Temanku yang seorang ini adalah sedikit di antara orang yang kompleks. Bukan karena berkepribadian ganda, tetapi berkemampuan ganda. Sejak Taman Kanak-kanak sampai masa berkuliah ia sangat menonjol di segala bidang yang digelutinya. Ia mahir dalam permainan olahraga sepakbola, basket, volly, sampai renang dan tenis. Dalam banyak cabang itu ia bahkan menjadi kapten tim dan play maker. Terakhir ia sempat ikut seorang teman belajar bermain golf, dengan cepat ia diketegorikan mahir untuk kalangan pemula. Ia sering pula ke bermain billiar dan jarang bertemu tandingan di antara sesama amatir. Ia juga jago bermain gitar dan piano serta menyanyi serta mahir menggambar baik manual atau menggunakan komputer. Ia senang berpuisi dan menonton teater dan terlibat sesekali dalam pementasan. Ia berkuliah di jurusan yang bergengsi di perguruan tinggi yang termasuk terbaik di negeri ini. Indeks prestasi kumulatifnya tinggi apalagi untuk orang yang beraktivitas tinggi seperti ia. Ia mahir berdebat dalam bahasa Indonesia, daerah, atau asing. Ia menguasai banyak bahasa daerah karena pergaulannya tidak pandang bulu dan kegemarannya bepergian ke banyak tempat. Ia cakap dalam tiga bahasa asing secara aktif dan lebih banyak lagi yang pasif. Ia selalu memanfaatkan hari libur panjang dengan pergi ke banyak tempat sendirian. Nyaris seluruh nusantara dijelajahinya. Terkadang ia menginap di penginapan sederhana acap pula mampir ke tempat temannya. Teman-temannya banyak diperolehnya melalui chat room di MiRc atau YM. Ia tidak pernah bermain-main mencari teman. Ia chat untuk serius dan memperbanyak sahabat.
Temanku yang luar biasa ini terbiasa berpikiran jernih dalam menyelesaikan masalah dengan apa pun atau siapa pun. Tetapi pada saat tertentu ia juga bukan seorang yang diam saja jika harus menyelesaikan sesuatu dengan kekerasan. Ia mahir berkelahi meskipun tidak pernah memasuki satu pun cabang bela diri. Pada suatu saat adakalanya orang harus diyakinkan dengan kekerasan, ia pernah berkata.
Tetapi ia juga seorang yang sangat lembut hati yang gampang terharu jika melihat musibah. Ia penyayang anak kecil. Ia pencinta binatang. Ia seorang yang teramat rendah hati untuk segala keluarbiasaannya itu.
Malam-malam sepi ia sering kulihat secara tidak sengaja bersujud panjang kepada Khaliknya. Dalam solat malam yang khusyu ia tenggelam dalam interaksi dengan sang Pencipta. Ia memang seorang yang taat meskipun sepintas orang tidak akan melihatnya seperti itu. Ia sering membaca ayat-ayat suci Alquran sampai subuh menjelang.
Karena penampilan luarnya teramat sederhana--sering ia hanya memakai kaos oblong dan sendal jepit ke mana-mana-- ia acapkali dipandang sebelah mata oleh orang. Wajahnya biasa saja, dan sepertinya wanita tidak tertarik kepada penampilan yang seperti itu. Akan tetapi, wanita yang mengenalnya dengan dekat akan sulit mengatakan tidak tertarik kepadanya. Tutur bahasanya lembut tetapi tegas. Ia susah kompromi kepada kemungkaran meskipun hal tersebut akan merugikan posisinya. Dan kelak terbukti ketika ia mendapat sebuah jabatan strategis di sebuah perusahaan swasta. Ketika para petinggi perusahaan menyatakan akan merampingkan jumlah karyawan di perusahaannya, ia mengatakan bahwa perusahaan akan efektif jika para petinggi perusahaanlah yang harus dikurangi. Gaji dua orang petinggi perusahaan ternyata seharga gaji seratusan karyawan kecil. Maka dengan ia mengatakan bahwa yang layak dikeluarkan adalah dua orang petinggi bukan ratusan karyawan. Ketika itu ada seorang yang nyeletuk dengan mengatakan mengapa tidak ia saja yang mundur, dengan serta merta ia mengatakan bahwa ia sanggup mundur kalau memang dianggap tidak efektif. Ia akhirnya memang memilih mundur bukan karena ia tidak efektif, tetapi ternyata ia kalah suara dan ratusan karyawan yang menjadi tanggung jawabnya ternyata memang dirumahkan.
