4.30.2005

sakit perut euy

seusai makan empek-empek
kena cuka yang asam dan pedas
habis 14 biji tanpa terasa
dan berakhir dengan menwa (mencret wae,sorry:))

4.29.2005

Jejaring

Jejaring namanya.
Kami cuma mencoba mempermasyarakatkan istilah Indonesia.
Konon dalam Bahasa Inggrisnya ia dilemakan sebagai web.
Meskipun world wide web sudah terpadankan sebagai jejaring jagad jembar masih terasa asing mencaplok jjj. sebagai pengganti www.
Jejaring awalnya sementara ini sekadar warnet dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Mungkin nanti ada perubahan atau perkembangan. Entahlah!

Doa

Tuhanku,
berilah terus kemampuan berdoa kepadaku
agar aku masih membutuhkan-Mu

Jumat itu 2005

4.27.2005

segar sekali

segar sekali sore ini
padahal aku belum mandi
gak tahu deh kenafaaaahh
kok tiba-tiba saja segar
apa aku sudah mau mati ya?

dendam?

Entah mengapa. Aku begitu pendendam akhir-akhir ini. Sebetulnya bukan karena banyak sebab. Cuma satu yang membentuknya. Aku sebetulnya bukan seorang pendendam. Aku memang agak gampang tersinggung, tetapi aku juga bisa dengan cepat melupakan kemarahan jika si penyebab meminta maaf atau bahkan tidak perlu meminta maaf sama sekali. Sudah berulang-ulang pula kejadian yang menyakitkan kualami, tetapi dengan cepat atau perlahan aku bisa memakluminya.
Tetapi ada sebuah kejadian yang membuat aku demikian marah. Teramat marah. Aku ceritakan intinya saja. Aku disepelekan karena sebuah alasan yang sama sekali tidak masuk akal. Tentang sebuah hubungan antara lelaki dan perempuan. Sebetulnya aku lebih senang misalnya orang menerima atau tidak sama sekali. Langsung saja katakan: iya atau tidak. Tidak mengambang dan plinplan. Aku tidak mau menjelaskan detailnya. Biarlah aku simpan sendiri. Pokoknya sampai sekarang entah mengapa untuk yang satu itu itu aku teramat sakit hati. Dan celakanya sakit hati itu tidak bisa kulupakan dengan cepat. Semakin ingin kulupakan semakin bertumpuk sakit hati itu. Sebetulnya yang lebih tepat bukan dendam sih. Sakit hati barangkali lebih tepat, tetapi kayaknya nyerempet-nyerempet ke dendam deh. Padahal sebelum ini hubungan yang terjadi meskipun tidak berhasil tidak pernah menyisakan sakit hati seperti itu. Naudzubillahi min zalik! Celakanya itu masih berlangsung sampai aku menulis ini, beberapa minggu atau bulan setelah kejadian itu.
Aku berlindung kepada-Mu Ya Allah dari setan yang menguasai dendam ini!
Kota kito, 2005

hari ini masih

hari ini masih
terdeteksi seperti kemarin
bergulat pada korosi
dan polutan yang memenuhi
haridepan kota
juga aku
bersikukuh pada dendam
yang subur

kota musi, 2005

4.26.2005

selamat malam

selamat malam,
mari kita lepaskan keinginan
sempurna!

Sampah Peradaban

Sampah peradaban itu bernama demokrasi.
Terserah jika para pendukung demokrasi tersinggung.

