jarang pulang menjenguk sama sekali orang tuanya. Bahkan seusai berkuliah ia tidak pernah pulang. Sudah belasan tahun ia berkelana. Meskipun ia selalu memberi tahu orang tuanya di mana dia berada. Dan barulah ia memikirkan usianya yang sudah menjalani kepala tiga.
Ia lalu mengikuti saran orang tuanya untuk ikut test pegawai negeri. Mungkin ini kesempatan tes terakhir baginya. Ia mengikuti saran tersebut meskipun tidak pernah ada dalam hatinya keinginan untuk menjadi PNS. Ia kali ini berkompromi dengan keinginan orang tuanya untuk menebus rasa bersalahnya selama ini. Tetapi, pada saat tes itulah ia menemukan keajaiban negerinya. Justru ketika ia mengikuti tes yang digembargemborkan bersih bebas dari KKN ia tidak lulus. Bayangkan seorang yang lulus UMPTN di perguruan terbaik dan selesai dengan predikat cum laude dan selesai hanya dalam 3 tahun tanpa semester pendek (dulu memang tidak ada semester pendek:)), punya kemampuan di atas rata-rata, dengan nilai rapot dari SD tidak pernah di bawah 7, dan tidak pernah tidak berhasil tes sebelumnya baik dalam pendidikan atau mencari pekerjaan atau dalam pekerjaan itu sendiri ternyata tidak lulus tes calon pegawai negeri sipil! Padahal soal-soal yang disajikan dalam tes tersebut bukanlah soal-soal yang rumit baginya. Maka keajaiban itu telah dimulai baginya. Barulah ia melihat negerinya yang sesungguhnya melalui kampung halamannya bahwa yang diperlukan negerinya untuk melayani masyarakat bukanlah orang-orang yang mampu dan pintar.
Maka ia teringat Ronggowarsito. Jadilah orang gila di negeri yang gila.
Tetapi ia terlalu cerdas untuk menjadi gila. Otaknya yang brilian itu segera dengan cepat menemukan ide baru. Ia mulai mempelajari pertanian yang selama ini telah turut membantu pendidikannya dan adik-adiknya melalui orang tuanya. Ia membuat pertanian dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang kampungnya. Ia membeli lahan yang cukup dengan uang tabungannya dan menanam sayur-sayuran yang cocok dengan tanah kampungnya yang dikelola secara modern dengan mengundang seorang temannya yang pakar pertanian. Dan memasarkan hasilnya melalui jaringan yang sudah dibangunnya selama ini. Hanya dalam hitungan bulan hasilnya terlihat. Produksinya yang berlimpah dan hasilnya yang tidak mengecewakan membuat banyak orang tertarik dan latah ikut memproduksi. Tetapi ia memang seorang yang baik hati. Semua ilmunya dibagikan kepada tetangga dan masyarakatnya. Produksi massal itu menjadi perhatian pemerintah daerah pula akhirnya. Dan bantuan modal untuk para petani mengucur. Lalu mulailah kegilaan lain muncul. Seorang teman dan pemerintah daerah memotong jalur distribusinya dengan mencatut namanya. Tanamannya tiba-tiba banyak yang mati. Hasilnya tidak ada. Ia sempat merugi.
Akhirnya ia mengetahui penyebabnya. Ia hanya tersenyum getir dan dalam hati segera memaafkan perbuatan temannya itu. Pikirannya yang jernih itu telah melatihnya dengan baik. Sesaat setelah produksi sayur-sayurannya berjalan ia telah mempunyai rencana yang lain. Ia telah bekerja sama dengan temannya yang lain lagi. Dan pada saat itu ia juga telah menemukan pendampingnya, seorang teman masa kecilnya yang juga telah tinggal di mana-mana yang sekarang menjadi dokter. Mereka menikah. Mereka ternyata pasangan yang hebat. Masing-masing berpikir kreatif. Dengan jaringan mereka yang luas karena pergaulan panjang selama ini mereka segera saja telah punya usaha-usaha lain yang banyak jenisnya. Mereka mendirikan sebuah klinik kesehatan, juga telah mendirikan lembaga bimbingan dan bantuan untuk hukum dan keadilan. Mereka juga mendirikan tempat-tempat kursus bahasa asing dan komputer. Dengan inovasi yang beragam orang jadi kesulitan menjegal mereka. Atau mau latah mengekor usaha mereka.
Temanku yang hebat itu tetap saja seperti dulu meskipun untuk ukuran kampungnya bahkan mungkin propinsinya sudah menjadi konglomerat. Lalu usahanya juga berkembang di ibukota. Dia terakhir menjadi menjadi pemegang saham dalam sebuah penerbitan di Jakarta. Menjadi mitra untuk sebuah usaha pembibitan jagung di Bogor. Menjalin kerja sama dengan seorang rekannya di Makassar dan membuka usaha pengawetan ikan dan rumah makan Makassar di Papua. Membuka usaha tambak udang di Lampung yang dikelola adiknya. Tetapi ia tetap saja sederhana dan tidak dikenal orang, karena ia mewanti-wanti untuk tidak terlalu membesar-besarkan kehidupannya. Ia masih saja memakai kaos oblong sederhana dan bersandal meskipun sekarang sandalnya sandal sepatu. Ia masih sering berjalan kaki, meskipun ia punya dua mobil dan sepeda motor. Pagi-pagi seusai subuh dan mengaji satu dua surat Alquran, ia berolahraga bersepeda, kadang-kadang jogging. Sering pula sesekali bermain tenis dan badminton dengan para pemuda tetangganya. Dan ia masih kuat bermain volly. Sesekali masih bersepakbola dan berenang di kolam renang kecil di belakang rumahnya.
Di waktu senggang yang sedikit sesekali ia bermusik dan mengajari dua orang anaknya bermusik dan pelajaran sekolah. Ia juga mengajarkan langsung pelajaran agama dan mengaji kepada anak-anaknya selain juga memanggil guru mengaji ke rumahnya. Dan ia pun sudah berhaji.
Hebatnya lagi, ia tetap meluangkan waktunya untuk menjalin silaturahmi dengan teman-temannya di segala penjuru baik melalui sms, chatting, atau menelepon. Bahkan jika ia menuju ke sebuah kota yang terdapat teman-temannya ia sempatkan untuk mampir. Termasuk ke tempatku, meskipun ia juga bilang aku termasuk orang yang agak susah dideteksi keberadaanya.
Temanku yang hebat itu sekarang sudah berbahagia. Meskipun katanya kebahagiaan itu tidak bisa dilihat kasat mata. Tetapi aku berdoa, agar orang baik seperti dia tetap merasa bahagia di dunia maupun akhirat kelak.
