abi dari: al fajriah yudinovic, zaizathifah mirajiah yudinovic, muhammad az zahwan yudinovic, & zelena humairah yudinovic
3.11.2005
Bosan
Barangkali kebosanan tidak untuk diceritakan karena cerita tentang kebosanan adalah kebosanan itu sendiri. Cuma intermeso sebuah kebosanan.
3.06.2005
Sriwijaya Ngefce
Menantang Sriwijaya FC, Membuatnya Menjadi Dicintai
Oleh Eko W.M.Pagaralam
Sriwijaya FC (kenapa tidak PS Sriwijaya?) akan bertanding pertama kali pada tanggal 5 Maret 2005 dalam Liga Indonesia Divisi Utama musim kompetisi 2005-2006 melawan Persikota Tangerang. Pada musim kompetisi yang sama PS Palembang juga turut berlaga di Divisi I untuk pertama kali. Ada hal menarik yang sempat disampaikan oleh salah seorang pemain Sriwijaya FC yang berasal dari Aceh, Akhyar Ilyas, seperti pernah dimuat di harian ini beberapa waktu yang lalu. Menurut Akhyar perhatian masyarakat Palembang kepada sepakbola sangat kurang. Ia melihatnya dari sambutan masyarakat sekitar asrama tempat para pemain Sriwijaya FC berada sepertinya biasa-biasa saja. Memang ada yang mengatasnamakan kelompok supporter tertentu, tetapi secara umum tidak terlihat kegembiraan masyarakat Palembang terhadap kehadiran Sriwijaya FC.
Ia membandingkan dengan ketika ia memperkuat Persiraja Banda Aceh atau kesebelasan lain. Setiap hari markas tempat para pemain ramai dikunjungi pala penggemar bola dari seluruh penjuru kota dan mereka mendapatkan dukungan luas dari segenap lapisan masyarakat. Suatu hal yang sangat berbeda dengan kondisi di Palembang ini.
Mencermati kedatangan Sriwijaya FC sebagai kesebelasan "belian" dibandingkan dengan kesebelasan "asli" seperti PS Palembang setidaknya kita bisa mempelajari kondisinya dengan kota lain yang memang terkenal gila sepakbola. Jakarta dengan Persijanya, Bandung dengan Persibnya, Surabaya dengan Persebayanya, Medan dengan PSMSnya, atau Makassar dengan PSMnya. Memang terlihat seperti tidak adil jika kita membandingkan Palembang dengan kota-kota tersebut. Tradisi bola sudah begitu mengakar dalam kehidupan masyarakat kota-kota tersebut. Semua unsur masyarakat dari pemerintah daerah, pengusaha, sampai ibu-ibu rumah tangga larut dalam fanatisme bola. Sebetulnya lebih tepat disebut fanatisme kedaerahan dengan jalan sepakbola.
Persib Bandung, misalnya, setiap kali akan bertanding, di jalan-jalan di kota Bandung terlihat ramai oleh spanduk atau poster dukungan bagi Persib. Sampai-sampai seperti ada iklan dari para pedagang koran yang berkoar-koar di bus kota mengenai pertandingan Persib. Optimisme masyarakat Bandung khususnya dan masyarakat Jawa Barat pada umumnya sering kali membuat tersenyum bahkan terpingkal-pingkal. Ada kisah yang lumayan populer di kalangan penonton Bandung. "Mun maenna di Siliwangi, Brasil ge moal meunang lawan Persib." Maksudnya kira-kira jika bermain atau bertanding di Stadion Siliwangi (stadion kebanggan masyarakat Bandung), Brasil pun tidak akan menang!
Bisa dibayangkan keyakinan dan optimisme masyarakat Bandung tersebut. Optimisme tersebut juga bisa terlihat kota-kota sepakbola yang lain seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, Medan, dll. Nah, tentunya jadi pertanyaan kenapa kondisinya bisa tercipta sedemikian rupa? Jawabnya sebetulnya adalah iklim sepakbola tidak bisa diciptakan secara instan dan karbitan.
