1.26.2007

Sajak-sajak

Suatu Hari di Kota Musi
seperti masa lalu
masih menjejaki lumut di batu
mengejek mau
lupa kepada hari depan
di kota yang semakin kehilangan keaslian
karena penyeragaman
kau, aku
kelu dalam keluh
melalui musim menjelma muson
dan bandang yang tak surut
2005

Suatu Hari di Kota Musi II
aku berjalan di antara laporan jurnalisme kota
berdarah-darah dan norak deh!
dari lubuk terendah strata kasta
cuma ada bising yang seharusnya hening
kata cuma menjelma petaka
"aku mau berjalan saja di sini," katamu
entah di mana pengembaraan tanpa akhir itu
2005

Tentang Siang Waktu Itu
siang
dan ketukannya yang sangar
mengawal kesempatan
sempit pada awalnya
lalu masa
menerobos tiba-tiba
sekadar mampir ngombe
dalam kegilaan yang kian terstruktur
2005

Kehendak
Tuhanku,
berjalan menuju-Mu
deras dan teramat berliku
cinta-Mu mengucur deras
namun tak sedikit pun
aku membalas
Tuhanku,
perkenankan aku mencintai-Mu
sekali lagi
2005

BKB
Bukan sedang tamasya di sini
Siapakah engkau?
Gelombang bertanya pada benteng
Mengapa engkau di sini membendung jalan
Yang telah kurangkai berabad-abad?

Seharusnya tidak begitukah?

Lalu bisik sungai
Aku menjadi ramping
Tepi ke tepiku mendekat pusing
menadah muntah sepasang kekasih mabuk
dari ziarah berahi

legenda itu telah pula kuhanyutkan
bersama pasar di bawah jembatan
yang sempat mencatat kedatangan banyak sultan
dan ulama pembawa kabar keselamatan

bukan sedang tamasya di sini bukan?
2006
Ket:
BKB=Benteng Kuto Besak di tepian sungai Musi Palembang.


Sabtu, dalam Bimbang
Sabtu apakah ini?
Pekan ini berlipat lagi
Aku tidak memintamu ke sana
pun membawakan cerita

Sabtu ini aku menimbang
Seiris kemungkinan
Seutas pengharapan
Sekerat permintaan yang telah menekuk mimpi
Di sepanjang petang yang semilir
Akankah pulang?

Namun aku tidak akan meninggalkanmu
Bersimpuh karena bimbang
Kecuali hati yang lapang
Akankah pulang?
2006

Hikayat
Seandainya waktu tidak menuliskan hikayat ini. Kita bertanya diam atau gagap, perempuanku.
Cinta telah digoreskan dengan belati. Menumpahkan nafas yang terbentuk dari dekapan purba.
Ah, kelak akan datang pasang yang mendekamkan kita dalam dekap atau gelap. Mendung yang menyerupa wajahmu bergegas menumpukkan catatannya agar waktu juga mengisahkannya saat semuanya ditafsirkan menjadi masa lalu.
2006



Seusai Subuh
Seusai subuh itu , anakku
Aku tiba-tiba merindui ayah
Kakekmu yang diam dalam harap
Pada penantian menuju kekal

Seusai subuh itu, anakku
Engkau menangis lirih

Tapi siapakah yang bisa menghitung maut
sedangkan detak pada jam dinding pun berhenti?
Engkau barangkali lelah menghela muasal
Sebab setiap detik waktu menjadi hampa
Adalah keabadian seperti kakekmu
Yang diam dalam harap

Seusai subuh itu, anakku
Lewat nafas yang dua belas jam
Di ruang berbau obat
Sekarat dalam tangan perawat sesat
Yang ijazahnya mungkin asal tamat
Dari akademi minus surat-surat

“Untuk apakah sebuah kehidupan?”
katamu seusai subuh itu.
Nov 2006



Masih Kita Tertawa
Marilah, nak! Kita bersihkan sajak yang dilumuri lara
(ada apa antara jejak yang terkunci
memerintahkan pagi menghapus dengan embunnya?)
kita pandang dunia dari tepi mencari zenith mencari nadir
menggambar horizon yang membelah
lukisan menjadi dua dunia: atas dan bawah
sembunyikan gerimis dari kita,
(sajak tetap menjelma omong kosong
menuai perang kritikus yang kehabisan bahan bacaan)
marilah, nak, kita tertawa!
2006

Kata
Saat ini aku cuma bisa membuat sajak
Tentang rindu yang berderak-derak

(apa mungkin aku bisa melukis
Kenangan bagi anakku?)

seperti saat yang diperdebatkan itu
sajak cuma bisa menjegal nama dan bermimpi
di rumah kita
2006

Hari Pahlawan
Ada upacara kemarinpagi di pemakaman
Veteran yang menjaga lumbung padi
Mati kelaparan sebelum tugasnya selesai.
2006