4.22.2005
Geram
dalam geram
begitu menggunung
terjerat kumpulan amarah
menyatu dalam hati yang terpaksa lepas
diam-diam
ada perjalanan
yang memuat harum kamboja
di batas yang tak kenal musim
selamat,
sumpah serapah itu telah kutumpahkan padamu
2005
begitu menggunung
terjerat kumpulan amarah
menyatu dalam hati yang terpaksa lepas
diam-diam
ada perjalanan
yang memuat harum kamboja
di batas yang tak kenal musim
selamat,
sumpah serapah itu telah kutumpahkan padamu
2005
4.15.2005
Tidak Punya Niat Baik kepada Indonesia II
Joe Milioner Indonesia. Barang jiplakan satu lagi yang dijual dan ternyata laris di negeri ini. Ada protes, ada yang gundah. Ada yang berteriak demi demokrasi tidak boleh ada protes. Demi demokrasi tayangan itu harus terus jalan. Gegabah! Kalau mau demokrasi-demokrasian tentu saja tayangan itu harus digusur. Hitung-hitungan kasar saja. Lebih banyak mana yang risih dan menolak atau lebih banyak mana yang mendukung.
Dinar dan kawan-kawan yang menjadi peserta ternyata tidak merasa dilecehkan. Artinya apa beda mereka dengan penghuni Saritem di Bandung, Kramtung di Jakarta, atau Dolly di Surabaya? Dinar cuma terlihat lebih terhormat. Kalau ditanyakan moralitas apalagi nilai agama kepada mereka, mereka akan sewot. Dengan berdalih masih ada tayangan TV yang lebih "sadis" dari mereka yang tidak dipermasalahkan. Bahkan ia mengakui pernah disorot sebuah stasiun TV untuk sebuah acara yang mengharuskannya cuma memakai bikini super irit!
Jadi, dalam pandangan Dinar --mungkin juga pandangan para penghuni lokalisasi seperti Saritem, Sarkem, dll itu-- yang penting adalah fulus yang mengalir lancar serta kenikmatan berkencan dengan lelaki ganteng dan kaya. Jangan bicara soal pelecehan dengan mereka. Diremas, diraba, dihajar, dibegitukan di depan jutaan pemirsa tidak menjadi masalah bagi Dinar dan kawan-kawan.
Bahkan katanya kasus mereka seperti kasus sebuah film yang diprotes habis dulu. Semakin ditentang semakin laris. Nah lho!
Jadi, Dinar dan kawan-kawan, terlebih lagi para produser program Joe Milioner (sengaja dengan satu huruf l) dan seluruh pendukungnya terbukti tidak punya niat baik kepada Indonesia.
Gimana ya kalo mereka dikasih hadiah satu trilyun rupiah untuk berakting dan beradegan panas dengan kerbau yang sesungguhnya tanpa pemeran pengganti? Kayaknya susah deh mereka menolak!!
Hidup Kerbau Milioner!!!
Dinar dan kawan-kawan yang menjadi peserta ternyata tidak merasa dilecehkan. Artinya apa beda mereka dengan penghuni Saritem di Bandung, Kramtung di Jakarta, atau Dolly di Surabaya? Dinar cuma terlihat lebih terhormat. Kalau ditanyakan moralitas apalagi nilai agama kepada mereka, mereka akan sewot. Dengan berdalih masih ada tayangan TV yang lebih "sadis" dari mereka yang tidak dipermasalahkan. Bahkan ia mengakui pernah disorot sebuah stasiun TV untuk sebuah acara yang mengharuskannya cuma memakai bikini super irit!
Jadi, dalam pandangan Dinar --mungkin juga pandangan para penghuni lokalisasi seperti Saritem, Sarkem, dll itu-- yang penting adalah fulus yang mengalir lancar serta kenikmatan berkencan dengan lelaki ganteng dan kaya. Jangan bicara soal pelecehan dengan mereka. Diremas, diraba, dihajar, dibegitukan di depan jutaan pemirsa tidak menjadi masalah bagi Dinar dan kawan-kawan.
Bahkan katanya kasus mereka seperti kasus sebuah film yang diprotes habis dulu. Semakin ditentang semakin laris. Nah lho!
Jadi, Dinar dan kawan-kawan, terlebih lagi para produser program Joe Milioner (sengaja dengan satu huruf l) dan seluruh pendukungnya terbukti tidak punya niat baik kepada Indonesia.
Gimana ya kalo mereka dikasih hadiah satu trilyun rupiah untuk berakting dan beradegan panas dengan kerbau yang sesungguhnya tanpa pemeran pengganti? Kayaknya susah deh mereka menolak!!
Hidup Kerbau Milioner!!!
4.14.2005
Sajak Kamis
Musi
sungai dalam sengau yang parau
mencari jawaban
mengapa jejaknya harus dimanipulasi?
dalam dangkalan yang memakan luasnya
lalu daratan itu dinamakan benteng
menyerupa dermaga yang memenuhi nyaris seperempat tepi
musimu, musiku, musi kita
melenturkan ia dalam coklat dan pekat
membersihkan lumpur dalam lumpur
sambil berteriak dalam luka sejarah
di manakah balaputradewa?
2005
Jangan Kali Ini
Jangan kali ini
apakah ceritaku?
ibu, aku lelah teramat sangat
menapaki lelikuan jalan
barangkali engkau pernah menempuhnya
menegadah menatap langit aku larut
bersama lafaz
alif ba taku tak sebatas rapal
menuju tuhan dalam t kecil
jauh dalam keinginan yang terkurung
ingin berjumpa dengan-Nya
2005
Menuju-Mu
aku berjalan menuju Allah
berlari menuju Allah
mencari Allah
Allah
aku larut dalam sembelit cuaca tergerogoh diam-diam pada keputusan ekspresi hari yang ditasbihkan
pada regulasi waktu
maka cuma sebatas inilah aku sanggup
melalui puisi
bukan rapal suci
2005
sungai dalam sengau yang parau
mencari jawaban
mengapa jejaknya harus dimanipulasi?
dalam dangkalan yang memakan luasnya
lalu daratan itu dinamakan benteng
menyerupa dermaga yang memenuhi nyaris seperempat tepi
musimu, musiku, musi kita
melenturkan ia dalam coklat dan pekat
membersihkan lumpur dalam lumpur
sambil berteriak dalam luka sejarah
di manakah balaputradewa?
2005
Jangan Kali Ini
Jangan kali ini
apakah ceritaku?
ibu, aku lelah teramat sangat
menapaki lelikuan jalan
barangkali engkau pernah menempuhnya
menegadah menatap langit aku larut
bersama lafaz
alif ba taku tak sebatas rapal
menuju tuhan dalam t kecil
jauh dalam keinginan yang terkurung
ingin berjumpa dengan-Nya
2005
Menuju-Mu
aku berjalan menuju Allah
berlari menuju Allah
mencari Allah
Allah
aku larut dalam sembelit cuaca tergerogoh diam-diam pada keputusan ekspresi hari yang ditasbihkan
pada regulasi waktu
maka cuma sebatas inilah aku sanggup
melalui puisi
bukan rapal suci
2005
4.11.2005
Tidak ada niat baik kepada Indonesia
Tidak Punya Niat Baik kepada Indonesia
Barangkali terlalu berlebihan jika kita langsung menuduh bahwa Raam Punjabi dan konco-konconya tidak mempunyai niat baik kepada Indonesia. Namun, tetap saja kita tidak bisa memaklumi kalau mereka punya niat mulia. Tidak bisa diprediksi pikiran orang yang tidak punya hati nurani seperti mereka. Dengan enteng mereka bisa berkilah bahwa ini karya mereka semata-mata hiburan. Karya mereka adalah proses kreatif yang tidak boleh diganggu gugat. Raam --belakangan diikuti juga oleh sineas muda yang konon menjadi harapan dunia perfilman Indonesia, semacam Rudi Sudjarwo, Nia Dinata dan lain-lain-- berkilah bahwa kerja mereka dimaksudkan untuk membangkitkan perfilman Indonesia. Bahkan dalam suatu kesempatan yang sempat ditayangkan seusai AA Gym dan MUI mengajaknya berdialog karena kasus Buruan Cium Gue (BCG), Raam dengan ringan mengatakan bahwa ia memang menjual mimpi. Rakyat Indonesia, menurutnya, sangat senang menonton hal-hal seperti yang ditampilkan di film-film seperti kemewahan yang tanpa batas, kehidupan yang nyaris hitam putih--jahat benar-benar digambarkan sangat jahat dan sebaliknya yang baik bahkan mengalahkan moralitas para rasul. Teguran, panggilan, apalagi sekadar imbauan tidak akan mempan terhadap Raam dan kawan-kawan. Mereka cuma akan tertawa dan menganggap para penentang mereka orang-orang yang tidak tahu diri, picik, bodoh, dan malas berkreasi.