Perserikatan dan Galatama
Pada musim Kompetisi Liga Indonesia II Bandung Raya (BR) menjadi juara. Bandung Raya adalah kesebelasan eks Galatama seperti juga Pelita KS (dulu Pelita Jaya), Semen Padang, atau Petrokimia Putra. Meskipun masyarakat Bandung tetap bergembira karena BR menjadi juara, tetap saja kegembiraan mereka tidak seperti ketika Persib Bandung menjadi juara tahun sebelumnya. Di mata masyarakat Bandung cuma ada Persib. Ketika derby antara Persib dan BR terjadi, hampir seluruh penonton di Stadion Siliwangi mendukung Persib. Padahal saat itu salah seorang pemain yang memperkuat BR adalah Ajat Sudrajat, mantan pahlawan Persib.
Mereka tidak melihat Adjat Sudrajat sebagai pahlawan lagi, tetapi sebagai musuh karena melawan Persib. Wahyu Hamidjaja, yang waktu itu menjabat Bupati Kabupaten Bandung (padahal Kabupaten Bandung punya kesebelasan lain, Persikab) juga gatal mulut sehingga sempat menegur Adjat ketika istirahat agar bermain tidak usah terlalu bersemangat. Konon, Adjat sempat berbantah-bantahan karena teguran itu. Terlepas benar atau tidaknya sikap pejabat tersebut sekali lagi kita dapat melihat bagaimana kecintaan masyarakat Bandung terhadap Persib.
Masyarakat menganggap Persib lebih membumi dan merakyat sehingga seluruh masyarakat merasa memilikinya. Sedangkan BR tidak dianggap seutuhnya oleh masyarakat karena ia lahir "karbitan". BR lahir karena kekuatan finansial. Seperti eks klub Galatama yang lain, BR lahir dari kepentingan bisnis sepakbola. Kebanyakan klub Galatama memang tidak mempunyai pendukung yang signifikan jika di kotanya sudah terdapat klub Perserikatan yang mapan. Selain BR di Bandung, kita dulu juga bisa melihat pendukung Niac Mitra dan Assyabab Salim Grup di Surabaya, Pelita Jaya di Jakarta, Medan Jaya di Medan, Makassar Utama di Makassar. Kita juga bisa melihat penonton lebih menyukai PSIS ketimbang BPD Jateng, PSBL daripada Lampung Putra, atau PSP daripada Semen Padang meskipun saat ini yang mewakili Padang adalah Semen Padang. Pendek kata kesebelasan "asli" ternyata lebih disukai daripada kesebelasan "belian".
Palembang dulu punya Krama Yudha Tigaberlian (KTB) dan Pusri Palembang. Kedua kesebelasan tersebut lumayan mendapat tempat di Palembang. KTB sempat berprestasi bagus dengan menjadi juara Galatama. Tetapi yang terjadi kemudian karena kepentingan bisnis KTB pindah ke Jakarta sebelum akhirnya "meninggal". Pusri pun kemudian ikut lenyap dari peredaran sepakbola nasional. Bukan bermaksud mengecilkan sumbangsih keduanya pada persepakbolaan Sumatera Selatan, tetapi dari dulu tidak pernah terdengar usaha serius untuk membuat PS Palembang hadir dengan membanggakan. Belum pernah sekalipun PS Palembang lolos dari Divisi II, jika sekarang PS Palembang lolos ke Divisi I, itu tidak terlepas dari "berkah yang turun langit".
Jika mau memilih, sebagai pecinta sepakbola "asli", kita harus lebih memperhatikan PS Palembang, karena ia lahir dari rahim asli bumi Sriwijaya sebenarnya. Ia tidak hadir karena ada deal yang melatarbelakanginya. Lebih baik membina PS Palembang yang berjuang di Divisi I daripada menghambur-hamburkan uang untuk sebuah kebanggaan semu hanya karena ingin berkiprah di Divisi Utama dengan kesebelasan ‘belian".
