mencoba merangkai kepingan hati kembali yang cecer dalam tahun-tahun yang bangkang. lalu kau pun muncul dengan cerita yang menyuburkan kembali cinta. aku pun meneruskan pertanyaan lama tentang tema yang sama: ketika aku jatuh cinta mengapa mesti padamu? dan rindu yang berderak pasti hanyalah bisu.
ketika aku jatuh cinta mestinya bukan padamu, karena kata-kataku yang berarak pasti akan membeku. mencoba merangkaikan kembali kepingan yang cecer itu dalam cinta yang menerjemahkan detak hati dan rindu-rindu yang lebam dan lepas karena cemas.
mencoba merangkaikan kembali kepingan hati, aku pun pias dalam gemetar yang purba. merangkai musim yang lepas di penghujung usia.
2005
abi dari: al fajriah yudinovic, zaizathifah mirajiah yudinovic, muhammad az zahwan yudinovic, & zelena humairah yudinovic
5.31.2005
5.16.2005
deadline
pagi ini dan segelas hemaviton dan secangkir kopi
kombinasi yang hebat bukan?
4 hari menuju deadline bayar tagihan
pusing dan cape rasanya
tapi rutinitas tetap harus berjalan
the show must go on
2005
siang harinya amat panas dan membuat mata terkatup buka
sepi di tengah kebisingan
2005
kombinasi yang hebat bukan?
4 hari menuju deadline bayar tagihan
pusing dan cape rasanya
tapi rutinitas tetap harus berjalan
the show must go on
2005
siang harinya amat panas dan membuat mata terkatup buka
sepi di tengah kebisingan
2005
5.13.2005
ekspresionisme bulan
melihat bulan meminang malam seusai memproduksi keserakahan. nafas cuma sengal dari tubuh yang penat
mengharubiru dalam konsumsi gagap bernama posmodernisme yang multitafsir. maka kita pun menghitung
purnama ke berapa kini yang pias. malam cuma gelap yang rutin, sedangkan peradaban adalah gelap yang lain.
ah, dapatkah kita membayangkan kanak-kanak masa depan menyerupa alien berwajah mutan dan tak bisa menafsir
kemanusiaan?
melihat bulan memancarkan segan cahayanya. kita cuma membombardirkan harapan dalam kecemasan yang terformulasi.
postulat-postulat menghamili bahasa mengaborsi frase yang invalid. dan kita pun mengalkulasi ulang aktiva fasiva moralitas
yang dikubur hidup-hidup dalam kitab-kitab sekolah. lalu, sanggupkah kita menerawang ke hari depan melihat kanak-kanaknya
adalah qorun, namruj, dan firaun yang menghias kitab suci dengan api sampai menjadi abu?
kita pun memproduksi kecemasan lebih dari tiga perempat hidup. membayangkan sisa usia yang dijejali kekhawatiran yang lain.
dengan kerja yang dikorosi keinginan-keinginan semu. dan peradaban pun telah menuai polutan-polutan.
lalu engkau di mana?
2005
mengharubiru dalam konsumsi gagap bernama posmodernisme yang multitafsir. maka kita pun menghitung
purnama ke berapa kini yang pias. malam cuma gelap yang rutin, sedangkan peradaban adalah gelap yang lain.
ah, dapatkah kita membayangkan kanak-kanak masa depan menyerupa alien berwajah mutan dan tak bisa menafsir
kemanusiaan?
melihat bulan memancarkan segan cahayanya. kita cuma membombardirkan harapan dalam kecemasan yang terformulasi.
postulat-postulat menghamili bahasa mengaborsi frase yang invalid. dan kita pun mengalkulasi ulang aktiva fasiva moralitas
yang dikubur hidup-hidup dalam kitab-kitab sekolah. lalu, sanggupkah kita menerawang ke hari depan melihat kanak-kanaknya
adalah qorun, namruj, dan firaun yang menghias kitab suci dengan api sampai menjadi abu?
kita pun memproduksi kecemasan lebih dari tiga perempat hidup. membayangkan sisa usia yang dijejali kekhawatiran yang lain.
dengan kerja yang dikorosi keinginan-keinginan semu. dan peradaban pun telah menuai polutan-polutan.
lalu engkau di mana?
2005
5.10.2005
berjalan
aku telah menjejaki banyak tempat di nusantara di luar sumsel. tetapi di sumsel ini aku bahkan belum pernah menyelesaikan kunjungan-kunjunganku terutama ke ibukota-ibukota kabupaten dan kota(madya) di sini. tadi pagi aku ke pangkalan balai pertama kali dengan sengaja ke sana. sebelumnya sempat sekadar lewat dalam perjalanan palembang-jambi-riau. satu persatu aku akan mengunjungi kota-kota dalam wilayah sumsel.
2005
2005
Ke Pangkalan Balai
Tadi pagi aku pergi ke Pangkalan Balai mengurus BPKB dan STNK motor. Masih dalam jam kerja pegawai negeri sipil. Aku sempat mampir di sebuah kantin di depan sebuah kantor dinas yang mengurusi lalu lintas dan jalan raya.