Pada saat itulah seseorang yang berpikiran bahwa tidak ada perlunya membangkitkan film Indonesia akan dianggap musuh. Film Indonesia yang mati suri selama beberapa tahun harus diobati, dan penentangnya pastilah orang-orang yang tidak punya kerjaan. Demikian barangkali pendapat manusia-manusia film. Secara jujur harus diakui jika dilhat dari segi sinematografinya film Indonesia sudah sangat maju dan berbeda dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Tetapi, dari segi isi tidak ada bedanya. Kualitas film Indonesia dari sisi cerita mungkin membuat pekerjanya bangga, tetapi di banyak sisi membuat muak. Selain dari segi orisinalitasnya (meskipun ada yang dengan berani mengklaim bahwa ceritanya berdasarkan kisah masa lalu atau dari catatan harian seseorang), dari segi tema tidak ada satu pun yang menarik. Cerita yang ditampilkan tidak membumi ke masyarakat Indonesia. Cuma cerminan film Hollywood, Bollywood, atau Hongkong yang berbahasa Indonesia.
Manusia film itu bisa saja berkilah dengan mengatakan bahwa tema tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia yang mana? Masyarakat kota besar pun tidak seperti itu. Tetapi jika masyarakat tersebut adalah masyarakat perfilman atau kalangan selebritis lain maka bisa jadi alasan mereka benar bahwa ada masyarakat Indonesia yang seperti tergambar dalam film-film Indonesia tersebut. Berapa persenkah masyarakat Indonesia yang seperti itu?
Maka sebetulnya, di manakah niat baik terhadap Indonesia itu diletakkan? Para koruptor harus diberangus, para preman harus dibasmi, tetapi apakah manusia yang tidak punya niat baik kepada Indonesia harus dibiarkan? Apa guna seorang Raam di Indonesia? Apalah gunanya Indonesia punya film kalau sekadar ada? Apakah proses kreatif itu cuma berdasarkan kehidupan segelintir makhluk? Apakah karena kita punya demokrasi yang keblinger? Apakah-apakah yang lain masih berhamburan untuk dilontarkan.
Pada awalnya kita bisa saja berharap akan ada perubahan setelah film Indonesia konon dibangkitkan lagi. Tetapi ternyata kelatahan-kelatahan saja yang diproduksi. Pak Turut-Bu Turut saja yang dipelihara. Lalau semuanya senantiasa seperti itu. Lebih baik tidak ada film Indonesia jika tidak ada bedanya dengan Hollywood, Bombay, dan Calcutta. Dan jika atas nama demokrasi orang mendukung proses kreatif Raam, maka atas nama demokrasi juga kita hitung-hitungan lebih banyak mana orang yang menginginkan Raam tetap hidup di Indonesia atau diusir jika perlu dibunuh saja. Jika sampai 2/3 suara menginginkan Raam tetap di sini dan hidup melahirkan mimpi-mimpi memuakkannya biarkan saja Raam di sini. Akan tetapi, jika sebaliknya, beranikah para penguasa menyelamatkan Indonesia dari Raam dengan dukungan 2/3 suara secara nasional?
Saya yakin jika dalam perhitungan Raam diharuskan mati dan terusir dari Indonesia, Amerika akan campur tangan. Dan orang yang berteriak atas nama HAM(burger) akan sewot. Padahal bukankah hak asasi saya juga mengusulkan ini? Lha bukankah demokrasi itu suara terbanyak?
Jika ada yang tidak setuju, berhentilah berbicara tentang demokrasi!
'05
Barangkali terlalu berlebihan jika kita langsung menuduh bahwa Raam Punjabi dan konco-konconya tidak mempunyai niat baik kepada Indonesia. Namun, tetap saja kita tidak bisa memaklumi kalau mereka punya niat mulia. Tidak bisa diprediksi pikiran orang yang tidak punya hati nurani seperti mereka. Dengan enteng mereka bisa berkilah bahwa ini karya mereka semata-mata hiburan. Karya mereka adalah proses kreatif yang tidak boleh diganggu gugat. Raam --belakangan diikuti juga oleh sineas muda yang konon menjadi harapan dunia perfilman Indonesia, semacam Rudi Sudjarwo, Nia Dinata dan lain-lain-- berkilah bahwa kerja mereka dimaksudkan untuk membangkitkan perfilman Indonesia. Bahkan dalam suatu kesempatan yang sempat ditayangkan seusai AA Gym dan MUI mengajaknya berdialog karena kasus Buruan Cium Gue (BCG), Raam dengan ringan mengatakan bahwa ia memang menjual mimpi. Rakyat Indonesia, menurutnya, sangat senang menonton hal-hal seperti yang ditampilkan di film-film seperti kemewahan yang tanpa batas, kehidupan yang nyaris hitam putih--jahat benar-benar digambarkan sangat jahat dan sebaliknya yang baik bahkan mengalahkan moralitas para rasul. Teguran, panggilan, apalagi sekadar imbauan tidak akan mempan terhadap Raam dan kawan-kawan. Mereka cuma akan tertawa dan menganggap para penentang mereka orang-orang yang tidak tahu diri, picik, bodoh, dan malas berkreasi.
Pada saat itulah seseorang yang berpikiran bahwa tidak ada perlunya membangkitkan film Indonesia akan dianggap musuh. Film Indonesia yang mati suri selama beberapa tahun harus diobati, dan penentangnya pastilah orang-orang yang tidak punya kerjaan. Demikian barangkali pendapat manusia-manusia film. Secara jujur harus diakui jika dilhat dari segi sinematografinya film Indonesia sudah sangat maju dan berbeda dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Tetapi, dari segi isi tidak ada bedanya. Kualitas film Indonesia dari sisi cerita mungkin membuat pekerjanya bangga, tetapi di banyak sisi membuat muak. Selain dari segi orisinalitasnya (meskipun ada yang dengan berani mengklaim bahwa ceritanya berdasarkan kisah masa lalu atau dari catatan harian seseorang), dari segi tema tidak ada satu pun yang menarik. Cerita yang ditampilkan tidak membumi ke masyarakat Indonesia. Cuma cerminan film Hollywood, Bollywood, atau Hongkong yang berbahasa Indonesia.