Perserikatan yang Digalatamakan
Jika masih memakai istilah perserikatan dan galatama, kita akan melihat Sriwijaya FC (yang dirumuskan barangkali di Inggris, terlihat dari namanya) sebagai kesebelasan eks perserikatan yang digalatamakan. Lihat saja perjalanan kesebelasan yang dulu merupakan kesebelasan "milik" masyarakat Jakarta Timur ini. Karena permasalahan serius dengan dana, mereka hengkang ke Solo dengan nama Persijatim Solo FC. Nama yang sangat aneh karena Persijatim tidak bisa dilepaskan dari nama barunya. Barangkali karena keberatan nama ia mencari nama dan rumah baru. Di Palembang ia menjadi Persijatim Sriwijaya Football Club (Persijatim Sriwijaya FC). (Masih ada Persijatimnya gak?) Sesungguhnya tidak jelas maksud para petinggi daerah ini membeli Sriwijaya FC ini. Jika Sriwijaya FC memang dimaksudkan untuk menjadi barometer persepakbolaan di Sumatera Selatan, seperti penulis kemukakan di atas. Kenapa tidak dilakukan terhadap PS Palembang? Memang diakui, dalam hal prestasi kesebelasan PS Palembang bahkan terhadap PS Bengkulu saja kalah. PS Bengkulu setidaknya pernah berkiprah di kompetisi Divisi Utama Perserikatan. Demikian juga dengan PSBL Bandar Lampung yang baru dua sampai tiga tahun terakhir ini turun divisi.
Tantangan menjadikan PS Palembang berprestasi lebih baik tersebutlah yang seharusnya dipikirkan oleh para petinggi yang punya kekuasaan dalam hal pendanaan di sini. Pembelian Sriwijaya FC memperlihatkan bahwa keinginan dikenal secara karbitan pun semakin nyata. Bukan bermaksud untuk sinis jika penulis kemukakan bahwa hal tersebut juga berlaku untuk atlet Pekan Olahraga Nasional (PON) yang baru lalu. Buat apa berbangga menjadi yang terbaik di luar Jawa jika yang dicari hanya prestise tanpa kekekalan prestasi. Kalau memang kita cuma sanggup memperoleh 1 emas pun hal tersebut lebih membanggakan daripada menjadi juara umum dengan seluruh atau sebagian besar atlet yang dibeli atau dibajak. Mengapa harus repot memperoleh rapor yang baik jika hasil ulangan semua nyontek?
Menyinggung sedikit masalah PON, kita lihat saja nanti kiprah atlet kita di PON Kalimantan Timur yang akan datang. Sepertinya sudah terbayang bahwa yang terbaik di luar Jawa nanti adalah tuan rumah Kalimantan Timur. Sedangkan untuk Sriwijaya FC, barangkali ada juga yang berharap banyak kepadanya. Kita persilakan saja harapan itu hadir. Biarkan saja harapan itu mengalir. Jika Akhyar Ilyas atau siapa pun pemain Sriwijaya FC yang lain mempertanyakan dukungan supporter yang terkesan tidak maksimal, maka pertanyaan itu sebetulnya sudah bisa kita jawab sekarang. Pertama, kecintaan dan kegairahan terhadap olahraga sepakbola di Sumatera Selatan ini tidak begitu kental. Dalam pembicaraan keseharian masyarakat tentang Liga Indonesia bisa dikatakan nihil. Bahkan ada sebuah koran daerah (bukan Sumatera Ekspress, pen) yang wartawan olahraganya tidak tahu ada pertandingan terakhir yang sangat menentukan antara Persebaya Surabaya dan Persija Jakarta berbarengan dengan pertandingan antara PSM Makassar dan PSMS Medan, sehingga di koran tersebut tidak ada sedikit pun berita yang menyinggung Liga Indonesia. Sementara berita olahraga koran tersebut memuat kejuaraan renang antarpelajar yang tidak begitu menarik dicermati sebagai berita olahraga utama.
Kedua, kecintaan tersebut tidak bisa dipaksakan dengan prestasi karbitan. Pembelian kesebelasan yang sudah jadi tanpa memedulikan kesebelasan yang sudah ada sepertinya hanya membuat kebanggaan semu. Nama Palembang barangkali akan lebih sering disebut dalam dunia sepakbola. Namun, semua orang tahu, bahwa Persijatim Sriwijaya FC tersebut mau bermarkas di Palembang karena kemampuan finansial para pengurusnya yang entah didapat dari mana.
Penulis tidak bermaksud melecehkan Sriwijaya FC atau para pengurusnya yang telah mendatangkannya ke Palembang dengan susah payah. Namun, kehidupan persepakbolaan Sumatera Selatan ini amat tidak berimbang. Nyaris semua perhatian dipusatkan ke Palembang, itu pun bukan untuk PS Palembang. Kesebelasan-kesebelasan daerah sama sekali tidak berkutik di tengah arus Palembang sentris.