menanti malam

pagi dan kecemasan yang masih panjang
menjelang hari bersembunyi
nanti

4.24.2005

Tentang Seorang Teman

Temanku yang seorang ini adalah sedikit di antara orang yang kompleks. Bukan karena berkepribadian ganda, tetapi berkemampuan ganda. Sejak Taman Kanak-kanak sampai masa berkuliah ia sangat menonjol di segala bidang yang digelutinya. Ia mahir dalam permainan olahraga sepakbola, basket, volly, sampai renang dan tenis. Dalam banyak cabang itu ia bahkan menjadi kapten tim dan play maker. Terakhir ia sempat ikut seorang teman belajar bermain golf, dengan cepat ia diketegorikan mahir untuk kalangan pemula. Ia sering pula ke bermain billiar dan jarang bertemu tandingan di antara sesama amatir. Ia juga jago bermain gitar dan piano serta menyanyi serta mahir menggambar baik manual atau menggunakan komputer. Ia senang berpuisi dan menonton teater dan terlibat sesekali dalam pementasan. Ia berkuliah di jurusan yang bergengsi di perguruan tinggi yang termasuk terbaik di negeri ini. Indeks prestasi kumulatifnya tinggi apalagi untuk orang yang beraktivitas tinggi seperti ia. Ia mahir berdebat dalam bahasa Indonesia, daerah, atau asing. Ia menguasai banyak bahasa daerah karena pergaulannya tidak pandang bulu dan kegemarannya bepergian ke banyak tempat. Ia cakap dalam tiga bahasa asing secara aktif dan lebih banyak lagi yang pasif. Ia selalu memanfaatkan hari libur panjang dengan pergi ke banyak tempat sendirian. Nyaris seluruh nusantara dijelajahinya. Terkadang ia menginap di penginapan sederhana acap pula mampir ke tempat temannya. Teman-temannya banyak diperolehnya melalui chat room di MiRc atau YM. Ia tidak pernah bermain-main mencari teman. Ia chat untuk serius dan memperbanyak sahabat.
Temanku yang luar biasa ini terbiasa berpikiran jernih dalam menyelesaikan masalah dengan apa pun atau siapa pun. Tetapi pada saat tertentu ia juga bukan seorang yang diam saja jika harus menyelesaikan sesuatu dengan kekerasan. Ia mahir berkelahi meskipun tidak pernah memasuki satu pun cabang bela diri. Pada suatu saat adakalanya orang harus diyakinkan dengan kekerasan, ia pernah berkata.
Tetapi ia juga seorang yang sangat lembut hati yang gampang terharu jika melihat musibah. Ia penyayang anak kecil. Ia pencinta binatang. Ia seorang yang teramat rendah hati untuk segala keluarbiasaannya itu.
Malam-malam sepi ia sering kulihat secara tidak sengaja bersujud panjang kepada Khaliknya. Dalam solat malam yang khusyu ia tenggelam dalam interaksi dengan sang Pencipta. Ia memang seorang yang taat meskipun sepintas orang tidak akan melihatnya seperti itu. Ia sering membaca ayat-ayat suci Alquran sampai subuh menjelang.
Karena penampilan luarnya teramat sederhana--sering ia hanya memakai kaos oblong dan sendal jepit ke mana-mana-- ia acapkali dipandang sebelah mata oleh orang. Wajahnya biasa saja, dan sepertinya wanita tidak tertarik kepada penampilan yang seperti itu. Akan tetapi, wanita yang mengenalnya dengan dekat akan sulit mengatakan tidak tertarik kepadanya. Tutur bahasanya lembut tetapi tegas. Ia susah kompromi kepada kemungkaran meskipun hal tersebut akan merugikan posisinya. Dan kelak terbukti ketika ia mendapat sebuah jabatan strategis di sebuah perusahaan swasta. Ketika para petinggi perusahaan menyatakan akan merampingkan jumlah karyawan di perusahaannya, ia mengatakan bahwa perusahaan akan efektif jika para petinggi perusahaanlah yang harus dikurangi. Gaji dua orang petinggi perusahaan ternyata seharga gaji seratusan karyawan kecil. Maka dengan ia mengatakan bahwa yang layak dikeluarkan adalah dua orang petinggi bukan ratusan karyawan. Ketika itu ada seorang yang nyeletuk dengan mengatakan mengapa tidak ia saja yang mundur, dengan serta merta ia mengatakan bahwa ia sanggup mundur kalau memang dianggap tidak efektif. Ia akhirnya memang memilih mundur bukan karena ia tidak efektif, tetapi ternyata ia kalah suara dan ratusan karyawan yang menjadi tanggung jawabnya ternyata memang dirumahkan.