Manusia film itu bisa saja berkilah dengan mengatakan bahwa tema tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia yang mana? Masyarakat kota besar pun tidak seperti itu. Tetapi jika masyarakat tersebut adalah masyarakat perfilman atau kalangan selebritis lain maka bisa jadi alasan mereka benar bahwa ada masyarakat Indonesia yang seperti tergambar dalam film-film Indonesia tersebut. Berapa persenkah masyarakat Indonesia yang seperti itu?
Maka sebetulnya, di manakah niat baik terhadap Indonesia itu diletakkan? Para koruptor harus diberangus, para preman harus dibasmi, tetapi apakah manusia yang tidak punya niat baik kepada Indonesia harus dibiarkan? Apa guna seorang Raam di Indonesia? Apalah gunanya Indonesia punya film kalau sekadar ada? Apakah proses kreatif itu cuma berdasarkan kehidupan segelintir makhluk? Apakah karena kita punya demokrasi yang keblinger? Apakah-apakah yang lain masih berhamburan untuk dilontarkan.
Pada awalnya kita bisa saja berharap akan ada perubahan setelah film Indonesia konon dibangkitkan lagi. Tetapi ternyata kelatahan-kelatahan saja yang diproduksi. Pak Turut-Bu Turut saja yang dipelihara. Lalau semuanya senantiasa seperti itu. Lebih baik tidak ada film Indonesia jika tidak ada bedanya dengan Hollywood, Bombay, dan Calcutta. Dan jika atas nama demokrasi orang mendukung proses kreatif Raam, maka atas nama demokrasi juga kita hitung-hitungan lebih banyak mana orang yang menginginkan Raam tetap hidup di Indonesia atau diusir jika perlu dibunuh saja. Jika sampai 2/3 suara menginginkan Raam tetap di sini dan hidup melahirkan mimpi-mimpi memuakkannya biarkan saja Raam di sini. Akan tetapi, jika sebaliknya, beranikah para penguasa menyelamatkan Indonesia dari Raam dengan dukungan 2/3 suara secara nasional?
Saya yakin jika dalam perhitungan Raam diharuskan mati dan terusir dari Indonesia, Amerika akan campur tangan. Dan orang yang berteriak atas nama HAM(burger) akan sewot. Padahal bukankah hak asasi saya juga mengusulkan ini? Lha bukankah demokrasi itu suara terbanyak?
Jika ada yang tidak setuju, berhentilah berbicara tentang demokrasi!
'05
4.10.2005
Menjelang Malam
Menjelang malam
sebentarnya adalah kehilangan
salam orang-orang yang kalah
di luar aturan
Hari ini aku berhitung lagi
menitipkan harapan pada pahlawan
yang disapu angin
menyebabkan hujan badai
dengan dendam tak dipahami
sebentarnya adalah kehilangan
salam orang-orang yang kalah
di luar aturan
Hari ini aku berhitung lagi
menitipkan harapan pada pahlawan
yang disapu angin
menyebabkan hujan badai
dengan dendam tak dipahami
4.09.2005
luka
LUKA
mencari diri dalam luka itu
kau kusematkan sebagai badge
resahmu memeluki segala penyesalan tak terhingga
kini bersembunyi pada seribu kecemasan
"aku mau pergi," katamu
lalu kau pun pergi dengan kepingan hati yang retak
bukan apa-apa
karena memang tak ada apa-apa
2005
mencari diri dalam luka itu
kau kusematkan sebagai badge
resahmu memeluki segala penyesalan tak terhingga
kini bersembunyi pada seribu kecemasan
"aku mau pergi," katamu
lalu kau pun pergi dengan kepingan hati yang retak
bukan apa-apa
karena memang tak ada apa-apa
2005
sajak siang
SEPERTI MASA LALU
seperti masa lalu
masih menjejaki lumut di batu
mengejek mau
lupa kepada hari depan
di kota yang semakin kehilangan keaslian
karena penyeragaman
kau, aku
kelu dalam keluh
melalui musim menjelma muson
dan bandang yang tak surut
2005
SAJAK SIANG
siang
dan ketukannya yang sangar
mengawal kesempatan
sempit pada awalnya
lalu masa
menerobos tiba-tiba
sekadar mampir ngombe
dalam kegilaan yang kian terstruktur
2005
BAH!
aku berjalan di antara laporan jurnalisme kota
berdarah-darah dan norak deh!
dari lubuk terendah strata kasta
cuma ada bising yang seharusnya hening
kata cuma menjelma petaka
"aku mau berjalan saja di sini," katamu
entah di mana pengembaraan tanpa akhir itu
2005
CERITA
Tuhanku,
berjalan menuju-Mu
deras dan teramat berliku
Tuhanku,
cinta-Mu mengucur deras
namun tak sedikit pun
aku membalas
Tuhanku,
perkenankan aku mencintai-Mu
sekali lagi
2005
seperti masa lalu
masih menjejaki lumut di batu
mengejek mau
lupa kepada hari depan
di kota yang semakin kehilangan keaslian
karena penyeragaman
kau, aku
kelu dalam keluh
melalui musim menjelma muson
dan bandang yang tak surut
2005
SAJAK SIANG
siang
dan ketukannya yang sangar
mengawal kesempatan
sempit pada awalnya
lalu masa
menerobos tiba-tiba
sekadar mampir ngombe
dalam kegilaan yang kian terstruktur
2005
BAH!
aku berjalan di antara laporan jurnalisme kota
berdarah-darah dan norak deh!
dari lubuk terendah strata kasta
cuma ada bising yang seharusnya hening
kata cuma menjelma petaka
"aku mau berjalan saja di sini," katamu
entah di mana pengembaraan tanpa akhir itu
2005
CERITA
Tuhanku,
berjalan menuju-Mu
deras dan teramat berliku
Tuhanku,
cinta-Mu mengucur deras
namun tak sedikit pun
aku membalas
Tuhanku,
perkenankan aku mencintai-Mu
sekali lagi
2005
3.11.2005
Bosan
Barangkali kebosanan tidak untuk diceritakan karena cerita tentang kebosanan adalah kebosanan itu sendiri. Cuma intermeso sebuah kebosanan.
3.06.2005
Sriwijaya Ngefce
Menantang Sriwijaya FC, Membuatnya Menjadi Dicintai
Oleh Eko W.M.Pagaralam
Sriwijaya FC (kenapa tidak PS Sriwijaya?) akan bertanding pertama kali pada tanggal 5 Maret 2005 dalam Liga Indonesia Divisi Utama musim kompetisi 2005-2006 melawan Persikota Tangerang. Pada musim kompetisi yang sama PS Palembang juga turut berlaga di Divisi I untuk pertama kali. Ada hal menarik yang sempat disampaikan oleh salah seorang pemain Sriwijaya FC yang berasal dari Aceh, Akhyar Ilyas, seperti pernah dimuat di harian ini beberapa waktu yang lalu. Menurut Akhyar perhatian masyarakat Palembang kepada sepakbola sangat kurang. Ia melihatnya dari sambutan masyarakat sekitar asrama tempat para pemain Sriwijaya FC berada sepertinya biasa-biasa saja. Memang ada yang mengatasnamakan kelompok supporter tertentu, tetapi secara umum tidak terlihat kegembiraan masyarakat Palembang terhadap kehadiran Sriwijaya FC.
