4.11.2005

Tidak ada niat baik kepada Indonesia

Tidak Punya Niat Baik kepada Indonesia
Barangkali terlalu berlebihan jika kita langsung menuduh bahwa Raam Punjabi dan konco-konconya tidak mempunyai niat baik kepada Indonesia. Namun, tetap saja kita tidak bisa memaklumi kalau mereka punya niat mulia. Tidak bisa diprediksi pikiran orang yang tidak punya hati nurani seperti mereka. Dengan enteng mereka bisa berkilah bahwa ini karya mereka semata-mata hiburan. Karya mereka adalah proses kreatif yang tidak boleh diganggu gugat. Raam --belakangan diikuti juga oleh sineas muda yang konon menjadi harapan dunia perfilman Indonesia, semacam Rudi Sudjarwo, Nia Dinata dan lain-lain-- berkilah bahwa kerja mereka dimaksudkan untuk membangkitkan perfilman Indonesia. Bahkan dalam suatu kesempatan yang sempat ditayangkan seusai AA Gym dan MUI mengajaknya berdialog karena kasus Buruan Cium Gue (BCG), Raam dengan ringan mengatakan bahwa ia memang menjual mimpi. Rakyat Indonesia, menurutnya, sangat senang menonton hal-hal seperti yang ditampilkan di film-film seperti kemewahan yang tanpa batas, kehidupan yang nyaris hitam putih--jahat benar-benar digambarkan sangat jahat dan sebaliknya yang baik bahkan mengalahkan moralitas para rasul. Teguran, panggilan, apalagi sekadar imbauan tidak akan mempan terhadap Raam dan kawan-kawan. Mereka cuma akan tertawa dan menganggap para penentang mereka orang-orang yang tidak tahu diri, picik, bodoh, dan malas berkreasi.
Pada saat itulah seseorang yang berpikiran bahwa tidak ada perlunya membangkitkan film Indonesia akan dianggap musuh. Film Indonesia yang mati suri selama beberapa tahun harus diobati, dan penentangnya pastilah orang-orang yang tidak punya kerjaan. Demikian barangkali pendapat manusia-manusia film. Secara jujur harus diakui jika dilhat dari segi sinematografinya film Indonesia sudah sangat maju dan berbeda dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Tetapi, dari segi isi tidak ada bedanya. Kualitas film Indonesia dari sisi cerita mungkin membuat pekerjanya bangga, tetapi di banyak sisi membuat muak. Selain dari segi orisinalitasnya (meskipun ada yang dengan berani mengklaim bahwa ceritanya berdasarkan kisah masa lalu atau dari catatan harian seseorang), dari segi tema tidak ada satu pun yang menarik. Cerita yang ditampilkan tidak membumi ke masyarakat Indonesia. Cuma cerminan film Hollywood, Bollywood, atau Hongkong yang berbahasa Indonesia.
Manusia film itu bisa saja berkilah dengan mengatakan bahwa tema tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia yang mana? Masyarakat kota besar pun tidak seperti itu. Tetapi jika masyarakat tersebut adalah masyarakat perfilman atau kalangan selebritis lain maka bisa jadi alasan mereka benar bahwa ada masyarakat Indonesia yang seperti tergambar dalam film-film Indonesia tersebut. Berapa persenkah masyarakat Indonesia yang seperti itu?
Maka sebetulnya, di manakah niat baik terhadap Indonesia itu diletakkan? Para koruptor harus diberangus, para preman harus dibasmi, tetapi apakah manusia yang tidak punya niat baik kepada Indonesia harus dibiarkan? Apa guna seorang Raam di Indonesia? Apalah gunanya Indonesia punya film kalau sekadar ada? Apakah proses kreatif itu cuma berdasarkan kehidupan segelintir makhluk? Apakah karena kita punya demokrasi yang keblinger? Apakah-apakah yang lain masih berhamburan untuk dilontarkan.
Pada awalnya kita bisa saja berharap akan ada perubahan setelah film Indonesia konon dibangkitkan lagi. Tetapi ternyata kelatahan-kelatahan saja yang diproduksi. Pak Turut-Bu Turut saja yang dipelihara. Lalau semuanya senantiasa seperti itu. Lebih baik tidak ada film Indonesia jika tidak ada bedanya dengan Hollywood, Bombay, dan Calcutta. Dan jika atas nama demokrasi orang mendukung proses kreatif Raam, maka atas nama demokrasi juga kita hitung-hitungan lebih banyak mana orang yang menginginkan Raam tetap hidup di Indonesia atau diusir jika perlu dibunuh saja. Jika sampai 2/3 suara menginginkan Raam tetap di sini dan hidup melahirkan mimpi-mimpi memuakkannya biarkan saja Raam di sini. Akan tetapi, jika sebaliknya, beranikah para penguasa menyelamatkan Indonesia dari Raam dengan dukungan 2/3 suara secara nasional?
Saya yakin jika dalam perhitungan Raam diharuskan mati dan terusir dari Indonesia, Amerika akan campur tangan. Dan orang yang berteriak atas nama HAM(burger) akan sewot. Padahal bukankah hak asasi saya juga mengusulkan ini? Lha bukankah demokrasi itu suara terbanyak?
Jika ada yang tidak setuju, berhentilah berbicara tentang demokrasi!
'05