1.26.2007

Cerpen, Kritik, dan Kritikus

dimuat di Sriwijaya Post, 21 Januari 2006

Cerpen, Kritik, dan Kritikus
Oleh Eko W.M. Pagaralam
Seperti yang Alpansyah bilang (Sriwijaya Post, Minggu, 7 Januari 2007), genre sastra seperti cerita pendek (juga puisi) mendapat lumayan perhatian dari sejumlah media lokal. Saya pribadi melihat Sriwijaya Post punya perhatian melebihi media lain untuk rubrik yang mengkhususkan diri dalam bidang budaya. Artinya, dibandingkan dengan harian lain yang terbit di jagad Sumsel ini, konsistensi pemuatan cerpen, puisi, dan esei tentang kebudayaan secara umum lebih terjaga. Kadangkala ada media yang lebih mementingkan pemuatan tulisan redakturnya atau seorang yang kenal secara pribadi dengan redakturnya. Jadi, tulisan yang muncul terkadang semua berisi opini atau berita. Rubrik cerpen dan puisi sering dihilangkan. Pemunculannya hanya dua atau tiga minggu sekali, bahkan dalam sebulan tidak muncul sama sekali.
Saya tidak sepaham jika redaktur budaya sebuah surat kabar lebih paham corak cerpen (juga puisi) yang diinginkan pembacanya seperti yang diungkapkan Alpansyah. Karakter surat kabar berbeda dengan majalah atau tabloid yang biasanya memang bervisi khusus. Sebut saja misalnya, majalah remaja Aneka yang memang membidik kalangan remaja dan tulisan-tulisan yang ada di dalamnya termasuk cerpen, amat meremaja. Atau majalah remaja Islam Annida (yang melahirkan Forum Lingkar Pena yang telah menasional, di Palembang yang saya ketahui dikomandoi oleh Dian Rennuati), corak cerpennya lebih terfokus kepada tema-tema keislaman.
Sedangkan surat kabar, meskipun dipandang surat kabar Islam, misalnya Republika, tetap saja temanya beragam, meskipun mayoritas memang lebih mengarah ke nuansa islamnya. Cerpen-cerpen Kompas lebih beragam lagi, meskipun sering dianggapsebagai media yang tidak “islami”, tema sufistik lumayan sering muncul, salah satunya adalah cerpen Jejak Tanah karya Danarto yang menjadi cerpen terbaik dalam kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2002.
Tetapi, jika yang dimaksudkan adalah corak yang dinginkan redaktur, bisa disepakati. Karena selera redaktur yang lebih berperan dalam penerbitan sebuah surat kabar. Tetapi, redaktur yang cerdas tentu saja tidak melihat cerpen dari melulu dari temanya, tetapi lebih menekankan bagaimana nilai sastra dalam cerpen tersebut. Kalau melihat dan menilai cerpen dari temanya, tentu saja kecil kemungkinan cerpen Jejak Tanah dan sejenisnya akan dimuat di Kompas, karena subyektivitas redaktur dan visi medianya akan bermain di sini.
Jika redaktur budayanya (terutama) hanya mempunyai pengetahuan sastra seadanya, maka dapat dipastikan cerpen yang dimuat pun seadanya. Artinya, kalau ada cerpen yang dikirimkan dan isinya sesuai dengan selera hatinya—tidak peduli apakah cerpen itu akan sangat “pop” atau serius—tentu akan dimuat.