Ia membandingkan dengan ketika ia memperkuat Persiraja Banda Aceh atau kesebelasan lain. Setiap hari markas tempat para pemain ramai dikunjungi pala penggemar bola dari seluruh penjuru kota dan mereka mendapatkan dukungan luas dari segenap lapisan masyarakat. Suatu hal yang sangat berbeda dengan kondisi di Palembang ini.
Mencermati kedatangan Sriwijaya FC sebagai kesebelasan "belian" dibandingkan dengan kesebelasan "asli" seperti PS Palembang setidaknya kita bisa mempelajari kondisinya dengan kota lain yang memang terkenal gila sepakbola. Jakarta dengan Persijanya, Bandung dengan Persibnya, Surabaya dengan Persebayanya, Medan dengan PSMSnya, atau Makassar dengan PSMnya. Memang terlihat seperti tidak adil jika kita membandingkan Palembang dengan kota-kota tersebut. Tradisi bola sudah begitu mengakar dalam kehidupan masyarakat kota-kota tersebut. Semua unsur masyarakat dari pemerintah daerah, pengusaha, sampai ibu-ibu rumah tangga larut dalam fanatisme bola. Sebetulnya lebih tepat disebut fanatisme kedaerahan dengan jalan sepakbola.
Persib Bandung, misalnya, setiap kali akan bertanding, di jalan-jalan di kota Bandung terlihat ramai oleh spanduk atau poster dukungan bagi Persib. Sampai-sampai seperti ada iklan dari para pedagang koran yang berkoar-koar di bus kota mengenai pertandingan Persib. Optimisme masyarakat Bandung khususnya dan masyarakat Jawa Barat pada umumnya sering kali membuat tersenyum bahkan terpingkal-pingkal. Ada kisah yang lumayan populer di kalangan penonton Bandung. "Mun maenna di Siliwangi, Brasil ge moal meunang lawan Persib." Maksudnya kira-kira jika bermain atau bertanding di Stadion Siliwangi (stadion kebanggan masyarakat Bandung), Brasil pun tidak akan menang!
Bisa dibayangkan keyakinan dan optimisme masyarakat Bandung tersebut. Optimisme tersebut juga bisa terlihat kota-kota sepakbola yang lain seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, Medan, dll. Nah, tentunya jadi pertanyaan kenapa kondisinya bisa tercipta sedemikian rupa? Jawabnya sebetulnya adalah iklim sepakbola tidak bisa diciptakan secara instan dan karbitan.
Perserikatan dan Galatama
Pada musim Kompetisi Liga Indonesia II Bandung Raya (BR) menjadi juara. Bandung Raya adalah kesebelasan eks Galatama seperti juga Pelita KS (dulu Pelita Jaya), Semen Padang, atau Petrokimia Putra. Meskipun masyarakat Bandung tetap bergembira karena BR menjadi juara, tetap saja kegembiraan mereka tidak seperti ketika Persib Bandung menjadi juara tahun sebelumnya. Di mata masyarakat Bandung cuma ada Persib. Ketika derby antara Persib dan BR terjadi, hampir seluruh penonton di Stadion Siliwangi mendukung Persib. Padahal saat itu salah seorang pemain yang memperkuat BR adalah Ajat Sudrajat, mantan pahlawan Persib.
Mereka tidak melihat Adjat Sudrajat sebagai pahlawan lagi, tetapi sebagai musuh karena melawan Persib. Wahyu Hamidjaja, yang waktu itu menjabat Bupati Kabupaten Bandung (padahal Kabupaten Bandung punya kesebelasan lain, Persikab) juga gatal mulut sehingga sempat menegur Adjat ketika istirahat agar bermain tidak usah terlalu bersemangat. Konon, Adjat sempat berbantah-bantahan karena teguran itu. Terlepas benar atau tidaknya sikap pejabat tersebut sekali lagi kita dapat melihat bagaimana kecintaan masyarakat Bandung terhadap Persib.
Masyarakat menganggap Persib lebih membumi dan merakyat sehingga seluruh masyarakat merasa memilikinya. Sedangkan BR tidak dianggap seutuhnya oleh masyarakat karena ia lahir "karbitan". BR lahir karena kekuatan finansial. Seperti eks klub Galatama yang lain, BR lahir dari kepentingan bisnis sepakbola. Kebanyakan klub Galatama memang tidak mempunyai pendukung yang signifikan jika di kotanya sudah terdapat klub Perserikatan yang mapan. Selain BR di Bandung, kita dulu juga bisa melihat pendukung Niac Mitra dan Assyabab Salim Grup di Surabaya, Pelita Jaya di Jakarta, Medan Jaya di Medan, Makassar Utama di Makassar. Kita juga bisa melihat penonton lebih menyukai PSIS ketimbang BPD Jateng, PSBL daripada Lampung Putra, atau PSP daripada Semen Padang meskipun saat ini yang mewakili Padang adalah Semen Padang. Pendek kata kesebelasan "asli" ternyata lebih disukai daripada kesebelasan "belian".
Palembang dulu punya Krama Yudha Tigaberlian (KTB) dan Pusri Palembang. Kedua kesebelasan tersebut lumayan mendapat tempat di Palembang. KTB sempat berprestasi bagus dengan menjadi juara Galatama. Tetapi yang terjadi kemudian karena kepentingan bisnis KTB pindah ke Jakarta sebelum akhirnya "meninggal". Pusri pun kemudian ikut lenyap dari peredaran sepakbola nasional. Bukan bermaksud mengecilkan sumbangsih keduanya pada persepakbolaan Sumatera Selatan, tetapi dari dulu tidak pernah terdengar usaha serius untuk membuat PS Palembang hadir dengan membanggakan. Belum pernah sekalipun PS Palembang lolos dari Divisi II, jika sekarang PS Palembang lolos ke Divisi I, itu tidak terlepas dari "berkah yang turun langit".
Jika mau memilih, sebagai pecinta sepakbola "asli", kita harus lebih memperhatikan PS Palembang, karena ia lahir dari rahim asli bumi Sriwijaya sebenarnya. Ia tidak hadir karena ada deal yang melatarbelakanginya. Lebih baik membina PS Palembang yang berjuang di Divisi I daripada menghambur-hamburkan uang untuk sebuah kebanggaan semu hanya karena ingin berkiprah di Divisi Utama dengan kesebelasan ‘belian".