Ekspresi Kaca
Ia mencoba menulis di atas kaca. Pada huruf italic. Waktu Cuma sepermainan kanak-kanak bersirobok berebut mainan. Menyulap bahasa pada hvs berukuran kwarto tentang kepak pagi. Tentang wahyu untuk para nabi. Di mana kebenaran bersembunyi! Sedangkan televisi nyinyir mengutip perih. Kau selebritis, kau bukan selebritis. Tidak jelas. Sketsa muka atau rajah tangan, bukan apa-apa. Kaca retak lalu pecah. Tertekan serupa hatinya yang guyup. Gigil ia menggenggam jemari. Berkelutuk. Meski kerontang meranggas bareng kemarau tak usai-usai. Ia terkena sindrom. Gagap dan cemas bicara. Ada ketakutan seperti pembunuhan di rumah sakit. Ia menulis, hanya bisa menulis. Di atas kaca yang pecah. Tentang apa pun yang meruak di deru api. Tentang deras: pada hujan, pada banjir. Bermimpi tentang lepas dan lega. Merenungi peluru kendali yang yang menghujam hati. Serta badai yang menikam hari serta sejumput puisi.
2006

Sekonyong-konyong
I
Sekonyong-konyong ada detik
Terlewat selangkah
Bukan untuk tapak yang panjang
Seperti berbeban
II
Kita bersitatap gagap
Bersama harap, beserta cemas yang gegas
Menghitung napas yang dikejar
Dan terlewat selangkah
“Tidakkah kita salah mengalkulasi?” katamu.
Kitapun diam. Melewati benua malam.
Meski baru setengahnya tertanam
III
Deru sepeda motor cina yang dipacu paksa
Mengawal luka
Menjadi ritme yang jaga.
Sedang kita bertambah gigil
Dan pasti muram.
Barangkali selepas genggaman lebam.
Hilanglah harapan.
2006

Walikota pergi ke Beijing
Sipakah yang menerjemahkan kota ini
Gerimis yang sesaat atau sepasukan
kemarau?
Kerontang tak tercatat juga dingin yang
sebentar
kota hanya kehendak tunggal
melulu gedung berkotak-kotak
tanpa mental sebab hilang adab
ke Beijing kita anjangsana
membawa duit yang selaksa
sambil bercerita:
kami datang dari negeri paling kaya
lihat saja kami datang dengan dendang dan pesta-pesta
(akulah yang paling kaya, katamu, karena aku tinggal
menunjuk. Siapa yang berani menanyakan
anggaran hanya membuat lempang jalan ke nisan baka)
kota hanya sekat
dibuat berdasarkan khianat musim yang telah melupakan
tanggal kapan harus berbuat:
kerontang tak tercatat atau dingin berkerat
ke Beijing kita anjangsana
menghapus peta kefakiran kota
Pagaralam, 2006

Salam Selamat Datang Buat Tuan Bush
ini bukan Tikrit atau Gaza
pula Kabul atau Peshawar
kedatangan tamu bagi kami adalah kehormatan
tetapi mengapa engkau begitu cemas, tuan?
apakah yang membuatmu begitu ketakutan?

kami bukan Saigonmu yang dulu atau Pyongyang
tak kami milik Castro, Khadafi, dan Ahmadinejad
disini kami hanya punya segelintir teriakan
yang bahkan lalat pun tak memedulikan
atau kau sebetulnya seorang pengecut yang ketakutan
karena aibmu sendiri?

di mana bumi dipijak di situ bumi menolakmu
ada apakah sebetulnya, tuan?

tetapi, aku lalu bepikir lain
kau sebetulnya tidak mau diapa-apakan
hanya sejawatmu di negeri kami yang ketakutan
sehingga mencari mukanya di galian Kebun Raya
barangkali tertanam di sana
hilang saat kau datang mendaratinya
berharap engkau menggantinya
entah operasi plastik atau sekedar sketsa
sementara rakyatnya bahkan tidak boleh makan
sebab dilarang berdagang dan membawa angkutan

ini bukan Tirkit atau Gaza
hanya Buitenzorg yang kebetulan punya rusa
dan istana milik sejawatmu yang megah
yang mencari mukanya di galian Taman Pusaka

selamat, tuan
hanya engkau yang bisa membuatnya ketakutan
meski 6 miliar melayang
di atas gedung-gedung sekolah yang hancur berantakan
2006


Ekspresionisme 2006
Jika kita menanti harap lagi, dik, adalah harap yang terselubung sedangkan tahun adalah kita yang gugur dan usia yang tercatat. Jejak kusam tak terbawa dalam diam bersembunyi pada rotasi, waktu pun sepenggal nafas. Ada yang terbuai, ada yang terbuang, ada yang terkulai, ada yang tertuang. Negeri kita pun melulu bercerita tentang nestapa. Roti basi hingga jamaah haji kelaparan. Poligami yang dicemaskan dan pornografi yang diacuhkan. Penjilatan ke negeri adidaya hingga jalan-jalan berpesta di mancanegara.

Siapa peduli bahasa Indonesia, jika film-film pun dinamai asing. Siapa peduli tanah air jika tanah dan air sudah kering. Siapa peduli bangsa, jika negeri ini sudah tak eling. Kita tak usah menanti harap, dik. Ia mungkin akan hadir, barangkali pula tidak. Kita tinggal menunggu cemas.

Kita hitung saja cemas, dik. Adakah ia lebih giat daripada pengharapan. Apakah ia telah menjelma keputusasaan. Kapal tenggelam, pesawat tumbang, beras membumbung tinggi tetapi terompet dan meriam berteriak-teriak di malam tahun baru. Siapa peduli, siapa peduli. Ah, kita memang telah kehilangan kalbu. Lupa di mana letak nurani. Karena tapak yang kian kusam sudah tidak berjejak.