Tetapi selepas dari itu ia justru merasa bebas. Banyak tawaran yang lebih menarik untuknya. Tetapi ia sudah memutuskan bekerja sendiri dulu. Dengan kepandaiannya yang beragam ia pernah mengajar les piano, menjadi guru privat di rumah seorang kaya yang anak didiknya yang gadis itu pernah menggodanya. Ia juga pernah menjadi satpam untuk mencoba melihat kehidupan satpam seperti apa. Menjadi pedagang kaki lima yang digusur, menjadi sopir pribadi maupun sopir angkutan umum juga pernah dialaminya. Menjadi administrator jaringan sebuah perusahaan TI, konsultan keuangan, editor di sebuah penerbit, menulis artikel dan buku, menerbitkan buku terjemahan, menjadi pemandu wisata, menjadi wartawan, dosen, dan sebagainya juga pernah dilakoninya. Tetapi tidak ada yang lebih dari satu tahun. Ada yang cuma beberapa bulan, bahkan ada yang cuma beberapa hari, seperti menjadi guru privat pelajaran untuk orang kaya tadi. Semua penghasilannya memuaskan dan mencukupi. Semua terkadang ditabung sebagian untuk ongkos perjalanan sebagian lagi disumbangkannya ke banyak tempat memerlukan.
Ia juga terkadang jadi sukarelawan di posko-posko bencana atas nama sendiri, karenanya ia tidak pernah tercatat dalam pandangan orang. Ia juga pernah menjadi pelaut selama tiga bulan dan masuk ke sana atas ajakan seorang temannya. Di kapal ia banyak melihat kemungkaran dan ia sering berkelahi karena tidak mau dipaksa mabuk-mabukan dan main perempuan.
Semua itu tidak dijalaninya di satu kota. Ia hinggap di banyak kota bahkan di beberapa negara, sambil menantikan saat yang tepat untuk mengakhirinya.
Akhirnya ketika ia merasa sudah cukup berjalan. Ia kembali ke kampung halamannya. Meminta maaf kepada ibu dan ayahnya yang sudah tua dan senantiasa mencemaskannya. Ia memohon ampun kepada orang tuanya karena selama berkuliah ia sangat jarang pulang menjenguk sama sekali orang tuanya. Bahkan seusai berkuliah ia tidak pernah pulang. Sudah belasan tahun ia berkelana. Meskipun ia selalu memberi tahu orang tuanya di mana dia berada. Dan barulah ia memikirkan usianya yang sudah menjalani kepala tiga.
Ia lalu mengikuti saran orang tuanya untuk ikut test pegawai negeri. Mungkin ini kesempatan tes terakhir baginya. Ia mengikuti saran tersebut meskipun tidak pernah ada dalam hatinya keinginan untuk menjadi PNS. Ia kali ini berkompromi dengan keinginan orang tuanya untuk menebus rasa bersalahnya selama ini. Tetapi, pada saat tes itulah ia menemukan keajaiban negerinya. Justru ketika ia mengikuti tes yang digembargemborkan bersih bebas dari KKN ia tidak lulus. Bayangkan seorang yang lulus UMPTN di perguruan terbaik dan selesai dengan predikat cum laude dan selesai hanya dalam 3 tahun tanpa semester pendek (dulu memang tidak ada semester pendek:)), punya kemampuan di atas rata-rata, dengan nilai rapot dari SD tidak pernah di bawah 7, dan tidak pernah tidak berhasil tes sebelumnya baik dalam pendidikan atau mencari pekerjaan atau dalam pekerjaan itu sendiri ternyata tidak lulus tes calon pegawai negeri sipil! Padahal soal-soal yang disajikan dalam tes tersebut bukanlah soal-soal yang rumit baginya. Maka keajaiban itu telah dimulai baginya. Barulah ia melihat negerinya yang sesungguhnya melalui kampung halamannya bahwa yang diperlukan negerinya untuk melayani masyarakat bukanlah orang-orang yang mampu dan pintar.
Maka ia teringat Ronggowarsito. Jadilah orang gila di negeri yang gila.