Perserikatan yang Digalatamakan
Jika masih memakai istilah perserikatan dan galatama, kita akan melihat Sriwijaya FC (yang dirumuskan barangkali di Inggris, terlihat dari namanya) sebagai kesebelasan eks perserikatan yang digalatamakan. Lihat saja perjalanan kesebelasan yang dulu merupakan kesebelasan "milik" masyarakat Jakarta Timur ini. Karena permasalahan serius dengan dana, mereka hengkang ke Solo dengan nama Persijatim Solo FC. Nama yang sangat aneh karena Persijatim tidak bisa dilepaskan dari nama barunya. Barangkali karena keberatan nama ia mencari nama dan rumah baru. Di Palembang ia menjadi Persijatim Sriwijaya Football Club (Persijatim Sriwijaya FC). (Masih ada Persijatimnya gak?) Sesungguhnya tidak jelas maksud para petinggi daerah ini membeli Sriwijaya FC ini. Jika Sriwijaya FC memang dimaksudkan untuk menjadi barometer persepakbolaan di Sumatera Selatan, seperti penulis kemukakan di atas. Kenapa tidak dilakukan terhadap PS Palembang? Memang diakui, dalam hal prestasi kesebelasan PS Palembang bahkan terhadap PS Bengkulu saja kalah. PS Bengkulu setidaknya pernah berkiprah di kompetisi Divisi Utama Perserikatan. Demikian juga dengan PSBL Bandar Lampung yang baru dua sampai tiga tahun terakhir ini turun divisi.
Tantangan menjadikan PS Palembang berprestasi lebih baik tersebutlah yang seharusnya dipikirkan oleh para petinggi yang punya kekuasaan dalam hal pendanaan di sini. Pembelian Sriwijaya FC memperlihatkan bahwa keinginan dikenal secara karbitan pun semakin nyata. Bukan bermaksud untuk sinis jika penulis kemukakan bahwa hal tersebut juga berlaku untuk atlet Pekan Olahraga Nasional (PON) yang baru lalu. Buat apa berbangga menjadi yang terbaik di luar Jawa jika yang dicari hanya prestise tanpa kekekalan prestasi. Kalau memang kita cuma sanggup memperoleh 1 emas pun hal tersebut lebih membanggakan daripada menjadi juara umum dengan seluruh atau sebagian besar atlet yang dibeli atau dibajak. Mengapa harus repot memperoleh rapor yang baik jika hasil ulangan semua nyontek?
Menyinggung sedikit masalah PON, kita lihat saja nanti kiprah atlet kita di PON Kalimantan Timur yang akan datang. Sepertinya sudah terbayang bahwa yang terbaik di luar Jawa nanti adalah tuan rumah Kalimantan Timur. Sedangkan untuk Sriwijaya FC, barangkali ada juga yang berharap banyak kepadanya. Kita persilakan saja harapan itu hadir. Biarkan saja harapan itu mengalir. Jika Akhyar Ilyas atau siapa pun pemain Sriwijaya FC yang lain mempertanyakan dukungan supporter yang terkesan tidak maksimal, maka pertanyaan itu sebetulnya sudah bisa kita jawab sekarang. Pertama, kecintaan dan kegairahan terhadap olahraga sepakbola di Sumatera Selatan ini tidak begitu kental. Dalam pembicaraan keseharian masyarakat tentang Liga Indonesia bisa dikatakan nihil. Bahkan ada sebuah koran daerah (bukan Sumatera Ekspress, pen) yang wartawan olahraganya tidak tahu ada pertandingan terakhir yang sangat menentukan antara Persebaya Surabaya dan Persija Jakarta berbarengan dengan pertandingan antara PSM Makassar dan PSMS Medan, sehingga di koran tersebut tidak ada sedikit pun berita yang menyinggung Liga Indonesia. Sementara berita olahraga koran tersebut memuat kejuaraan renang antarpelajar yang tidak begitu menarik dicermati sebagai berita olahraga utama.
Kedua, kecintaan tersebut tidak bisa dipaksakan dengan prestasi karbitan. Pembelian kesebelasan yang sudah jadi tanpa memedulikan kesebelasan yang sudah ada sepertinya hanya membuat kebanggaan semu. Nama Palembang barangkali akan lebih sering disebut dalam dunia sepakbola. Namun, semua orang tahu, bahwa Persijatim Sriwijaya FC tersebut mau bermarkas di Palembang karena kemampuan finansial para pengurusnya yang entah didapat dari mana.
Penulis tidak bermaksud melecehkan Sriwijaya FC atau para pengurusnya yang telah mendatangkannya ke Palembang dengan susah payah. Namun, kehidupan persepakbolaan Sumatera Selatan ini amat tidak berimbang. Nyaris semua perhatian dipusatkan ke Palembang, itu pun bukan untuk PS Palembang. Kesebelasan-kesebelasan daerah sama sekali tidak berkutik di tengah arus Palembang sentris.
Dana yang teramat besar untuk jor-joran membeli pemain akan lebih berguna jika dialokasikan ke kesebelasan-kesebelasan di kabupaten/kota se-Sumsel. Pembinaan sejak usia dini dengan kompetisi-kompetisi lokal juga membutuhkan dana yang tidak sedikit. Kompetisi-kompetisi lokal dari berbagai usia tersebut dapat dimanfaatkan untuk mematangkan pesepakbola lokal sehingga menjadi pesepakbola yang mumpuni. Barangkali terlalu jauh jika membandingkan dengan Jawa Timur yang memang telah mempunyai tradisi sepakbola yang bagus sejak dahulu sehingga bisa meraih tiga juara dalam tiga divisi. Namun, setidaknya kita bisa sedikit mengambil pelajaran bahwa Jawa Timur juga daerah lain yang kental sepakbolanya memang mempunyai tradisi yang mengakar dari muatan lokalnya. Di Bandung ada kompetisi Persib yang diikuti klub-klub lokal. Juga di Jakarta ada kompetisi yang dipanitiai oleh Persija. Atau turnamen antarklub yang sering digelar di Jawa Timur. Jadi, bukan tradisi memanfaatkan kekuatan finansial semata. Dana dimanfaatkan secara benar dan terarah.
Terakhir, betapa pun kita semua berharap ada keseriusan jika memang menghendaki Sriwijaya FC menjadi milik lokal. Sriwijaya FC harus membuktikan diri bahwa ia memang pantas dicintai. Ini sebuah tantangan terbuka buat Sriwijaya FC, bukan hanya pemain tetapi terlebih bagi para pengurus yang telah menghamburkan uang yang sepertinya dikutip dari pajak masyarakat Sumsel. Bukan kesebelasan yang hanya memanfaatkan diri buat mencari modal untuk bertahan hidup. Sebab, sebuah kesebelasan seperti (yang dulu) Persijatim ini amat sulit dipegang ekornya. Sehingga ada masanya kelak ketika kecintaan masyarakat sepakbola Palembang pada khususnya dan Sumsel pada umumnya sudah terbentuk, tiba-tiba saja ia meneruskan kebiasaan lamanya berganti baju dan menjadi bunglon dengan nama yang entah terilham dari mana dan dengan markas yang entah di mana: namanya menjadi PERSIJATIM SABANG MERAUKE KITA FC deh!
Penulis adalah Alumnus Universitas Padjadjaran Bandung serta Pecinta Sepakbola.
Kini bekerja pada Media Jejaring dan Lintas Informasi untuk Semua (Majelis), Jakarta.