Tetapi selepas dari itu ia justru merasa bebas. Banyak tawaran yang lebih menarik untuknya. Tetapi ia sudah memutuskan bekerja sendiri dulu. Dengan kepandaiannya yang beragam ia pernah mengajar les piano, menjadi guru privat di rumah seorang kaya yang anak didiknya yang gadis itu pernah menggodanya. Ia juga pernah menjadi satpam untuk mencoba melihat kehidupan satpam seperti apa. Menjadi pedagang kaki lima yang digusur, menjadi sopir pribadi maupun sopir angkutan umum juga pernah dialaminya. Menjadi administrator jaringan sebuah perusahaan TI, konsultan keuangan, editor di sebuah penerbit, menulis artikel dan buku, menerbitkan buku terjemahan, menjadi pemandu wisata, menjadi wartawan, dosen, dan sebagainya juga pernah dilakoninya. Tetapi tidak ada yang lebih dari satu tahun. Ada yang cuma beberapa bulan, bahkan ada yang cuma beberapa hari, seperti menjadi guru privat pelajaran untuk orang kaya tadi. Semua penghasilannya memuaskan dan mencukupi. Semua terkadang ditabung sebagian untuk ongkos perjalanan sebagian lagi disumbangkannya ke banyak tempat memerlukan.
Ia juga terkadang jadi sukarelawan di posko-posko bencana atas nama sendiri, karenanya ia tidak pernah tercatat dalam pandangan orang. Ia juga pernah menjadi pelaut selama tiga bulan dan masuk ke sana atas ajakan seorang temannya. Di kapal ia banyak melihat kemungkaran dan ia sering berkelahi karena tidak mau dipaksa mabuk-mabukan dan main perempuan.
Semua itu tidak dijalaninya di satu kota. Ia hinggap di banyak kota bahkan di beberapa negara, sambil menantikan saat yang tepat untuk mengakhirinya.
Akhirnya ketika ia merasa sudah cukup berjalan. Ia kembali ke kampung halamannya. Meminta maaf kepada ibu dan ayahnya yang sudah tua dan senantiasa mencemaskannya. Ia memohon ampun kepada orang tuanya karena selama berkuliah ia sangat jarang pulang menjenguk sama sekali orang tuanya. Bahkan seusai berkuliah ia tidak pernah pulang. Sudah belasan tahun ia berkelana. Meskipun ia selalu memberi tahu orang tuanya di mana dia berada. Dan barulah ia memikirkan usianya yang sudah menjalani kepala tiga.
Ia lalu mengikuti saran orang tuanya untuk ikut test pegawai negeri. Mungkin ini kesempatan tes terakhir baginya. Ia mengikuti saran tersebut meskipun tidak pernah ada dalam hatinya keinginan untuk menjadi PNS. Ia kali ini berkompromi dengan keinginan orang tuanya untuk menebus rasa bersalahnya selama ini. Tetapi, pada saat tes itulah ia menemukan keajaiban negerinya. Justru ketika ia mengikuti tes yang digembargemborkan bersih bebas dari KKN ia tidak lulus. Bayangkan seorang yang lulus UMPTN di perguruan terbaik dan selesai dengan predikat cum laude dan selesai hanya dalam 3 tahun tanpa semester pendek (dulu memang tidak ada semester pendek:)), punya kemampuan di atas rata-rata, dengan nilai rapot dari SD tidak pernah di bawah 7, dan tidak pernah tidak berhasil tes sebelumnya baik dalam pendidikan atau mencari pekerjaan atau dalam pekerjaan itu sendiri ternyata tidak lulus tes calon pegawai negeri sipil! Padahal soal-soal yang disajikan dalam tes tersebut bukanlah soal-soal yang rumit baginya. Maka keajaiban itu telah dimulai baginya. Barulah ia melihat negerinya yang sesungguhnya melalui kampung halamannya bahwa yang diperlukan negerinya untuk melayani masyarakat bukanlah orang-orang yang mampu dan pintar.
Maka ia teringat Ronggowarsito. Jadilah orang gila di negeri yang gila.