Kadang-kadang ada satu dua cerpen atau puisi yang bagus di harian (terutama harian lokal di Sumsel) ini. Kadang-kadang pula ada yang teramat “seadanya”. Saya tidak begitu paham seperti apa kriteria pemuatannya. Ada yang sangat produktif menulis (saya kagum dengan produktivitasnya), tetapi sepertinya penggalian demi penggalian untuk perbaikan cerpennya tidak terlihat. Bukan berarti saya anti budaya pop, tetapi cerpen yang muncul kebanyakan memang sangat bernuansa pop. Tidak jauh berbeda dengan cerpen-cerpen majalah percintaan remaja. Gampang tertebak, tidak ada kejutan, alur dan konfliknya datar. Atau kalau tidak itu, variasi dan gaya bertuturnya miskin kreasi. Saya tidak tahu apakah hal tersebut terjadi karena penulis atau penikmat cerpen, khususnya atau sastra pada umumnya memang sangat sedikit sehingga sangat sedikit pula yang mengirimkan karyanya? Ataukah karena memang tidak berkembangnya para penulis atau penikmat cerpen karena tidak mau mengeksplorasi diri dengan referensi-referensi, bacaan-bacaan bandingan di luar cerpen yang selama ini mereka baca? Ataukah karena memang tidak mengikuti perkembangan penulisan cerpen sama sekali sehingga yang diketahui hanya bahwa membuat cerita dalam cerpen adalah seperti cerita-cerita yang ada di sinetron itu? Atau memang selera redakturnya memang seperti itu? Atau mempertimbangkan selera pasar?
Saya sepakat dengan Alpansyah, harus ada garis yang jelas menandai apakah sebuah cerpen itu layak muat atau tidak. Dalam hal ini bukan hanya (calon) penulis cerpen yang harus memperbaiki diri, tetapi juga para redaktur budaya yang harus lebih ahli lagi menentukan kesahihan sebuah karya. Karena secara tidak langsung para redaktur budaya berperan sebagai kritikus, meskipun tidak menuliskan kritiknya. Tidak ada salahnya kita mengikuti tradisi Tolstoy, sastrawan besar Rusia itu, membaca minimal 600 halaman buku per hari. Paling tidak seperempatnyalah.
Satu lagi yang juga perlu diperhatikan adalah sepertinya menjadi penulis (apa saja) memang tidak dihargai di sini. Artinya, menulis adalah pekerjaan yang menghasilkan uang. Padahal menulis di media massa nasional, penghargaanya lumayan tinggi. Satu tulisan saja yang dimuat, lumayan untuk membantu-bantu menambah penghasilan di tengah merejalelanya koruptor di negeri yang kian semrawut ini. Bahkan untuk surat kabar-surat kabar daerah tertentu yang notabene tidak lebih baik dan makmur dari media massa lokal sini, penghargaan terhadap penulisnya lumayan berarti. Padahal media massa tersebut murni berdikari, bukan merupakan jaringan atau grup media apa pun. Jadi, menulis selain mencerdaskan nurani, memperlancar keterampilan berbahasa, juga mendatangkan hasil yang lumayan. Ada kepuasan lahir dan batin. Dan percayalah, akan lebih banyak tulisan berkualitas yang akan muncul! Saya pernah beberapa kali menulis di media lokal, tidak ada tanda-tanda kecipratan rezeki. Bukan berarti saya cowok matre bo! Cuma bertanya tentang hak atas kekayaan intelektual (HAKI) dan profesionalisme media.
Saya tetap mencoba menulis, apa pun hasilnya. Menulis bukan pekerjaan iseng, atau sambil lalu saja. Ia butuh keterampilan tersendiri. Sama seperti dokter, guru, pengusaha, dan profesi lainnya. Cuma profesi penulis belum lazim di sini. Toeti Heraty pernah bilang dalam pengantar buku Hidup Matinya Sang Pengarang yang dieditorinya, siapa yang peduli hidup matinya pengarang? Bukankah sering terjadi seorang pengarang sesudah mati baru mendapatkan appresiasi?¹