Oleh Eko W.M.Pagaralam
Sriwijaya FC (kenapa tidak PS Sriwijaya?) akan bertanding pertama kali pada tanggal 5 Maret 2005 dalam Liga Indonesia Divisi Utama musim kompetisi 2005-2006 melawan Persikota Tangerang. Pada musim kompetisi yang sama PS Palembang juga turut berlaga di Divisi I untuk pertama kali. Ada hal menarik yang sempat disampaikan oleh salah seorang pemain Sriwijaya FC yang berasal dari Aceh, Akhyar Ilyas, seperti pernah dimuat di harian ini beberapa waktu yang lalu. Menurut Akhyar perhatian masyarakat Palembang kepada sepakbola sangat kurang. Ia melihatnya dari sambutan masyarakat sekitar asrama tempat para pemain Sriwijaya FC berada sepertinya biasa-biasa saja. Memang ada yang mengatasnamakan kelompok supporter tertentu, tetapi secara umum tidak terlihat kegembiraan masyarakat Palembang terhadap kehadiran Sriwijaya FC.
Ia membandingkan dengan ketika ia memperkuat Persiraja Banda Aceh atau kesebelasan lain. Setiap hari markas tempat para pemain ramai dikunjungi pala penggemar bola dari seluruh penjuru kota dan mereka mendapatkan dukungan luas dari segenap lapisan masyarakat. Suatu hal yang sangat berbeda dengan kondisi di Palembang ini.
Mencermati kedatangan Sriwijaya FC sebagai kesebelasan "belian" dibandingkan dengan kesebelasan "asli" seperti PS Palembang setidaknya kita bisa mempelajari kondisinya dengan kota lain yang memang terkenal gila sepakbola. Jakarta dengan Persijanya, Bandung dengan Persibnya, Surabaya dengan Persebayanya, Medan dengan PSMSnya, atau Makassar dengan PSMnya. Memang terlihat seperti tidak adil jika kita membandingkan Palembang dengan kota-kota tersebut. Tradisi bola sudah begitu mengakar dalam kehidupan masyarakat kota-kota tersebut. Semua unsur masyarakat dari pemerintah daerah, pengusaha, sampai ibu-ibu rumah tangga larut dalam fanatisme bola. Sebetulnya lebih tepat disebut fanatisme kedaerahan dengan jalan sepakbola.
Persib Bandung, misalnya, setiap kali akan bertanding, di jalan-jalan di kota Bandung terlihat ramai oleh spanduk atau poster dukungan bagi Persib. Sampai-sampai seperti ada iklan dari para pedagang koran yang berkoar-koar di bus kota mengenai pertandingan Persib. Optimisme masyarakat Bandung khususnya dan masyarakat Jawa Barat pada umumnya sering kali membuat tersenyum bahkan terpingkal-pingkal. Ada kisah yang lumayan populer di kalangan penonton Bandung. "Mun maenna di Siliwangi, Brasil ge moal meunang lawan Persib." Maksudnya kira-kira jika bermain atau bertanding di Stadion Siliwangi (stadion kebanggan masyarakat Bandung), Brasil pun tidak akan menang!
Bisa dibayangkan keyakinan dan optimisme masyarakat Bandung tersebut. Optimisme tersebut juga bisa terlihat kota-kota sepakbola yang lain seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, Medan, dll. Nah, tentunya jadi pertanyaan kenapa kondisinya bisa tercipta sedemikian rupa? Jawabnya sebetulnya adalah iklim sepakbola tidak bisa diciptakan secara instan dan karbitan.
Perserikatan dan Galatama
Pada musim Kompetisi Liga Indonesia II Bandung Raya (BR) menjadi juara. Bandung Raya adalah kesebelasan eks Galatama seperti juga Pelita KS (dulu Pelita Jaya), Semen Padang, atau Petrokimia Putra. Meskipun masyarakat Bandung tetap bergembira karena BR menjadi juara, tetap saja kegembiraan mereka tidak seperti ketika Persib Bandung menjadi juara tahun sebelumnya. Di mata masyarakat Bandung cuma ada Persib. Ketika derby antara Persib dan BR terjadi, hampir seluruh penonton di Stadion Siliwangi mendukung Persib. Padahal saat itu salah seorang pemain yang memperkuat BR adalah Ajat Sudrajat, mantan pahlawan Persib.
Mereka tidak melihat Adjat Sudrajat sebagai pahlawan lagi, tetapi sebagai musuh karena melawan Persib. Wahyu Hamidjaja, yang waktu itu menjabat Bupati Kabupaten Bandung (padahal Kabupaten Bandung punya kesebelasan lain, Persikab) juga gatal mulut sehingga sempat menegur Adjat ketika istirahat agar bermain tidak usah terlalu bersemangat. Konon, Adjat sempat berbantah-bantahan karena teguran itu. Terlepas benar atau tidaknya sikap pejabat tersebut sekali lagi kita dapat melihat bagaimana kecintaan masyarakat Bandung terhadap Persib.
Masyarakat menganggap Persib lebih membumi dan merakyat sehingga seluruh masyarakat merasa memilikinya. Sedangkan BR tidak dianggap seutuhnya oleh masyarakat karena ia lahir "karbitan". BR lahir karena kekuatan finansial. Seperti eks klub Galatama yang lain, BR lahir dari kepentingan bisnis sepakbola. Kebanyakan klub Galatama memang tidak mempunyai pendukung yang signifikan jika di kotanya sudah terdapat klub Perserikatan yang mapan. Selain BR di Bandung, kita dulu juga bisa melihat pendukung Niac Mitra dan Assyabab Salim Grup di Surabaya, Pelita Jaya di Jakarta, Medan Jaya di Medan, Makassar Utama di Makassar. Kita juga bisa melihat penonton lebih menyukai PSIS ketimbang BPD Jateng, PSBL daripada Lampung Putra, atau PSP daripada Semen Padang meskipun saat ini yang mewakili Padang adalah Semen Padang. Pendek kata kesebelasan "asli" ternyata lebih disukai daripada kesebelasan "belian".
Palembang dulu punya Krama Yudha Tigaberlian (KTB) dan Pusri Palembang. Kedua kesebelasan tersebut lumayan mendapat tempat di Palembang. KTB sempat berprestasi bagus dengan menjadi juara Galatama. Tetapi yang terjadi kemudian karena kepentingan bisnis KTB pindah ke Jakarta sebelum akhirnya "meninggal". Pusri pun kemudian ikut lenyap dari peredaran sepakbola nasional. Bukan bermaksud mengecilkan sumbangsih keduanya pada persepakbolaan Sumatera Selatan, tetapi dari dulu tidak pernah terdengar usaha serius untuk membuat PS Palembang hadir dengan membanggakan. Belum pernah sekalipun PS Palembang lolos dari Divisi II, jika sekarang PS Palembang lolos ke Divisi I, itu tidak terlepas dari "berkah yang turun langit".
Jika mau memilih, sebagai pecinta sepakbola "asli", kita harus lebih memperhatikan PS Palembang, karena ia lahir dari rahim asli bumi Sriwijaya sebenarnya. Ia tidak hadir karena ada deal yang melatarbelakanginya. Lebih baik membina PS Palembang yang berjuang di Divisi I daripada menghambur-hamburkan uang untuk sebuah kebanggaan semu hanya karena ingin berkiprah di Divisi Utama dengan kesebelasan ‘belian".