Tetapi ia terlalu cerdas untuk menjadi gila. Otaknya yang brilian itu segera dengan cepat menemukan ide baru. Ia mulai mempelajari pertanian yang selama ini telah turut membantu pendidikannya dan adik-adiknya melalui orang tuanya. Ia membuat pertanian dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang kampungnya. Ia membeli lahan yang cukup dengan uang tabungannya dan menanam sayur-sayuran yang cocok dengan tanah kampungnya yang dikelola secara modern dengan mengundang seorang temannya yang pakar pertanian. Dan memasarkan hasilnya melalui jaringan yang sudah dibangunnya selama ini. Hanya dalam hitungan bulan hasilnya terlihat. Produksinya yang berlimpah dan hasilnya yang tidak mengecewakan membuat banyak orang tertarik dan latah ikut memproduksi. Tetapi ia memang seorang yang baik hati. Semua ilmunya dibagikan kepada tetangga dan masyarakatnya. Produksi massal itu menjadi perhatian pemerintah daerah pula akhirnya. Dan bantuan modal untuk para petani mengucur. Lalu mulailah kegilaan lain muncul. Seorang teman dan pemerintah daerah memotong jalur distribusinya dengan mencatut namanya. Tanamannya tiba-tiba banyak yang mati. Hasilnya tidak ada. Ia sempat merugi.
Akhirnya ia mengetahui penyebabnya. Ia hanya tersenyum getir dan dalam hati segera memaafkan perbuatan temannya itu. Pikirannya yang jernih itu telah melatihnya dengan baik. Sesaat setelah produksi sayur-sayurannya berjalan ia telah mempunyai rencana yang lain. Ia telah bekerja sama dengan temannya yang lain lagi. Dan pada saat itu ia juga telah menemukan pendampingnya, seorang teman masa kecilnya yang juga telah tinggal di mana-mana yang sekarang menjadi dokter. Mereka menikah. Mereka ternyata pasangan yang hebat. Masing-masing berpikir kreatif. Dengan jaringan mereka yang luas karena pergaulan panjang selama ini mereka segera saja telah punya usaha-usaha lain yang banyak jenisnya. Mereka mendirikan sebuah klinik kesehatan, juga telah mendirikan lembaga bimbingan dan bantuan untuk hukum dan keadilan. Mereka juga mendirikan tempat-tempat kursus bahasa asing dan komputer. Dengan inovasi yang beragam orang jadi kesulitan menjegal mereka. Atau mau latah mengekor usaha mereka.
Temanku yang hebat itu tetap saja seperti dulu meskipun untuk ukuran kampungnya bahkan mungkin propinsinya sudah menjadi konglomerat. Lalu usahanya juga berkembang di ibukota. Dia terakhir menjadi menjadi pemegang saham dalam sebuah penerbitan di Jakarta. Menjadi mitra untuk sebuah usaha pembibitan jagung di Bogor. Menjalin kerja sama dengan seorang rekannya di Makassar dan membuka usaha pengawetan ikan dan rumah makan Makassar di Papua. Membuka usaha tambak udang di Lampung yang dikelola adiknya. Tetapi ia tetap saja sederhana dan tidak dikenal orang, karena ia mewanti-wanti untuk tidak terlalu membesar-besarkan kehidupannya. Ia masih saja memakai kaos oblong sederhana dan bersandal meskipun sekarang sandalnya sandal sepatu. Ia masih sering berjalan kaki, meskipun ia punya dua mobil dan sepeda motor. Pagi-pagi seusai subuh dan mengaji satu dua surat Alquran, ia berolahraga bersepeda, kadang-kadang jogging. Sering pula sesekali bermain tenis dan badminton dengan para pemuda tetangganya. Dan ia masih kuat bermain volly. Sesekali masih bersepakbola dan berenang di kolam renang kecil di belakang rumahnya.
Di waktu senggang yang sedikit sesekali ia bermusik dan mengajari dua orang anaknya bermusik dan pelajaran sekolah. Ia juga mengajarkan langsung pelajaran agama dan mengaji kepada anak-anaknya selain juga memanggil guru mengaji ke rumahnya. Dan ia pun sudah berhaji.
Hebatnya lagi, ia tetap meluangkan waktunya untuk menjalin silaturahmi dengan teman-temannya di segala penjuru baik melalui sms, chatting, atau menelepon. Bahkan jika ia menuju ke sebuah kota yang terdapat teman-temannya ia sempatkan untuk mampir. Termasuk ke tempatku, meskipun ia juga bilang aku termasuk orang yang agak susah dideteksi keberadaanya.
Temanku yang hebat itu sekarang sudah berbahagia. Meskipun katanya kebahagiaan itu tidak bisa dilihat kasat mata. Tetapi aku berdoa, agar orang baik seperti dia tetap merasa bahagia di dunia maupun akhirat kelak.

