5.13.2005

ekspresionisme bulan

melihat bulan meminang malam seusai memproduksi keserakahan. nafas cuma sengal dari tubuh yang penat
mengharubiru dalam konsumsi gagap bernama posmodernisme yang multitafsir. maka kita pun menghitung
purnama ke berapa kini yang pias. malam cuma gelap yang rutin, sedangkan peradaban adalah gelap yang lain.
ah, dapatkah kita membayangkan kanak-kanak masa depan menyerupa alien berwajah mutan dan tak bisa menafsir
kemanusiaan?
melihat bulan memancarkan segan cahayanya. kita cuma membombardirkan harapan dalam kecemasan yang terformulasi.
postulat-postulat menghamili bahasa mengaborsi frase yang invalid. dan kita pun mengalkulasi ulang aktiva fasiva moralitas
yang dikubur hidup-hidup dalam kitab-kitab sekolah. lalu, sanggupkah kita menerawang ke hari depan melihat kanak-kanaknya
adalah qorun, namruj, dan firaun yang menghias kitab suci dengan api sampai menjadi abu?
kita pun memproduksi kecemasan lebih dari tiga perempat hidup. membayangkan sisa usia yang dijejali kekhawatiran yang lain.
dengan kerja yang dikorosi keinginan-keinginan semu. dan peradaban pun telah menuai polutan-polutan.
lalu engkau di mana?
2005