Dana yang teramat besar untuk jor-joran membeli pemain akan lebih berguna jika dialokasikan ke kesebelasan-kesebelasan di kabupaten/kota se-Sumsel. Pembinaan sejak usia dini dengan kompetisi-kompetisi lokal juga membutuhkan dana yang tidak sedikit. Kompetisi-kompetisi lokal dari berbagai usia tersebut dapat dimanfaatkan untuk mematangkan pesepakbola lokal sehingga menjadi pesepakbola yang mumpuni. Barangkali terlalu jauh jika membandingkan dengan Jawa Timur yang memang telah mempunyai tradisi sepakbola yang bagus sejak dahulu sehingga bisa meraih tiga juara dalam tiga divisi. Namun, setidaknya kita bisa sedikit mengambil pelajaran bahwa Jawa Timur juga daerah lain yang kental sepakbolanya memang mempunyai tradisi yang mengakar dari muatan lokalnya. Di Bandung ada kompetisi Persib yang diikuti klub-klub lokal. Juga di Jakarta ada kompetisi yang dipanitiai oleh Persija. Atau turnamen antarklub yang sering digelar di Jawa Timur. Jadi, bukan tradisi memanfaatkan kekuatan finansial semata. Dana dimanfaatkan secara benar dan terarah.
Terakhir, betapa pun kita semua berharap ada keseriusan jika memang menghendaki Sriwijaya FC menjadi milik lokal. Sriwijaya FC harus membuktikan diri bahwa ia memang pantas dicintai. Ini sebuah tantangan terbuka buat Sriwijaya FC, bukan hanya pemain tetapi terlebih bagi para pengurus yang telah menghamburkan uang yang sepertinya dikutip dari pajak masyarakat Sumsel. Bukan kesebelasan yang hanya memanfaatkan diri buat mencari modal untuk bertahan hidup. Sebab, sebuah kesebelasan seperti (yang dulu) Persijatim ini amat sulit dipegang ekornya. Sehingga ada masanya kelak ketika kecintaan masyarakat sepakbola Palembang pada khususnya dan Sumsel pada umumnya sudah terbentuk, tiba-tiba saja ia meneruskan kebiasaan lamanya berganti baju dan menjadi bunglon dengan nama yang entah terilham dari mana dan dengan markas yang entah di mana: namanya menjadi PERSIJATIM SABANG MERAUKE KITA FC deh!
Penulis adalah Alumnus Universitas Padjadjaran Bandung serta Pecinta Sepakbola.
Kini bekerja pada Media Jejaring dan Lintas Informasi untuk Semua (Majelis), Jakarta.
Oleh Eko W.M.Pagaralam
Sriwijaya FC (kenapa tidak PS Sriwijaya?) akan bertanding pertama kali pada tanggal 5 Maret 2005 dalam Liga Indonesia Divisi Utama musim kompetisi 2005-2006 melawan Persikota Tangerang. Pada musim kompetisi yang sama PS Palembang juga turut berlaga di Divisi I untuk pertama kali. Ada hal menarik yang sempat disampaikan oleh salah seorang pemain Sriwijaya FC yang berasal dari Aceh, Akhyar Ilyas, seperti pernah dimuat di harian ini beberapa waktu yang lalu. Menurut Akhyar perhatian masyarakat Palembang kepada sepakbola sangat kurang. Ia melihatnya dari sambutan masyarakat sekitar asrama tempat para pemain Sriwijaya FC berada sepertinya biasa-biasa saja. Memang ada yang mengatasnamakan kelompok supporter tertentu, tetapi secara umum tidak terlihat kegembiraan masyarakat Palembang terhadap kehadiran Sriwijaya FC.
Ia membandingkan dengan ketika ia memperkuat Persiraja Banda Aceh atau kesebelasan lain. Setiap hari markas tempat para pemain ramai dikunjungi pala penggemar bola dari seluruh penjuru kota dan mereka mendapatkan dukungan luas dari segenap lapisan masyarakat. Suatu hal yang sangat berbeda dengan kondisi di Palembang ini.
Mencermati kedatangan Sriwijaya FC sebagai kesebelasan "belian" dibandingkan dengan kesebelasan "asli" seperti PS Palembang setidaknya kita bisa mempelajari kondisinya dengan kota lain yang memang terkenal gila sepakbola. Jakarta dengan Persijanya, Bandung dengan Persibnya, Surabaya dengan Persebayanya, Medan dengan PSMSnya, atau Makassar dengan PSMnya. Memang terlihat seperti tidak adil jika kita membandingkan Palembang dengan kota-kota tersebut. Tradisi bola sudah begitu mengakar dalam kehidupan masyarakat kota-kota tersebut. Semua unsur masyarakat dari pemerintah daerah, pengusaha, sampai ibu-ibu rumah tangga larut dalam fanatisme bola. Sebetulnya lebih tepat disebut fanatisme kedaerahan dengan jalan sepakbola.