4.22.2005

Uang Habis

Uangku habis! Huh!

Geram

dalam geram
begitu menggunung
terjerat kumpulan amarah
menyatu dalam hati yang terpaksa lepas

diam-diam
ada perjalanan
yang memuat harum kamboja
di batas yang tak kenal musim

selamat,
sumpah serapah itu telah kutumpahkan padamu
2005

4.15.2005

Tidak Punya Niat Baik kepada Indonesia II

Joe Milioner Indonesia. Barang jiplakan satu lagi yang dijual dan ternyata laris di negeri ini. Ada protes, ada yang gundah. Ada yang berteriak demi demokrasi tidak boleh ada protes. Demi demokrasi tayangan itu harus terus jalan. Gegabah! Kalau mau demokrasi-demokrasian tentu saja tayangan itu harus digusur. Hitung-hitungan kasar saja. Lebih banyak mana yang risih dan menolak atau lebih banyak mana yang mendukung.
Dinar dan kawan-kawan yang menjadi peserta ternyata tidak merasa dilecehkan. Artinya apa beda mereka dengan penghuni Saritem di Bandung, Kramtung di Jakarta, atau Dolly di Surabaya? Dinar cuma terlihat lebih terhormat. Kalau ditanyakan moralitas apalagi nilai agama kepada mereka, mereka akan sewot. Dengan berdalih masih ada tayangan TV yang lebih "sadis" dari mereka yang tidak dipermasalahkan. Bahkan ia mengakui pernah disorot sebuah stasiun TV untuk sebuah acara yang mengharuskannya cuma memakai bikini super irit!
Jadi, dalam pandangan Dinar --mungkin juga pandangan para penghuni lokalisasi seperti Saritem, Sarkem, dll itu-- yang penting adalah fulus yang mengalir lancar serta kenikmatan berkencan dengan lelaki ganteng dan kaya. Jangan bicara soal pelecehan dengan mereka. Diremas, diraba, dihajar, dibegitukan di depan jutaan pemirsa tidak menjadi masalah bagi Dinar dan kawan-kawan.
Bahkan katanya kasus mereka seperti kasus sebuah film yang diprotes habis dulu. Semakin ditentang semakin laris. Nah lho!
Jadi, Dinar dan kawan-kawan, terlebih lagi para produser program Joe Milioner (sengaja dengan satu huruf l) dan seluruh pendukungnya terbukti tidak punya niat baik kepada Indonesia.
Gimana ya kalo mereka dikasih hadiah satu trilyun rupiah untuk berakting dan beradegan panas dengan kerbau yang sesungguhnya tanpa pemeran pengganti? Kayaknya susah deh mereka menolak!!
Hidup Kerbau Milioner!!!