Persetan semuanya! Kita melaju saja, pura-pura mesra dengan bergandengan tangan sambil mulut terus mengunyah serapah. Suatu saat, kita muntahkan serapah itu ke kepalanya. Orang yang tersenyum dalam kekuasaannya yang sebetulnya rapuh. Sampai ia mengiba karena telah menghina bapak moyangnya sendiri.

Selamat tahun baru, dik. Sepertinya episode kita akan tetap sama seperti kemarin.
Catatan awal 2007

Pusara
Kemarin masih belum kering tilas tahun gugur
Seusia sobekan almanak
: Zidane dalam Materazzi
Ronaldo mencetak 15 gol sepanjang piala dunia
Ada adegan lumpur menggenang
Dalam isu poligami dan perselingkuhan anggota dewan
Artis cantik mati overdosis, syuhada gugur digantung Amerika
Ada anak kecil genit sedangkan ibu kian tua, putri yang gugur seusai hari raya
Bush yang busuk datang disambut dengan megah penjilatnya
Sinetron picisan semakin gencar menyerbu
Malapetaka kian santer mendera-dera negeri yang sebetulnya sudah lelah
Entah apakah dalam sobekan-sobekan almanak berikutnya masih tetap ada
Hanya pusara segala jejak yang kelam atau tidak
Menjadi prasasti bagi haru biru kepingan hati
Persis setelah hadir dalam 365 hari
Catatan awal 2007