Perserikatan yang Digalatamakan
Jika masih memakai istilah perserikatan dan galatama, kita akan melihat Sriwijaya FC (yang dirumuskan barangkali di Inggris, terlihat dari namanya) sebagai kesebelasan eks perserikatan yang digalatamakan. Lihat saja perjalanan kesebelasan yang dulu merupakan kesebelasan "milik" masyarakat Jakarta Timur ini. Karena permasalahan serius dengan dana, mereka hengkang ke Solo dengan nama Persijatim Solo FC. Nama yang sangat aneh karena Persijatim tidak bisa dilepaskan dari nama barunya. Barangkali karena keberatan nama ia mencari nama dan rumah baru. Di Palembang ia menjadi Persijatim Sriwijaya Football Club (Persijatim Sriwijaya FC). (Masih ada Persijatimnya gak?) Sesungguhnya tidak jelas maksud para petinggi daerah ini membeli Sriwijaya FC ini. Jika Sriwijaya FC memang dimaksudkan untuk menjadi barometer persepakbolaan di Sumatera Selatan, seperti penulis kemukakan di atas. Kenapa tidak dilakukan terhadap PS Palembang? Memang diakui, dalam hal prestasi kesebelasan PS Palembang bahkan terhadap PS Bengkulu saja kalah. PS Bengkulu setidaknya pernah berkiprah di kompetisi Divisi Utama Perserikatan. Demikian juga dengan PSBL Bandar Lampung yang baru dua sampai tiga tahun terakhir ini turun divisi.
Tantangan menjadikan PS Palembang berprestasi lebih baik tersebutlah yang seharusnya dipikirkan oleh para petinggi yang punya kekuasaan dalam hal pendanaan di sini. Pembelian Sriwijaya FC memperlihatkan bahwa keinginan dikenal secara karbitan pun semakin nyata. Bukan bermaksud untuk sinis jika penulis kemukakan bahwa hal tersebut juga berlaku untuk atlet Pekan Olahraga Nasional (PON) yang baru lalu. Buat apa berbangga menjadi yang terbaik di luar Jawa jika yang dicari hanya prestise tanpa kekekalan prestasi. Kalau memang kita cuma sanggup memperoleh 1 emas pun hal tersebut lebih membanggakan daripada menjadi juara umum dengan seluruh atau sebagian besar atlet yang dibeli atau dibajak. Mengapa harus repot memperoleh rapor yang baik jika hasil ulangan semua nyontek?
Menyinggung sedikit masalah PON, kita lihat saja nanti kiprah atlet kita di PON Kalimantan Timur yang akan datang. Sepertinya sudah terbayang bahwa yang terbaik di luar Jawa nanti adalah tuan rumah Kalimantan Timur. Sedangkan untuk Sriwijaya FC, barangkali ada juga yang berharap banyak kepadanya. Kita persilakan saja harapan itu hadir. Biarkan saja harapan itu mengalir. Jika Akhyar Ilyas atau siapa pun pemain Sriwijaya FC yang lain mempertanyakan dukungan supporter yang terkesan tidak maksimal, maka pertanyaan itu sebetulnya sudah bisa kita jawab sekarang. Pertama, kecintaan dan kegairahan terhadap olahraga sepakbola di Sumatera Selatan ini tidak begitu kental. Dalam pembicaraan keseharian masyarakat tentang Liga Indonesia bisa dikatakan nihil. Bahkan ada sebuah koran daerah (bukan Sumatera Ekspress, pen) yang wartawan olahraganya tidak tahu ada pertandingan terakhir yang sangat menentukan antara Persebaya Surabaya dan Persija Jakarta berbarengan dengan pertandingan antara PSM Makassar dan PSMS Medan, sehingga di koran tersebut tidak ada sedikit pun berita yang menyinggung Liga Indonesia. Sementara berita olahraga koran tersebut memuat kejuaraan renang antarpelajar yang tidak begitu menarik dicermati sebagai berita olahraga utama.
Kedua, kecintaan tersebut tidak bisa dipaksakan dengan prestasi karbitan. Pembelian kesebelasan yang sudah jadi tanpa memedulikan kesebelasan yang sudah ada sepertinya hanya membuat kebanggaan semu. Nama Palembang barangkali akan lebih sering disebut dalam dunia sepakbola. Namun, semua orang tahu, bahwa Persijatim Sriwijaya FC tersebut mau bermarkas di Palembang karena kemampuan finansial para pengurusnya yang entah didapat dari mana.
Penulis tidak bermaksud melecehkan Sriwijaya FC atau para pengurusnya yang telah mendatangkannya ke Palembang dengan susah payah. Namun, kehidupan persepakbolaan Sumatera Selatan ini amat tidak berimbang. Nyaris semua perhatian dipusatkan ke Palembang, itu pun bukan untuk PS Palembang. Kesebelasan-kesebelasan daerah sama sekali tidak berkutik di tengah arus Palembang sentris.
Dana yang teramat besar untuk jor-joran membeli pemain akan lebih berguna jika dialokasikan ke kesebelasan-kesebelasan di kabupaten/kota se-Sumsel. Pembinaan sejak usia dini dengan kompetisi-kompetisi lokal juga membutuhkan dana yang tidak sedikit. Kompetisi-kompetisi lokal dari berbagai usia tersebut dapat dimanfaatkan untuk mematangkan pesepakbola lokal sehingga menjadi pesepakbola yang mumpuni. Barangkali terlalu jauh jika membandingkan dengan Jawa Timur yang memang telah mempunyai tradisi sepakbola yang bagus sejak dahulu sehingga bisa meraih tiga juara dalam tiga divisi. Namun, setidaknya kita bisa sedikit mengambil pelajaran bahwa Jawa Timur juga daerah lain yang kental sepakbolanya memang mempunyai tradisi yang mengakar dari muatan lokalnya. Di Bandung ada kompetisi Persib yang diikuti klub-klub lokal. Juga di Jakarta ada kompetisi yang dipanitiai oleh Persija. Atau turnamen antarklub yang sering digelar di Jawa Timur. Jadi, bukan tradisi memanfaatkan kekuatan finansial semata. Dana dimanfaatkan secara benar dan terarah.
Terakhir, betapa pun kita semua berharap ada keseriusan jika memang menghendaki Sriwijaya FC menjadi milik lokal. Sriwijaya FC harus membuktikan diri bahwa ia memang pantas dicintai. Ini sebuah tantangan terbuka buat Sriwijaya FC, bukan hanya pemain tetapi terlebih bagi para pengurus yang telah menghamburkan uang yang sepertinya dikutip dari pajak masyarakat Sumsel. Bukan kesebelasan yang hanya memanfaatkan diri buat mencari modal untuk bertahan hidup. Sebab, sebuah kesebelasan seperti (yang dulu) Persijatim ini amat sulit dipegang ekornya. Sehingga ada masanya kelak ketika kecintaan masyarakat sepakbola Palembang pada khususnya dan Sumsel pada umumnya sudah terbentuk, tiba-tiba saja ia meneruskan kebiasaan lamanya berganti baju dan menjadi bunglon dengan nama yang entah terilham dari mana dan dengan markas yang entah di mana: namanya menjadi PERSIJATIM SABANG MERAUKE KITA FC deh!
Penulis adalah Alumnus Universitas Padjadjaran Bandung serta Pecinta Sepakbola.
Kini bekerja pada Media Jejaring dan Lintas Informasi untuk Semua (Majelis), Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)