Persib Bandung, misalnya, setiap kali akan bertanding, di jalan-jalan di kota Bandung terlihat ramai oleh spanduk atau poster dukungan bagi Persib. Sampai-sampai seperti ada iklan dari para pedagang koran yang berkoar-koar di bus kota mengenai pertandingan Persib. Optimisme masyarakat Bandung khususnya dan masyarakat Jawa Barat pada umumnya sering kali membuat tersenyum bahkan terpingkal-pingkal. Ada kisah yang lumayan populer di kalangan penonton Bandung. "Mun maenna di Siliwangi, Brasil ge moal meunang lawan Persib." Maksudnya kira-kira jika bermain atau bertanding di Stadion Siliwangi (stadion kebanggan masyarakat Bandung), Brasil pun tidak akan menang!
Bisa dibayangkan keyakinan dan optimisme masyarakat Bandung tersebut. Optimisme tersebut juga bisa terlihat kota-kota sepakbola yang lain seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, Medan, dll. Nah, tentunya jadi pertanyaan kenapa kondisinya bisa tercipta sedemikian rupa? Jawabnya sebetulnya adalah iklim sepakbola tidak bisa diciptakan secara instan dan karbitan.
Perserikatan dan Galatama
Pada musim Kompetisi Liga Indonesia II Bandung Raya (BR) menjadi juara. Bandung Raya adalah kesebelasan eks Galatama seperti juga Pelita KS (dulu Pelita Jaya), Semen Padang, atau Petrokimia Putra. Meskipun masyarakat Bandung tetap bergembira karena BR menjadi juara, tetap saja kegembiraan mereka tidak seperti ketika Persib Bandung menjadi juara tahun sebelumnya. Di mata masyarakat Bandung cuma ada Persib. Ketika derby antara Persib dan BR terjadi, hampir seluruh penonton di Stadion Siliwangi mendukung Persib. Padahal saat itu salah seorang pemain yang memperkuat BR adalah Ajat Sudrajat, mantan pahlawan Persib.
Mereka tidak melihat Adjat Sudrajat sebagai pahlawan lagi, tetapi sebagai musuh karena melawan Persib. Wahyu Hamidjaja, yang waktu itu menjabat Bupati Kabupaten Bandung (padahal Kabupaten Bandung punya kesebelasan lain, Persikab) juga gatal mulut sehingga sempat menegur Adjat ketika istirahat agar bermain tidak usah terlalu bersemangat. Konon, Adjat sempat berbantah-bantahan karena teguran itu. Terlepas benar atau tidaknya sikap pejabat tersebut sekali lagi kita dapat melihat bagaimana kecintaan masyarakat Bandung terhadap Persib.
Masyarakat menganggap Persib lebih membumi dan merakyat sehingga seluruh masyarakat merasa memilikinya. Sedangkan BR tidak dianggap seutuhnya oleh masyarakat karena ia lahir "karbitan". BR lahir karena kekuatan finansial. Seperti eks klub Galatama yang lain, BR lahir dari kepentingan bisnis sepakbola. Kebanyakan klub Galatama memang tidak mempunyai pendukung yang signifikan jika di kotanya sudah terdapat klub Perserikatan yang mapan. Selain BR di Bandung, kita dulu juga bisa melihat pendukung Niac Mitra dan Assyabab Salim Grup di Surabaya, Pelita Jaya di Jakarta, Medan Jaya di Medan, Makassar Utama di Makassar. Kita juga bisa melihat penonton lebih menyukai PSIS ketimbang BPD Jateng, PSBL daripada Lampung Putra, atau PSP daripada Semen Padang meskipun saat ini yang mewakili Padang adalah Semen Padang. Pendek kata kesebelasan "asli" ternyata lebih disukai daripada kesebelasan "belian".