Cerpen, Kritik, dan Kritikus

dimuat di Sriwijaya Post, 21 Januari 2006

Cerpen, Kritik, dan Kritikus
Oleh Eko W.M. Pagaralam
Seperti yang Alpansyah bilang (Sriwijaya Post, Minggu, 7 Januari 2007), genre sastra seperti cerita pendek (juga puisi) mendapat lumayan perhatian dari sejumlah media lokal. Saya pribadi melihat Sriwijaya Post punya perhatian melebihi media lain untuk rubrik yang mengkhususkan diri dalam bidang budaya. Artinya, dibandingkan dengan harian lain yang terbit di jagad Sumsel ini, konsistensi pemuatan cerpen, puisi, dan esei tentang kebudayaan secara umum lebih terjaga. Kadangkala ada media yang lebih mementingkan pemuatan tulisan redakturnya atau seorang yang kenal secara pribadi dengan redakturnya. Jadi, tulisan yang muncul terkadang semua berisi opini atau berita. Rubrik cerpen dan puisi sering dihilangkan. Pemunculannya hanya dua atau tiga minggu sekali, bahkan dalam sebulan tidak muncul sama sekali.
Saya tidak sepaham jika redaktur budaya sebuah surat kabar lebih paham corak cerpen (juga puisi) yang diinginkan pembacanya seperti yang diungkapkan Alpansyah. Karakter surat kabar berbeda dengan majalah atau tabloid yang biasanya memang bervisi khusus. Sebut saja misalnya, majalah remaja Aneka yang memang membidik kalangan remaja dan tulisan-tulisan yang ada di dalamnya termasuk cerpen, amat meremaja. Atau majalah remaja Islam Annida (yang melahirkan Forum Lingkar Pena yang telah menasional, di Palembang yang saya ketahui dikomandoi oleh Dian Rennuati), corak cerpennya lebih terfokus kepada tema-tema keislaman.
Sedangkan surat kabar, meskipun dipandang surat kabar Islam, misalnya Republika, tetap saja temanya beragam, meskipun mayoritas memang lebih mengarah ke nuansa islamnya. Cerpen-cerpen Kompas lebih beragam lagi, meskipun sering dianggapsebagai media yang tidak “islami”, tema sufistik lumayan sering muncul, salah satunya adalah cerpen Jejak Tanah karya Danarto yang menjadi cerpen terbaik dalam kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2002.
Tetapi, jika yang dimaksudkan adalah corak yang dinginkan redaktur, bisa disepakati. Karena selera redaktur yang lebih berperan dalam penerbitan sebuah surat kabar. Tetapi, redaktur yang cerdas tentu saja tidak melihat cerpen dari melulu dari temanya, tetapi lebih menekankan bagaimana nilai sastra dalam cerpen tersebut. Kalau melihat dan menilai cerpen dari temanya, tentu saja kecil kemungkinan cerpen Jejak Tanah dan sejenisnya akan dimuat di Kompas, karena subyektivitas redaktur dan visi medianya akan bermain di sini.
Jika redaktur budayanya (terutama) hanya mempunyai pengetahuan sastra seadanya, maka dapat dipastikan cerpen yang dimuat pun seadanya. Artinya, kalau ada cerpen yang dikirimkan dan isinya sesuai dengan selera hatinya—tidak peduli apakah cerpen itu akan sangat “pop” atau serius—tentu akan dimuat.
Kadang-kadang ada satu dua cerpen atau puisi yang bagus di harian (terutama harian lokal di Sumsel) ini. Kadang-kadang pula ada yang teramat “seadanya”. Saya tidak begitu paham seperti apa kriteria pemuatannya. Ada yang sangat produktif menulis (saya kagum dengan produktivitasnya), tetapi sepertinya penggalian demi penggalian untuk perbaikan cerpennya tidak terlihat. Bukan berarti saya anti budaya pop, tetapi cerpen yang muncul kebanyakan memang sangat bernuansa pop. Tidak jauh berbeda dengan cerpen-cerpen majalah percintaan remaja. Gampang tertebak, tidak ada kejutan, alur dan konfliknya datar. Atau kalau tidak itu, variasi dan gaya bertuturnya miskin kreasi. Saya tidak tahu apakah hal tersebut terjadi karena penulis atau penikmat cerpen, khususnya atau sastra pada umumnya memang sangat sedikit sehingga sangat sedikit pula yang mengirimkan karyanya? Ataukah karena memang tidak berkembangnya para penulis atau penikmat cerpen karena tidak mau mengeksplorasi diri dengan referensi-referensi, bacaan-bacaan bandingan di luar cerpen yang selama ini mereka baca? Ataukah karena memang tidak mengikuti perkembangan penulisan cerpen sama sekali sehingga yang diketahui hanya bahwa membuat cerita dalam cerpen adalah seperti cerita-cerita yang ada di sinetron itu? Atau memang selera redakturnya memang seperti itu? Atau mempertimbangkan selera pasar?
Saya sepakat dengan Alpansyah, harus ada garis yang jelas menandai apakah sebuah cerpen itu layak muat atau tidak. Dalam hal ini bukan hanya (calon) penulis cerpen yang harus memperbaiki diri, tetapi juga para redaktur budaya yang harus lebih ahli lagi menentukan kesahihan sebuah karya. Karena secara tidak langsung para redaktur budaya berperan sebagai kritikus, meskipun tidak menuliskan kritiknya. Tidak ada salahnya kita mengikuti tradisi Tolstoy, sastrawan besar Rusia itu, membaca minimal 600 halaman buku per hari. Paling tidak seperempatnyalah.
