Joe Milioner Indonesia. Barang jiplakan satu lagi yang dijual dan ternyata laris di negeri ini. Ada protes, ada yang gundah. Ada yang berteriak demi demokrasi tidak boleh ada protes. Demi demokrasi tayangan itu harus terus jalan. Gegabah! Kalau mau demokrasi-demokrasian tentu saja tayangan itu harus digusur. Hitung-hitungan kasar saja. Lebih banyak mana yang risih dan menolak atau lebih banyak mana yang mendukung.
Dinar dan kawan-kawan yang menjadi peserta ternyata tidak merasa dilecehkan. Artinya apa beda mereka dengan penghuni Saritem di Bandung, Kramtung di Jakarta, atau Dolly di Surabaya? Dinar cuma terlihat lebih terhormat. Kalau ditanyakan moralitas apalagi nilai agama kepada mereka, mereka akan sewot. Dengan berdalih masih ada tayangan TV yang lebih "sadis" dari mereka yang tidak dipermasalahkan. Bahkan ia mengakui pernah disorot sebuah stasiun TV untuk sebuah acara yang mengharuskannya cuma memakai bikini super irit!
Jadi, dalam pandangan Dinar --mungkin juga pandangan para penghuni lokalisasi seperti Saritem, Sarkem, dll itu-- yang penting adalah fulus yang mengalir lancar serta kenikmatan berkencan dengan lelaki ganteng dan kaya. Jangan bicara soal pelecehan dengan mereka. Diremas, diraba, dihajar, dibegitukan di depan jutaan pemirsa tidak menjadi masalah bagi Dinar dan kawan-kawan.
Bahkan katanya kasus mereka seperti kasus sebuah film yang diprotes habis dulu. Semakin ditentang semakin laris. Nah lho!
Jadi, Dinar dan kawan-kawan, terlebih lagi para produser program Joe Milioner (sengaja dengan satu huruf l) dan seluruh pendukungnya terbukti tidak punya niat baik kepada Indonesia.
Gimana ya kalo mereka dikasih hadiah satu trilyun rupiah untuk berakting dan beradegan panas dengan kerbau yang sesungguhnya tanpa pemeran pengganti? Kayaknya susah deh mereka menolak!!
Hidup Kerbau Milioner!!!