Di kantin tersebut banyak terlihat para pegawai dan petugas yang bergerombol sambil omong kosong tentang banyak hal, termasuk tentang seks dan sejenisnya. Juga ada yang dengan semangat membandingkan pemimpin kantor yang sekarang dengan yang dulu. Sepertinya pemimpin kantor yang dulu masih lebih baik dalam pandangan salah seorang pegawai karena sering royal dan menugaskan serta mengajak ke luar kota, tentu saja dengan imbalan yang lumayan. Sementara yang lainnya mengatakan yang sekarang lebih enak diajak kompromi.
Ah, klise sekali rasanya kalau kita cermati. Tetapi lihat saja berapa banyak uang negara dihambur-hamburkan hanya untuk menggaji orang-orang seperti itu.
Maka kita pun berhutang sejak bayi sampai tutup usia untuk sebuah ketidakjelasan birokrasi.
2005
Di kantin tersebut banyak terlihat para pegawai dan petugas yang bergerombol sambil omong kosong tentang banyak hal, termasuk tentang seks dan sejenisnya. Juga ada yang dengan semangat membandingkan pemimpin kantor yang sekarang dengan yang dulu. Sepertinya pemimpin kantor yang dulu masih lebih baik dalam pandangan salah seorang pegawai karena sering royal dan menugaskan serta mengajak ke luar kota, tentu saja dengan imbalan yang lumayan. Sementara yang lainnya mengatakan yang sekarang lebih enak diajak kompromi.
Ah, klise sekali rasanya kalau kita cermati. Tetapi lihat saja berapa banyak uang negara dihambur-hamburkan hanya untuk menggaji orang-orang seperti itu.
Maka kita pun berhutang sejak bayi sampai tutup usia untuk sebuah ketidakjelasan birokrasi.
2005
5.07.2005
malam ini listrik setengah hidup
malam ini tiba2 saja listrik menjadi aneh. meredup dan sampai titik cahaya. lalu tiba-tiba membesar dan terang kembali. berulang-ulang. teramat aneh karena di ruko sebelah tidak demikian.
kebangkitan?
Mungkinkah suatu ketika tahun 1908 itu, Dr. Soetomo membayangkan Indonesia yang sekarang? Pemikiran kebangkitan berbangsa, kebangkitan nasional, memang membuat Dr Soetomo juga Dr Wahidin Soedirohoesodo pernah mengangankan Indonesia yang berdaulat, berjaya, berpikir dan bertindak tidak atas kemauan orang atau bangsa lain. Jejak-jejak keinginan Soetomo dan Wahidin mengilhami atau mungkin memelopori pergerakan menuju kemerdekaan bangsa. Lalu dimulai perjalanan panjang menuju sebuah negeri bernama Indonesia. Lalu lahirlah sebuah negeri bernama Indonesia. Lalu sengsaralah rakyat sebuah negeri bernama Indonesia.
Sengsarakah? Sepintas tidak kok. Tidak mungkin sebuah negeri yang berlimpah kekayaannya sengsara. Tempat hiburan senantiasa dipenuhi gelak tawa yang membuat orang tidak pernah berani membayangkan negeri yang bernama Indonesia itu sengsara. Orang masih bisa berplesir beserta keluarga. Para petinggi negara dari eksekutif, legislatif, dan yudikatif tidak pernah merasakan kepenatan dan kepeningan. Media massa baik cetak, elektronik, maupun internet berkembang. Televisi dibanjiri iklan-iklan. Sinetron dan film bercerita tidak satupun yang berakhir dengan kesedihan. Semua happy ending. Dsbnya dsbnya...
Apakah negeri yang seperti itu sengsara?
Sengsara itu pada akhirnya adalah alasan barangkali. Meskipun banyak orang yang harus melakukan kejahatan karena sesuap nasi. Meskipun bertebaran kemiskinan baik moral maupun materi. Tetapi jika disebut sengsara? Apakah memang kesengsaraan itu ada?
Mungkin suatu ketika pada tahun-tahun awal abad 20 itu, Soetomo, Wahidin, dilanjutkan Soekarno-Hatta, Syahrir, Soeharto Adam Malik, Sultan HB IX, Habibie sampai SBY di awal abad 21 ini mempunyai pemikiran berbeda. Bahwa Indonesia masa depan adalah Indonesia yang aneh. Barangkali suatu saat akan menjadi negara bagian yang ke-51 atau 52 dari sebuah negara besar di belahan utara Amerika. Mungkin saja tidak. Bahkan mungkin saja tidak akan ada lagi Indonesia dalam bentuk apa saja.
Selamat jalan Sipadan-Ligitan! Selamat jalan (barangkali) Ambalat! Selamat Jalan In....
Wahhh, aku bermimpi buruk rupanya. Selamat memperingati hari pendidikan nasional dan hari kebangkitan nasional dengan cara yang terdidik dan terbangkit!