Satu lagi yang juga perlu diperhatikan adalah sepertinya menjadi penulis (apa saja) memang tidak dihargai di sini. Artinya, menulis adalah pekerjaan yang menghasilkan uang. Padahal menulis di media massa nasional, penghargaanya lumayan tinggi. Satu tulisan saja yang dimuat, lumayan untuk membantu-bantu menambah penghasilan di tengah merejalelanya koruptor di negeri yang kian semrawut ini. Bahkan untuk surat kabar-surat kabar daerah tertentu yang notabene tidak lebih baik dan makmur dari media massa lokal sini, penghargaan terhadap penulisnya lumayan berarti. Padahal media massa tersebut murni berdikari, bukan merupakan jaringan atau grup media apa pun. Jadi, menulis selain mencerdaskan nurani, memperlancar keterampilan berbahasa, juga mendatangkan hasil yang lumayan. Ada kepuasan lahir dan batin. Dan percayalah, akan lebih banyak tulisan berkualitas yang akan muncul! Saya pernah beberapa kali menulis di media lokal, tidak ada tanda-tanda kecipratan rezeki. Bukan berarti saya cowok matre bo! Cuma bertanya tentang hak atas kekayaan intelektual (HAKI) dan profesionalisme media.
Saya tetap mencoba menulis, apa pun hasilnya. Menulis bukan pekerjaan iseng, atau sambil lalu saja. Ia butuh keterampilan tersendiri. Sama seperti dokter, guru, pengusaha, dan profesi lainnya. Cuma profesi penulis belum lazim di sini. Toeti Heraty pernah bilang dalam pengantar buku Hidup Matinya Sang Pengarang yang dieditorinya, siapa yang peduli hidup matinya pengarang? Bukankah sering terjadi seorang pengarang sesudah mati baru mendapatkan appresiasi?¹
Alpansyah juga mengatakan bahwa terlepas dari geliat penulisan cerpen yang terus memantapkan keberadaannya, khususnya di Sumatera Selatan, harus diakui bahwa ulasan yang mengupas cerita pendek secara komperehensif masih terasa sangat kurang. Tetapi, ada kendala yang mungkin juga turut membuat situasi itu terpelihara. Apa yang bisa kita harapkan dari satu halaman budaya surat kabar dalam setiap minggu? Walaupun ada pengupasan atau pengapresiasian terhadap sebuah atau beberapa buah cerpen, penulisannya akan tanggung. Karena satu halaman itu dibagi lagi untuk porsi cerpen dan puisi serta iklan. Bisa jadi malah akan menimbulkan salah tafsir atau salah paham.² Sementara untuk menambah halaman rubrik barangkali akan sangat berat bagi surat kabar yang di kota atau daerah tempat terbitnya para penggiat dan penikmat seni dan budaya hanya segelintir. Pertimbangan finansialnya menyatakan merugi.
Kritik sastra (termasuk cerpen atau puisi) media massa adalah kritik sastra nonakademis (untuk membedakannya dengan kritik sastra akademis yang berasal dari kampus-kampus sastra). Dalam hal ini pendekatan kritis terhadap sebuah karya sastra menurut M.H. Abram adalah pendekatan obyektif yang menitikberatkan pada karya, pendekatan ekspresif (pada penulisnya), pendekatan yang menitikberatkan pada alam semesta (mimetik), dan pendekatan yang menitikberakan pada pembaca (pragmatik).³
Kritik sastra yang lebih sering dibahas media massa adalah kritik sastra obyektif. Memang akan lebih fair mengkritisi karya daripada pribadi penulisnya. Kritikus seperti Maman S. Mahayana, yang diceritakan dengan penuh semangat oleh Alpansyah, ada J.U. Nasution dan S.Effendi, ada Rahmat Djoko Pradopo dan Faruk di Yogya, atau Partini Sardjono dan Wilson Nadeak di Bandung adalah nama-nama kritikus sastra akademis yang sudah punya nama. Saya meragukan mereka juga punya nama di Sumsel ini. Kritikus nonakademis lebih banyak lagi, ada yang merangkap sebagai sastrawan sekaligus seperti Seno Gumira Ajidarma atau Goenawan Mohamad, atau ada Arief Budiman dan Ariel Heriyanto, sosiolog yang penikmat sastra, atau Ajip Rosidi dan Ayat Rohaedi, dua saudara yang mumpuni.
Jadi, pengulasan atau pengapresiasian sastra (khususnya cerpen) harus lebih digiatkan di tataran yang lain. Karena tidak ada Fakultas Sastra di Sumsel ini, tentunya sulit mengharapkan akan kelahiran kritikus akademis di sini. Tetapi kritikus nonakademis masih bisa dimunculkan melalui tulisan di media massa walaupun cuma sedikit ulasan atau misalnya lebih sering dipergiat diskusi dan bedah cerpen lokal. Dimunculkannya forum-forum kajian. Diupayakannya penerbitan kumpulan cerpen penulis lokal, lalu dibedah atau dikritisi secara terbuka. Diskusi kecil pun kadangkala bisa melahirkan gagasan besar. Syukur-syukur nanti ada penambahan halaman rubrik seni dan budaya. Syukur-syukur pula tidak lupa membagikan rezekinyaJ.