Palembang dulu punya Krama Yudha Tigaberlian (KTB) dan Pusri Palembang. Kedua kesebelasan tersebut lumayan mendapat tempat di Palembang. KTB sempat berprestasi bagus dengan menjadi juara Galatama. Tetapi yang terjadi kemudian karena kepentingan bisnis KTB pindah ke Jakarta sebelum akhirnya "meninggal". Pusri pun kemudian ikut lenyap dari peredaran sepakbola nasional. Bukan bermaksud mengecilkan sumbangsih keduanya pada persepakbolaan Sumatera Selatan, tetapi dari dulu tidak pernah terdengar usaha serius untuk membuat PS Palembang hadir dengan membanggakan. Belum pernah sekalipun PS Palembang lolos dari Divisi II, jika sekarang PS Palembang lolos ke Divisi I, itu tidak terlepas dari "berkah yang turun langit".
Jika mau memilih, sebagai pecinta sepakbola "asli", kita harus lebih memperhatikan PS Palembang, karena ia lahir dari rahim asli bumi Sriwijaya sebenarnya. Ia tidak hadir karena ada deal yang melatarbelakanginya. Lebih baik membina PS Palembang yang berjuang di Divisi I daripada menghambur-hamburkan uang untuk sebuah kebanggaan semu hanya karena ingin berkiprah di Divisi Utama dengan kesebelasan ‘belian".
Perserikatan yang Digalatamakan
Jika masih memakai istilah perserikatan dan galatama, kita akan melihat Sriwijaya FC (yang dirumuskan barangkali di Inggris, terlihat dari namanya) sebagai kesebelasan eks perserikatan yang digalatamakan. Lihat saja perjalanan kesebelasan yang dulu merupakan kesebelasan "milik" masyarakat Jakarta Timur ini. Karena permasalahan serius dengan dana, mereka hengkang ke Solo dengan nama Persijatim Solo FC. Nama yang sangat aneh karena Persijatim tidak bisa dilepaskan dari nama barunya. Barangkali karena keberatan nama ia mencari nama dan rumah baru. Di Palembang ia menjadi Persijatim Sriwijaya Football Club (Persijatim Sriwijaya FC). (Masih ada Persijatimnya gak?) Sesungguhnya tidak jelas maksud para petinggi daerah ini membeli Sriwijaya FC ini. Jika Sriwijaya FC memang dimaksudkan untuk menjadi barometer persepakbolaan di Sumatera Selatan, seperti penulis kemukakan di atas. Kenapa tidak dilakukan terhadap PS Palembang? Memang diakui, dalam hal prestasi kesebelasan PS Palembang bahkan terhadap PS Bengkulu saja kalah. PS Bengkulu setidaknya pernah berkiprah di kompetisi Divisi Utama Perserikatan. Demikian juga dengan PSBL Bandar Lampung yang baru dua sampai tiga tahun terakhir ini turun divisi.
Tantangan menjadikan PS Palembang berprestasi lebih baik tersebutlah yang seharusnya dipikirkan oleh para petinggi yang punya kekuasaan dalam hal pendanaan di sini. Pembelian Sriwijaya FC memperlihatkan bahwa keinginan dikenal secara karbitan pun semakin nyata. Bukan bermaksud untuk sinis jika penulis kemukakan bahwa hal tersebut juga berlaku untuk atlet Pekan Olahraga Nasional (PON) yang baru lalu. Buat apa berbangga menjadi yang terbaik di luar Jawa jika yang dicari hanya prestise tanpa kekekalan prestasi. Kalau memang kita cuma sanggup memperoleh 1 emas pun hal tersebut lebih membanggakan daripada menjadi juara umum dengan seluruh atau sebagian besar atlet yang dibeli atau dibajak. Mengapa harus repot memperoleh rapor yang baik jika hasil ulangan semua nyontek?