4.14.2005

Sajak Kamis

Musi
sungai dalam sengau yang parau
mencari jawaban
mengapa jejaknya harus dimanipulasi?
dalam dangkalan yang memakan luasnya
lalu daratan itu dinamakan benteng
menyerupa dermaga yang memenuhi nyaris seperempat tepi
musimu, musiku, musi kita
melenturkan ia dalam coklat dan pekat
membersihkan lumpur dalam lumpur
sambil berteriak dalam luka sejarah
di manakah balaputradewa?
2005

Jangan Kali Ini
Jangan kali ini
apakah ceritaku?
ibu, aku lelah teramat sangat
menapaki lelikuan jalan
barangkali engkau pernah menempuhnya
menegadah menatap langit aku larut
bersama lafaz
alif ba taku tak sebatas rapal
menuju tuhan dalam t kecil
jauh dalam keinginan yang terkurung
ingin berjumpa dengan-Nya
2005

Menuju-Mu
aku berjalan menuju Allah
berlari menuju Allah
mencari Allah
Allah
aku larut dalam sembelit cuaca tergerogoh diam-diam pada keputusan ekspresi hari yang ditasbihkan
pada regulasi waktu
maka cuma sebatas inilah aku sanggup
melalui puisi
bukan rapal suci
2005

4.11.2005

Tidak ada niat baik kepada Indonesia

Tidak Punya Niat Baik kepada Indonesia
Barangkali terlalu berlebihan jika kita langsung menuduh bahwa Raam Punjabi dan konco-konconya tidak mempunyai niat baik kepada Indonesia. Namun, tetap saja kita tidak bisa memaklumi kalau mereka punya niat mulia. Tidak bisa diprediksi pikiran orang yang tidak punya hati nurani seperti mereka. Dengan enteng mereka bisa berkilah bahwa ini karya mereka semata-mata hiburan. Karya mereka adalah proses kreatif yang tidak boleh diganggu gugat. Raam --belakangan diikuti juga oleh sineas muda yang konon menjadi harapan dunia perfilman Indonesia, semacam Rudi Sudjarwo, Nia Dinata dan lain-lain-- berkilah bahwa kerja mereka dimaksudkan untuk membangkitkan perfilman Indonesia. Bahkan dalam suatu kesempatan yang sempat ditayangkan seusai AA Gym dan MUI mengajaknya berdialog karena kasus Buruan Cium Gue (BCG), Raam dengan ringan mengatakan bahwa ia memang menjual mimpi. Rakyat Indonesia, menurutnya, sangat senang menonton hal-hal seperti yang ditampilkan di film-film seperti kemewahan yang tanpa batas, kehidupan yang nyaris hitam putih--jahat benar-benar digambarkan sangat jahat dan sebaliknya yang baik bahkan mengalahkan moralitas para rasul. Teguran, panggilan, apalagi sekadar imbauan tidak akan mempan terhadap Raam dan kawan-kawan. Mereka cuma akan tertawa dan menganggap para penentang mereka orang-orang yang tidak tahu diri, picik, bodoh, dan malas berkreasi.
Pada saat itulah seseorang yang berpikiran bahwa tidak ada perlunya membangkitkan film Indonesia akan dianggap musuh. Film Indonesia yang mati suri selama beberapa tahun harus diobati, dan penentangnya pastilah orang-orang yang tidak punya kerjaan. Demikian barangkali pendapat manusia-manusia film. Secara jujur harus diakui jika dilhat dari segi sinematografinya film Indonesia sudah sangat maju dan berbeda dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Tetapi, dari segi isi tidak ada bedanya. Kualitas film Indonesia dari sisi cerita mungkin membuat pekerjanya bangga, tetapi di banyak sisi membuat muak. Selain dari segi orisinalitasnya (meskipun ada yang dengan berani mengklaim bahwa ceritanya berdasarkan kisah masa lalu atau dari catatan harian seseorang), dari segi tema tidak ada satu pun yang menarik. Cerita yang ditampilkan tidak membumi ke masyarakat Indonesia. Cuma cerminan film Hollywood, Bollywood, atau Hongkong yang berbahasa Indonesia.
Manusia film itu bisa saja berkilah dengan mengatakan bahwa tema tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia yang mana? Masyarakat kota besar pun tidak seperti itu. Tetapi jika masyarakat tersebut adalah masyarakat perfilman atau kalangan selebritis lain maka bisa jadi alasan mereka benar bahwa ada masyarakat Indonesia yang seperti tergambar dalam film-film Indonesia tersebut. Berapa persenkah masyarakat Indonesia yang seperti itu?
Maka sebetulnya, di manakah niat baik terhadap Indonesia itu diletakkan? Para koruptor harus diberangus, para preman harus dibasmi, tetapi apakah manusia yang tidak punya niat baik kepada Indonesia harus dibiarkan? Apa guna seorang Raam di Indonesia? Apalah gunanya Indonesia punya film kalau sekadar ada? Apakah proses kreatif itu cuma berdasarkan kehidupan segelintir makhluk? Apakah karena kita punya demokrasi yang keblinger? Apakah-apakah yang lain masih berhamburan untuk dilontarkan.
Pada awalnya kita bisa saja berharap akan ada perubahan setelah film Indonesia konon dibangkitkan lagi. Tetapi ternyata kelatahan-kelatahan saja yang diproduksi. Pak Turut-Bu Turut saja yang dipelihara. Lalau semuanya senantiasa seperti itu. Lebih baik tidak ada film Indonesia jika tidak ada bedanya dengan Hollywood, Bombay, dan Calcutta. Dan jika atas nama demokrasi orang mendukung proses kreatif Raam, maka atas nama demokrasi juga kita hitung-hitungan lebih banyak mana orang yang menginginkan Raam tetap hidup di Indonesia atau diusir jika perlu dibunuh saja. Jika sampai 2/3 suara menginginkan Raam tetap di sini dan hidup melahirkan mimpi-mimpi memuakkannya biarkan saja Raam di sini. Akan tetapi, jika sebaliknya, beranikah para penguasa menyelamatkan Indonesia dari Raam dengan dukungan 2/3 suara secara nasional?
Saya yakin jika dalam perhitungan Raam diharuskan mati dan terusir dari Indonesia, Amerika akan campur tangan. Dan orang yang berteriak atas nama HAM(burger) akan sewot. Padahal bukankah hak asasi saya juga mengusulkan ini? Lha bukankah demokrasi itu suara terbanyak?
Jika ada yang tidak setuju, berhentilah berbicara tentang demokrasi!
'05