Catatan kaki:
1. Di sini saya menyamakan istilah pengarang dan penulis. Dalam literatur Inggris (Eropa pada umumnya) dibedakan antara author (pengarang) dan writer (penulis).
2. Ini yang saya cemaskan! Saya tidak tahu apakah ini yang menjadi pertimbangan tulisan saya dipotong (bukan diedit, lho) lebih dari separonya oleh sebuah harian lokal (bukan Sripo). Bahkan nama pena pengarang turut dipotong. Padahal Japi Tambayong dan Alif Danya Munsyi dianggap orang berbeda meskipun mereka adalah Remy Silado.
3. lihat Abrams,M.H.1958. The Mirror and the Lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. New York:Norton.

Penulis adalah Alumnus Jurusan Linguistik Indonesia Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Bandung

Seniman dan Kawan-kawan

Seniman dan Kawan-kawan
(Tanggapan atas Tulisan T. Wijaya)
Oleh Eko W.M. Pagaralam
Seperti apakah karya seni itu? Atau apakah seniman itu? Dalam kamus Bahasa Indonesia (lebih tepat Kamus Besar Bahasa Indonesia), W.J.S. Poerwadarminta yang dikutip T. Wijaya (TW), (Sumatera Ekspres, Minggu, 10 Desember 2006) seniman disebut ‘Orang yang berkecakapan menciptakan atau melakukan sesuatu yang termasuk kesenian’. Kita bandingkan pula hal tersebut juga tidak begitu berbeda dengan yang disebut dalam Kamus Bahasa Indonesia Badudu-Zein atau Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Jelas di sana disebutkan bahwa orang bisa disebut seniman jika dia berkecakapan menciptakan atau melakukan, terlepas dari masalah apakah dia melakukan atau menciptakan sendiri karyanya. Memang betul Rendra pernah bilang bahwa tidak gampang menjadi seniman. Benar memang ada penilaian publik yang berperan besar terhadap (penciptaan) seorang seniman Sahih pula jika dituntut konsistensi dan keterusmenerusan berkarya sehingga ada pengakuan terhadapnya.
Maka, di sinilah saya mengherankan diri terhadap pernyataan TW, yang kemudian didukung pula oleh Sutan Iwan Soekri Munaf (SISM), dalam Sumatera Ekspres, Minggu, 24 Desember 2006, yang menerjemahkan seniman melulu dari hasil karya cipta sendiri.
Saya kutip dengan jelas pertanyaan TW dalam alinea ke sembilan tulisannya Seniman di Antara Kawan Seniman. Sebelum kita menjawab itu, mari kita tanya dulu, apakah aktor sinetron, aktor teater, pemain musik atau penari disebut seniman?
Bukan, jawab TW tegas. Sebab mereka sekadar “pemain” (dipertegas dengan dua tanda kutip). Meskipun mereka berkali-kali bahkan mungkin ribuan kali mereka memainkan karya. Mereka disebut TW sebagai “buruh seni abadi” (kali ini saya yang menambahkan tanda kutip).
Buruh seni artinya bukankah juga pekerja seni? Apakah bedanya dengan seniman, yang seperti jelas pada prolog tulisannya disebutkan seniman adalah pekerja. Bukankah buruh dan pekerja bersinonim? Punya kegiatan yang sama? Aktor teater misalnya, ada yang memang hanya melakukan sesuatu yang termasuk kesenian meskipun tidak menciptakan sesuatu yang termasuk kesenian. Rendra adalah seniman teater yang mumpuni meskipun kebanyakan pementasannya kebetulan adalah karya diri sendiri. Dalam hal ini bukankah Rendra adalah sekaligus sebagai seniman yang mencipta dan seniman yang melakukan?
Saya tidak melihat TW (SISM tidak menyinggungnya sama sekali)— mencermati seni lakuan itu sebagai sebuah kesenian. Lantas apakah sebuah karya, misalnya naskah drama yang kemudian dipentaskan di panggung teater oleh bukan penulisnya lalu tidak lagi dinamakan kesenian? Dan para pelakunya bukan seniman? Atau barangkali TW berpendapat lain bahwa akting atau seni peran alias seni lakuan bukan termasuk di dalam kesenian?
Demikian juga seorang pemain musik. Pada pementasan musik beranikah kita mengatakan Bubby Chen bukan seorang seniman hanya karena dia memainkan karya orang lain, misalnya memainkan musik klasik dari Mozart atau musik lain yang jelas-jelas bukan karyanya sendiri? Saya tidak akan mampu mengatakan Djaduk Ferianto bukan seniman karena ia memainkan musik etnik yang anonim. Atau saya tidak akan berani mengatakan Waljinah bukan seorang seniman karena ia tidak menciptakan sebuah karya.