Tetapi ia terlalu cerdas untuk menjadi gila. Otaknya yang brilian itu segera dengan cepat menemukan ide baru. Ia mulai mempelajari pertanian yang selama ini telah turut membantu pendidikannya dan adik-adiknya melalui orang tuanya. Ia membuat pertanian dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang kampungnya. Ia membeli lahan yang cukup dengan uang tabungannya dan menanam sayur-sayuran yang cocok dengan tanah kampungnya yang dikelola secara modern dengan mengundang seorang temannya yang pakar pertanian. Dan memasarkan hasilnya melalui jaringan yang sudah dibangunnya selama ini. Hanya dalam hitungan bulan hasilnya terlihat. Produksinya yang berlimpah dan hasilnya yang tidak mengecewakan membuat banyak orang tertarik dan latah ikut memproduksi. Tetapi ia memang seorang yang baik hati. Semua ilmunya dibagikan kepada tetangga dan masyarakatnya. Produksi massal itu menjadi perhatian pemerintah daerah pula akhirnya. Dan bantuan modal untuk para petani mengucur. Lalu mulailah kegilaan lain muncul. Seorang teman dan pemerintah daerah memotong jalur distribusinya dengan mencatut namanya. Tanamannya tiba-tiba banyak yang mati. Hasilnya tidak ada. Ia sempat merugi.
Akhirnya ia mengetahui penyebabnya. Ia hanya tersenyum getir dan dalam hati segera memaafkan perbuatan temannya itu. Pikirannya yang jernih itu telah melatihnya dengan baik. Sesaat setelah produksi sayur-sayurannya berjalan ia telah mempunyai rencana yang lain. Ia telah bekerja sama dengan temannya yang lain lagi. Dan pada saat itu ia juga telah menemukan pendampingnya, seorang teman masa kecilnya yang juga telah tinggal di mana-mana yang sekarang menjadi dokter. Mereka menikah. Mereka ternyata pasangan yang hebat. Masing-masing berpikir kreatif. Dengan jaringan mereka yang luas karena pergaulan panjang selama ini mereka segera saja telah punya usaha-usaha lain yang banyak jenisnya. Mereka mendirikan sebuah klinik kesehatan, juga telah mendirikan lembaga bimbingan dan bantuan untuk hukum dan keadilan. Mereka juga mendirikan tempat-tempat kursus bahasa asing dan komputer. Dengan inovasi yang beragam orang jadi kesulitan menjegal mereka. Atau mau latah mengekor usaha mereka.
Temanku yang hebat itu tetap saja seperti dulu meskipun untuk ukuran kampungnya bahkan mungkin propinsinya sudah menjadi konglomerat. Lalu usahanya juga berkembang di ibukota. Dia terakhir menjadi menjadi pemegang saham dalam sebuah penerbitan di Jakarta. Menjadi mitra untuk sebuah usaha pembibitan jagung di Bogor. Menjalin kerja sama dengan seorang rekannya di Makassar dan membuka usaha pengawetan ikan dan rumah makan Makassar di Papua. Membuka usaha tambak udang di Lampung yang dikelola adiknya. Tetapi ia tetap saja sederhana dan tidak dikenal orang, karena ia mewanti-wanti untuk tidak terlalu membesar-besarkan kehidupannya. Ia masih saja memakai kaos oblong sederhana dan bersandal meskipun sekarang sandalnya sandal sepatu. Ia masih sering berjalan kaki, meskipun ia punya dua mobil dan sepeda motor. Pagi-pagi seusai subuh dan mengaji satu dua surat Alquran, ia berolahraga bersepeda, kadang-kadang jogging. Sering pula sesekali bermain tenis dan badminton dengan para pemuda tetangganya. Dan ia masih kuat bermain volly. Sesekali masih bersepakbola dan berenang di kolam renang kecil di belakang rumahnya.
Di waktu senggang yang sedikit sesekali ia bermusik dan mengajari dua orang anaknya bermusik dan pelajaran sekolah. Ia juga mengajarkan langsung pelajaran agama dan mengaji kepada anak-anaknya selain juga memanggil guru mengaji ke rumahnya. Dan ia pun sudah berhaji.
Hebatnya lagi, ia tetap meluangkan waktunya untuk menjalin silaturahmi dengan teman-temannya di segala penjuru baik melalui sms, chatting, atau menelepon. Bahkan jika ia menuju ke sebuah kota yang terdapat teman-temannya ia sempatkan untuk mampir. Termasuk ke tempatku, meskipun ia juga bilang aku termasuk orang yang agak susah dideteksi keberadaanya.
Temanku yang hebat itu sekarang sudah berbahagia. Meskipun katanya kebahagiaan itu tidak bisa dilihat kasat mata. Tetapi aku berdoa, agar orang baik seperti dia tetap merasa bahagia di dunia maupun akhirat kelak.