4.10.2005

Menjelang Malam

Menjelang malam
sebentarnya adalah kehilangan
salam orang-orang yang kalah
di luar aturan

Hari ini aku berhitung lagi
menitipkan harapan pada pahlawan
yang disapu angin
menyebabkan hujan badai
dengan dendam tak dipahami

4.09.2005

luka

LUKA
mencari diri dalam luka itu
kau kusematkan sebagai badge
resahmu memeluki segala penyesalan tak terhingga
kini bersembunyi pada seribu kecemasan
"aku mau pergi," katamu
lalu kau pun pergi dengan kepingan hati yang retak
bukan apa-apa
karena memang tak ada apa-apa
2005

sajak siang

SEPERTI MASA LALU
seperti masa lalu
masih menjejaki lumut di batu
mengejek mau
lupa kepada hari depan
di kota yang semakin kehilangan keaslian
karena penyeragaman
kau, aku
kelu dalam keluh
melalui musim menjelma muson
dan bandang yang tak surut
2005

SAJAK SIANG
siang
dan ketukannya yang sangar
mengawal kesempatan
sempit pada awalnya
lalu masa
menerobos tiba-tiba
sekadar mampir ngombe
dalam kegilaan yang kian terstruktur
2005

BAH!
aku berjalan di antara laporan jurnalisme kota
berdarah-darah dan norak deh!
dari lubuk terendah strata kasta
cuma ada bising yang seharusnya hening
kata cuma menjelma petaka
"aku mau berjalan saja di sini," katamu
entah di mana pengembaraan tanpa akhir itu
2005

CERITA
Tuhanku,
berjalan menuju-Mu
deras dan teramat berliku
Tuhanku,
cinta-Mu mengucur deras
namun tak sedikit pun
aku membalas
Tuhanku,
perkenankan aku mencintai-Mu
sekali lagi
2005