Alpansyah juga mengatakan bahwa terlepas dari geliat penulisan cerpen yang terus memantapkan keberadaannya, khususnya di Sumatera Selatan, harus diakui bahwa ulasan yang mengupas cerita pendek secara komperehensif masih terasa sangat kurang. Tetapi, ada kendala yang mungkin juga turut membuat situasi itu terpelihara. Apa yang bisa kita harapkan dari satu halaman budaya surat kabar dalam setiap minggu? Walaupun ada pengupasan atau pengapresiasian terhadap sebuah atau beberapa buah cerpen, penulisannya akan tanggung. Karena satu halaman itu dibagi lagi untuk porsi cerpen dan puisi serta iklan. Bisa jadi malah akan menimbulkan salah tafsir atau salah paham.² Sementara untuk menambah halaman rubrik barangkali akan sangat berat bagi surat kabar yang di kota atau daerah tempat terbitnya para penggiat dan penikmat seni dan budaya hanya segelintir. Pertimbangan finansialnya menyatakan merugi.
Kritik sastra (termasuk cerpen atau puisi) media massa adalah kritik sastra nonakademis (untuk membedakannya dengan kritik sastra akademis yang berasal dari kampus-kampus sastra). Dalam hal ini pendekatan kritis terhadap sebuah karya sastra menurut M.H. Abram adalah pendekatan obyektif yang menitikberatkan pada karya, pendekatan ekspresif (pada penulisnya), pendekatan yang menitikberatkan pada alam semesta (mimetik), dan pendekatan yang menitikberakan pada pembaca (pragmatik).³
Kritik sastra yang lebih sering dibahas media massa adalah kritik sastra obyektif. Memang akan lebih fair mengkritisi karya daripada pribadi penulisnya. Kritikus seperti Maman S. Mahayana, yang diceritakan dengan penuh semangat oleh Alpansyah, ada J.U. Nasution dan S.Effendi, ada Rahmat Djoko Pradopo dan Faruk di Yogya, atau Partini Sardjono dan Wilson Nadeak di Bandung adalah nama-nama kritikus sastra akademis yang sudah punya nama. Saya meragukan mereka juga punya nama di Sumsel ini. Kritikus nonakademis lebih banyak lagi, ada yang merangkap sebagai sastrawan sekaligus seperti Seno Gumira Ajidarma atau Goenawan Mohamad, atau ada Arief Budiman dan Ariel Heriyanto, sosiolog yang penikmat sastra, atau Ajip Rosidi dan Ayat Rohaedi, dua saudara yang mumpuni.
Jadi, pengulasan atau pengapresiasian sastra (khususnya cerpen) harus lebih digiatkan di tataran yang lain. Karena tidak ada Fakultas Sastra di Sumsel ini, tentunya sulit mengharapkan akan kelahiran kritikus akademis di sini. Tetapi kritikus nonakademis masih bisa dimunculkan melalui tulisan di media massa walaupun cuma sedikit ulasan atau misalnya lebih sering dipergiat diskusi dan bedah cerpen lokal. Dimunculkannya forum-forum kajian. Diupayakannya penerbitan kumpulan cerpen penulis lokal, lalu dibedah atau dikritisi secara terbuka. Diskusi kecil pun kadangkala bisa melahirkan gagasan besar. Syukur-syukur nanti ada penambahan halaman rubrik seni dan budaya. Syukur-syukur pula tidak lupa membagikan rezekinyaJ.

Catatan kaki:
1. Di sini saya menyamakan istilah pengarang dan penulis. Dalam literatur Inggris (Eropa pada umumnya) dibedakan antara author (pengarang) dan writer (penulis).
2. Ini yang saya cemaskan! Saya tidak tahu apakah ini yang menjadi pertimbangan tulisan saya dipotong (bukan diedit, lho) lebih dari separonya oleh sebuah harian lokal (bukan Sripo). Bahkan nama pena pengarang turut dipotong. Padahal Japi Tambayong dan Alif Danya Munsyi dianggap orang berbeda meskipun mereka adalah Remy Silado.
3. lihat Abrams,M.H.1958. The Mirror and the Lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. New York:Norton.

Penulis adalah Alumnus Jurusan Linguistik Indonesia Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Bandung