Siapakah yang meragukan akting Al Pacino, Robert de Niro, atau Dustin Hoffman yang jago-jago seni peran kelas dunia itu? Atau Christine Hakim jika kita mau melihat pelaku seni lakuan negeri sendiri? Bukankah mereka adalah para jagoan di seni akting? Mereka memainkan karya sutradara atau para penulis naskah, bukan karya mereka sendiri.
Di satu sisi saya sependapat dengan baik TW maupun SISM bahwa ada penilaian publik yang berperan terhadap penyenimanan seseorang. Seperti kita tidak mungkin langsung menganggap nenek kita yang doyan berdendang ketika mandi atau adik kita yang masih TK yang menulis puisi untuk lomba tentang cita-citanya sebagai para seniman. Akan tetapi, lagi-lagi saya tidak sepaham dengan TW tentang penerbitan (dalam hal ini misalnya) sebuah buku untuk sebuah pengakuan bagi seseorang untuk disebut sebagai seniman. Seperti SISM katakan, karya Emily Dickinson (1830-1886) bahkan baru dibukukan setelah ia meninggal dunia. Lebih tepat lagi setelah enam puluh empat tahun kematiannya. Adalah Thomas H. Johnson yang membukukan 1775 buah karya puisinya pada tahun 1955. Juga Chairil Anwar, yang besar dan karyanya dapat dinikmati dalam bentuk buku antara lain karena ketelitian seorang H.B. Jassin. Dalam dunia seni lukis kita pernah mendengar di abad ke-19 Vincent van Gogh, sang maestro pelukis misere dengan warna cerahnya, yang dikagumi dengan “iri” oleh Affandi, primadona seni lukis kita, karena katanya dia tidak menguasai lukisan dengan warna cerah semahir pendahulunya itu. Padahal van Gogh semasa hidupnya malah hanya mampu menjual satu lukisannya! Perjalanan hidupnya adalah penderitaan pahit, namun usai kematiannya adalah cerita kecermerlangan.
Ada sebuah kehati-hatian yang terabaikan yang bisa menjebak seseorang pada keangkuhan intelektual. Ucapan Chairil Anwar “Yang bukan penyair jangan ambil bagian”, tidak bisa dilihat sekilas demikian. Chairil mengucapkan itu dalam rangka polemik yang memang ramai pada waktu itu. Ketika orang masih membicarakan seni untuk seni (l’art pour l’art) pada zaman pujangga baru bahkan sebelumnya, seni sepertinya tidak boleh dinikmati oleh kaum awam. Sama seperti kitab suci yang zaman dahulu hanya bisa dan boleh didengarkan oleh kaum brahmana, sehingga jika rakyat biasa apalagi yang berkasta paria maka telinganya harus ditetesi timah panas yang meleleh meskipun tidak sengaja mendengarnya..
Pada zaman Chairil itu pula lalu berkembang seni yang realis dan humanis. Artinya, seni diciptakan apa adanya tambah ditambah-tambah atau dikurang-kurangi. Seni juga menjadi pencerahan bagi sebagian masyarakat, seperti juga dikedepankan SISM tentang sajak-sajak patriotik Cairil Anwar. Dengan demikian dituntut sebuah kejujuran dalam kesenian. Seni ditampilkan tanpa pretensi selain sebagai ungkapan ekspresi bagi khalayak..
Maka jika kita berani menyebutkan nama Pramoedya Ananta Toer, berani pula kita untuk berkata bahwa ia termasuk penentang keras ucapan Chairil “Yang bukan penyair, jangan ambil bagian’. Dengan Lembaga Kebudayaan Rakyatnya, kita tahu Pram adalah pendukung seni sebagai panglima yang menghalalkan seni untuk tujuan tertentu termasuk menjadi alat politik. (hal ini bisa kita bicarakan di polemik yang lain).
Kembali kepada pernyataan seni. Dalam bahasa Inggris lema ‘art’ bisa dipadankan dengan entri ‘seni’ dalam ungkapan Indonesia. Pelakunya menjadi ‘artist’ dalam ujaran Inggris dan seniman dalam tuturan Indonesia. Nah, di sinilah barangkali terjadi penyempitan makna. Kata-kata ‘seniman’ dan ‘artist’ berkembang hidup bersama-sama dalam bahasa Indonesia. Hidup dengan berdikari. Seniman kemudian disebut seperti dalam kutipan kamus ‘Orang yang berkecakapan menciptakan atau melakukan sesuatu yang termasuk kesenian’. Sedangkan kata artist (artis) menyempit maknanya melulu kepada pemain sinetron atau film atau penyanyi pop. Belakangan mereka malah disebut selebritis. Ini salah satu keunikan bahasa. Dia tumbuh secara tidak terduga. Seniman yang tadinya adalah padanan morfem artis, lalu berkembang berbeda secara leksikal dari morfem artis.