Menyinggung sedikit masalah PON, kita lihat saja nanti kiprah atlet kita di PON Kalimantan Timur yang akan datang. Sepertinya sudah terbayang bahwa yang terbaik di luar Jawa nanti adalah tuan rumah Kalimantan Timur. Sedangkan untuk Sriwijaya FC, barangkali ada juga yang berharap banyak kepadanya. Kita persilakan saja harapan itu hadir. Biarkan saja harapan itu mengalir. Jika Akhyar Ilyas atau siapa pun pemain Sriwijaya FC yang lain mempertanyakan dukungan supporter yang terkesan tidak maksimal, maka pertanyaan itu sebetulnya sudah bisa kita jawab sekarang. Pertama, kecintaan dan kegairahan terhadap olahraga sepakbola di Sumatera Selatan ini tidak begitu kental. Dalam pembicaraan keseharian masyarakat tentang Liga Indonesia bisa dikatakan nihil. Bahkan ada sebuah koran daerah (bukan Sumatera Ekspress, pen) yang wartawan olahraganya tidak tahu ada pertandingan terakhir yang sangat menentukan antara Persebaya Surabaya dan Persija Jakarta berbarengan dengan pertandingan antara PSM Makassar dan PSMS Medan, sehingga di koran tersebut tidak ada sedikit pun berita yang menyinggung Liga Indonesia. Sementara berita olahraga koran tersebut memuat kejuaraan renang antarpelajar yang tidak begitu menarik dicermati sebagai berita olahraga utama.
Kedua, kecintaan tersebut tidak bisa dipaksakan dengan prestasi karbitan. Pembelian kesebelasan yang sudah jadi tanpa memedulikan kesebelasan yang sudah ada sepertinya hanya membuat kebanggaan semu. Nama Palembang barangkali akan lebih sering disebut dalam dunia sepakbola. Namun, semua orang tahu, bahwa Persijatim Sriwijaya FC tersebut mau bermarkas di Palembang karena kemampuan finansial para pengurusnya yang entah didapat dari mana.
Penulis tidak bermaksud melecehkan Sriwijaya FC atau para pengurusnya yang telah mendatangkannya ke Palembang dengan susah payah. Namun, kehidupan persepakbolaan Sumatera Selatan ini amat tidak berimbang. Nyaris semua perhatian dipusatkan ke Palembang, itu pun bukan untuk PS Palembang. Kesebelasan-kesebelasan daerah sama sekali tidak berkutik di tengah arus Palembang sentris.
Dana yang teramat besar untuk jor-joran membeli pemain akan lebih berguna jika dialokasikan ke kesebelasan-kesebelasan di kabupaten/kota se-Sumsel. Pembinaan sejak usia dini dengan kompetisi-kompetisi lokal juga membutuhkan dana yang tidak sedikit. Kompetisi-kompetisi lokal dari berbagai usia tersebut dapat dimanfaatkan untuk mematangkan pesepakbola lokal sehingga menjadi pesepakbola yang mumpuni. Barangkali terlalu jauh jika membandingkan dengan Jawa Timur yang memang telah mempunyai tradisi sepakbola yang bagus sejak dahulu sehingga bisa meraih tiga juara dalam tiga divisi. Namun, setidaknya kita bisa sedikit mengambil pelajaran bahwa Jawa Timur juga daerah lain yang kental sepakbolanya memang mempunyai tradisi yang mengakar dari muatan lokalnya. Di Bandung ada kompetisi Persib yang diikuti klub-klub lokal. Juga di Jakarta ada kompetisi yang dipanitiai oleh Persija. Atau turnamen antarklub yang sering digelar di Jawa Timur. Jadi, bukan tradisi memanfaatkan kekuatan finansial semata. Dana dimanfaatkan secara benar dan terarah.
Terakhir, betapa pun kita semua berharap ada keseriusan jika memang menghendaki Sriwijaya FC menjadi milik lokal. Sriwijaya FC harus membuktikan diri bahwa ia memang pantas dicintai. Ini sebuah tantangan terbuka buat Sriwijaya FC, bukan hanya pemain tetapi terlebih bagi para pengurus yang telah menghamburkan uang yang sepertinya dikutip dari pajak masyarakat Sumsel. Bukan kesebelasan yang hanya memanfaatkan diri buat mencari modal untuk bertahan hidup. Sebab, sebuah kesebelasan seperti (yang dulu) Persijatim ini amat sulit dipegang ekornya. Sehingga ada masanya kelak ketika kecintaan masyarakat sepakbola Palembang pada khususnya dan Sumsel pada umumnya sudah terbentuk, tiba-tiba saja ia meneruskan kebiasaan lamanya berganti baju dan menjadi bunglon dengan nama yang entah terilham dari mana dan dengan markas yang entah di mana: namanya menjadi PERSIJATIM SABANG MERAUKE KITA FC deh!
Penulis adalah Alumnus Universitas Padjadjaran Bandung serta Pecinta Sepakbola.
Kini bekerja pada Media Jejaring dan Lintas Informasi untuk Semua (Majelis), Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)