2005
Sengsarakah? Sepintas tidak kok. Tidak mungkin sebuah negeri yang berlimpah kekayaannya sengsara. Tempat hiburan senantiasa dipenuhi gelak tawa yang membuat orang tidak pernah berani membayangkan negeri yang bernama Indonesia itu sengsara. Orang masih bisa berplesir beserta keluarga. Para petinggi negara dari eksekutif, legislatif, dan yudikatif tidak pernah merasakan kepenatan dan kepeningan. Media massa baik cetak, elektronik, maupun internet berkembang. Televisi dibanjiri iklan-iklan. Sinetron dan film bercerita tidak satupun yang berakhir dengan kesedihan. Semua happy ending. Dsbnya dsbnya...
Apakah negeri yang seperti itu sengsara?
Sengsara itu pada akhirnya adalah alasan barangkali. Meskipun banyak orang yang harus melakukan kejahatan karena sesuap nasi. Meskipun bertebaran kemiskinan baik moral maupun materi. Tetapi jika disebut sengsara? Apakah memang kesengsaraan itu ada?
Mungkin suatu ketika pada tahun-tahun awal abad 20 itu, Soetomo, Wahidin, dilanjutkan Soekarno-Hatta, Syahrir, Soeharto Adam Malik, Sultan HB IX, Habibie sampai SBY di awal abad 21 ini mempunyai pemikiran berbeda. Bahwa Indonesia masa depan adalah Indonesia yang aneh. Barangkali suatu saat akan menjadi negara bagian yang ke-51 atau 52 dari sebuah negara besar di belahan utara Amerika. Mungkin saja tidak. Bahkan mungkin saja tidak akan ada lagi Indonesia dalam bentuk apa saja.
Selamat jalan Sipadan-Ligitan! Selamat jalan (barangkali) Ambalat! Selamat Jalan In....
Wahhh, aku bermimpi buruk rupanya. Selamat memperingati hari pendidikan nasional dan hari kebangkitan nasional dengan cara yang terdidik dan terbangkit!
2005
selamat sore
selamat sore, adik
kita cuma berbincang dalam maya
melepaskan angan tentang rupa
seperti apakah engkau
dan kau pula berpikir seperti apa aku
kita nikmati saja
barangkali nanti akan ada akhir
sebuah simpulan buat bersama
dan bagaimana
kita lihat saja
selamat sore, adik
kita cuma berbincang dalam maya
melepaskan angan tentang rupa
seperti apakah engkau
dan kau pula berpikir seperti apa aku
kita nikmati saja
barangkali nanti akan ada akhir
sebuah simpulan buat bersama
dan bagaimana
kita lihat saja
selamat sore, adik
5.06.2005
sepi
sepi naghan oi
entah ngape nian dek bedie jeme ye datang
saghi ni aghi jemaat pule
mungkin li titulah sangkah jeme dek bedie njebul
tambah ujan pule dikit
entah ngape nian dek bedie jeme ye datang
saghi ni aghi jemaat pule
mungkin li titulah sangkah jeme dek bedie njebul
tambah ujan pule dikit
5.05.2005
Sajak Lagi
lamur
lalu aku pun lamur memandangmu
sekadar angan
pada frase yang berbau
di ujung penghujan
sebagai persiapan bagi keharubiruan
2005
pada 1998
kita pernah mengukur hari
terjerembab dalam
dalam sekali
kau pun lelah barangkali
aku juga
di sekujur tahun yang bising
di sela gumam yang kering
pada derajat nol
di belantara luar ada ketukan hymne
sepertinya tentang maut yang dirindukan
kau pun teramat lelah barangkali
aku juga
biarkan saja musim itu melindas
dalam gulirannya yang rutin
kita harus tetap mengukir hari lagi
dalam lelah itu
2005
lalu aku pun lamur memandangmu
sekadar angan
pada frase yang berbau
di ujung penghujan
sebagai persiapan bagi keharubiruan
2005
pada 1998
kita pernah mengukur hari
terjerembab dalam
dalam sekali
kau pun lelah barangkali
aku juga
di sekujur tahun yang bising
di sela gumam yang kering
pada derajat nol
di belantara luar ada ketukan hymne
sepertinya tentang maut yang dirindukan
kau pun teramat lelah barangkali
aku juga
biarkan saja musim itu melindas
dalam gulirannya yang rutin
kita harus tetap mengukir hari lagi
dalam lelah itu
2005
5.02.2005
hari pendidikan nasional
hari pendidikan nasional di tengah kekuasaan yang aneh. pendidikan pun cuma jualan.
5.01.2005
melacak jejak
baru saja aku melacak jejak
cuma angin yang bahkan kehilangan bisiknya
kau tak ada
di tikungan tempat tanda-tanda kita dulu
terdesak jamur kapitalisme
jemu
lalu aku beranjak sambil meninggalkan jejak baru
bukan apa-apa
entah kelak aku kembali kemari
meskipun kau tetap tak ada
2005
cuma angin yang bahkan kehilangan bisiknya
kau tak ada
di tikungan tempat tanda-tanda kita dulu
terdesak jamur kapitalisme
jemu
lalu aku beranjak sambil meninggalkan jejak baru
bukan apa-apa
entah kelak aku kembali kemari
meskipun kau tetap tak ada
2005
Langganan:
Postingan (Atom)