Dewan Kesenian Palembang
Mencermati Dewan Kesenian Palembang (DKP), (mungkin juga Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS)) saya tidak begitu paham kenapa mereka tidak pernah memberdayakan Taman Budaya Sriwijaya sehingga menciptakan Taman itu semacam Taman Ismail Marzuki yang membesarkan dan termasuk dibesarkan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Mengapa pula DKP lebih berorientasi kafe atau barangkali diskotek atau mal untuk mengadakan sebuah acara. Ada kesan ekslusif sekaligus norak. Padahal kesenian jika ingin berkembang tidak dibenarkan diekslusifkan (juga dinorakkan). Selain itu barangkali TW dalam hal ini ternyata benar bahwa DKP adalah lembaga publik yang semestinya dinikmati publik. Sebaiknya pula para pengurusnya benar-benar orang yang berkompeten dalam berkarya seni bukan semata-mata pejabat yang ditunjuk karena kedekatan dengan penguasa. Bukan pula sekadar penikmat seni. Ketua Dewan Kesenian bukan jabatan politis. Ia haruslah seorang yang paling tidak mengetahui seni itu berkembang. Tidak semata-mata berisi pagelaran busana dan tari daerah. Tidak semata-mata orang yang sekadar menikmati seni hanya karena dianggap tahu bagaimana lagu daerah dinyanyikan. Ini bukan berarti saya anti kesenian daerah. Akan tetapi, harus ada perkembangan pemikiran di antara pengurus dewan kesenian untuk paling tidak memahami seni kontemporer.
Saya kira DKP (mungkin juga DKSS) adalah dewan kesenian paling aneh di Indonesia. Salah satu keanehannya adalah membuat acara semacam reality show, idol-idolan, KDI-KDI-an, untuk mencari bibit artis (seniman?), seperti pernah dilansir di media massa lokal. Dan talenta yang dianggap mumpuni dalam pencarian bibit semacam itu adalah yang paling tajir. Bagaimana tidak bila polling SMS adalah cara penilaiannya. Atau ada perlombaan menyanyi di mal-mal yang katanya untuk mencari bakat. Bakat apa? Apakah hal tersebut bisa dipertanggungjawabkan kesenimanannya? Apakah artis atau seniman bisa dikarbit seperti itu? Bukankah sudah terlalu banyak media elektronik yang meninabobokan pemirsa dengan acara-acara seperti itu? Bisa jadi mereka juga bisa disebut seniman, tetapi seniman karbitan.
DKP seharusnya lebih kreatif dan brilian lagi dengan acara-acaranya.. Bukannya hal tersebut tidak boleh dilakukan oleh sebuah dewan kesenian, tetapi ambillah posisi yang lebih “sunyi”. Yang saya maksud adalah DKP harus mulai menunjukkan kepada khalayak Palembang bahwa kesenian tidak melulu lomba-lomba menyanyi (pop atau dangdut), atau nanti lomba busana dan lomba-lomba model yang hanya bermodalkan tampang, yang lebih kental unsur konsumerismenya itu (barangkali ini yang dimaksud TW sebagai buruh seni). Karena keanehan itu pula saya tidak paham. Semoga saja niat itu bisa dipikirkan kembali pelaksanaannya. Bahkan kalau bisa jangan ada deh pemikiran seperti itu.
Tidakkah lebih baik mengadakan acara semacam temu penyair, lomba puisi atau cerpen atau drama? Pernahkah DKP membuat acara bedah puisi baik dari buku atau media massa karya sastrawan lokal? Membuat antologi penyair Sumatera Selatan, membuat antologi cerpen dsbnya? Atau daripada menghamburkan dana untuk kegiatan yang jelas-jelas tidak membuat kesenian “serius” menjadi berkembang, bukankah lebih baik dana tersebut dijadikan sebagai hadiah sekadar penghargaan dalam lomba penulisan novel, misalnya. Sulitkah membuat hal tersebut sebagai rutinitas tahunan? Bukankah Saman-nya Ayu Utami besar setelah menjadi pemenang dalam lomba yang diadakan DKJ?
Terus terang dibandingkan dengan daerah lain di Sumatera, apalagi dengan daerah lain di Jawa, kehidupan berkesenian di Palembang, khususnya atau Sumsel, umumnya masih belum diperhitungkan secara nasional. Memang kita pernah punya B. Jass, atau Koko Bae. Sekarang kita punya Anwar Putra Bayu, Anto Narasoma, Sutan Iwan Soekri Munaf atau T. Wijaya. Tetapi itu belum cukup bukan? Karena itu termasuk kepada media massa lokal, peran penggiatan kebersenian patut dipertimbangkan. Akan tetapi, paling tidak dapat disyukuri bahwa masih ada sedikit penghargaan dari DKP berupa anugerah seni Anggon kepada beberapa seniman. Juga seperti beberapa waktu lalu DKP menghadirkan seorang Soetardji Calzoum Bachri. Lumayanlah!
Saya jadi teringat kepada sastrawan Ajip Rosidi yang memberikan penghargaan Rancage bagi pelaku kesenian atau orang yang dianggap berjasa kepada kesenian (terutama kesusastraan) daerah. Awalnya, beliau hanya memberikannya kepada para penggiat sastra Sunda. Setelah berjalan selama kurang lebih dua atau tiga tahun penghargaannya meluas untuk kesusastraan Jawa, lalu tahun berikutnya juga diberikan penghargaan kepada kesusastraan Bali. Beliau juga bercita-cita untuk terus memberikan penghargaan kepada kesusastaan-kesusastraan lain seperti Minang, Batak, Bugis-Makassar, Lombok atau Aceh. Entah apakah hal tersebut sudah terlaksana atau belum, yang jelas hal tersebut paling tidak merupakan angin segar bagi kesusastraan daerah.
Penghargaan itu meliputi cerpen, puisi, novel, atau naskah drama yang ditulis dalam bahasa daerah, tetapi nuansanya adalah seni yang terus berkembang. Bukan berarti karya tersebut hanya berupa pantun, geguritan, macapat, tembang dolanan atau yang lain. Tetapi, hasil karya sastra modern yang ditulis dalam bahasa daerah. Kalau sastra dalam bahasa Palembang (bukan hanya pantun, gayung bersambut atau Dulmuluk) masih ada siapa tahu panitia Rancage juga akan mempertimbangkan penghargaannya.
Perlu kita pahami lagi bahwa seni tidak sesempit yang kita kira. Artinya meskipun bukan penyair cobalah mencipta puisi, meskipun belum menjadi cerpenis cobalah membuat cerpen. Siapa tahu kita mempunyai cukup potensi dikenal publik. Dengan demikian mudah-mudahan ada jalan juga menjadi penyair atau cerpenis. Toh, seorang mahaguru sekalipun pernah menjadi murid yang tidak tahu apa-apa. Tentu saja dengan pembelajaran yang tak usailah ia bisa berhasil.
Menulislah atau berkaryalah! Roland Barthes pernah bilang menulis adalah wilayah netralitas, komposisi tanpa nuansa ke mana subjek menyelinap, wilayah negatif tempat identitas lenyap, diawali dengan sirnanya identitas tubuh yang menulis. Dengan berbagai cara, dengan vitalitas bawah sadar membantu lenyapnya pengarang (termasuk sastrawan atau seniman, EWMP) menghapus perannya yang keramat. Jadi karya bukan lagi terletak pada asal-usul tetapi pada tujuannya: pembaca atau penikmatnya. Dengan demikian apalah artinya seniman atau bukan seniman, pekerja seni atau bukan pekerja seni, jika sebuah proses kreatif bisa dikembangkan.
Kalau persaingan antar penyair di Palembang ini ramai tentunya kehidupan seni sastra khususnya akan marak. Demikian juga seni-seni lain. Lalu akan muncul kelompok-kelompok diskusi, kelompok-kelompok kajian, lalu muncul ide membuat pementasan seni bareng. Lalu muncul forum-forum yang ilmiah atau nonilmiah. Yang resmi atau independen pun bermunculan. Pokoknya banyak cara kok yang dapat dilakukan oleh seniman di jagad Palembang ini.
Sekali lagi, kesenian tidak semata-mata karya cipta tetapi ia bisa berujud karya laku. Toh seperti yang dikatakan kamus, berkesenian berarti berkemampuan mencipta atau melakukan bukan?
Diskursus ini telah menjadi wacana klasik yang bertahun-tahun lalu pernah saya alami di kampus. Sekelompok kawan yang ucapannya persis mengutip Rendra dengan arogan berkata menjadi seniman itu tidak gampang karena karya seni itu (dalam hal ini sastra) adigung dan adiluhung. Tidak sembarang orang bisa menjamahnya dengan leluasa. Sastra itu indah, menjadi katarsis bagi penikmatnya. Atau kata Aristoteles, sastra itu adalah jalan keempat kebenaran setelah agama, ilmu pengetahuan dan filsafat. Oleh karenanya mereka lebih sreg disebut pekerja seni daripada seniman. Haruskah kita dengan bangga mengatakan bahwa kita adalah pekerja seni atau seniman sedangkan baik secara hakikat maupun harfiah, secara etimologi atau semantik kita tidak yakin apakah seni, kesenian, atau seniman itu?
Tampaknya kita harus mengikuti tradisi Tolstoy, membaca minimal 600 halaman buku per hari.
Catatan menjelang akhir tahun 2006.