1.26.2007

Sajak-sajak

Suatu Hari di Kota Musi
seperti masa lalu
masih menjejaki lumut di batu
mengejek mau
lupa kepada hari depan
di kota yang semakin kehilangan keaslian
karena penyeragaman
kau, aku
kelu dalam keluh
melalui musim menjelma muson
dan bandang yang tak surut
2005

Suatu Hari di Kota Musi II
aku berjalan di antara laporan jurnalisme kota
berdarah-darah dan norak deh!
dari lubuk terendah strata kasta
cuma ada bising yang seharusnya hening
kata cuma menjelma petaka
"aku mau berjalan saja di sini," katamu
entah di mana pengembaraan tanpa akhir itu
2005

Tentang Siang Waktu Itu
siang
dan ketukannya yang sangar
mengawal kesempatan
sempit pada awalnya
lalu masa
menerobos tiba-tiba
sekadar mampir ngombe
dalam kegilaan yang kian terstruktur
2005

Kehendak
Tuhanku,
berjalan menuju-Mu
deras dan teramat berliku
cinta-Mu mengucur deras
namun tak sedikit pun
aku membalas
Tuhanku,
perkenankan aku mencintai-Mu
sekali lagi
2005

BKB
Bukan sedang tamasya di sini
Siapakah engkau?
Gelombang bertanya pada benteng
Mengapa engkau di sini membendung jalan
Yang telah kurangkai berabad-abad?

Seharusnya tidak begitukah?

Lalu bisik sungai
Aku menjadi ramping
Tepi ke tepiku mendekat pusing
menadah muntah sepasang kekasih mabuk
dari ziarah berahi

legenda itu telah pula kuhanyutkan
bersama pasar di bawah jembatan
yang sempat mencatat kedatangan banyak sultan
dan ulama pembawa kabar keselamatan

bukan sedang tamasya di sini bukan?
2006
Ket:
BKB=Benteng Kuto Besak di tepian sungai Musi Palembang.


Sabtu, dalam Bimbang
Sabtu apakah ini?
Pekan ini berlipat lagi
Aku tidak memintamu ke sana
pun membawakan cerita

Sabtu ini aku menimbang
Seiris kemungkinan
Seutas pengharapan
Sekerat permintaan yang telah menekuk mimpi
Di sepanjang petang yang semilir
Akankah pulang?

Namun aku tidak akan meninggalkanmu
Bersimpuh karena bimbang
Kecuali hati yang lapang
Akankah pulang?
2006

Hikayat
Seandainya waktu tidak menuliskan hikayat ini. Kita bertanya diam atau gagap, perempuanku.
Cinta telah digoreskan dengan belati. Menumpahkan nafas yang terbentuk dari dekapan purba.
Ah, kelak akan datang pasang yang mendekamkan kita dalam dekap atau gelap. Mendung yang menyerupa wajahmu bergegas menumpukkan catatannya agar waktu juga mengisahkannya saat semuanya ditafsirkan menjadi masa lalu.
2006



Seusai Subuh
Seusai subuh itu , anakku
Aku tiba-tiba merindui ayah
Kakekmu yang diam dalam harap
Pada penantian menuju kekal

Seusai subuh itu, anakku
Engkau menangis lirih

Tapi siapakah yang bisa menghitung maut
sedangkan detak pada jam dinding pun berhenti?
Engkau barangkali lelah menghela muasal
Sebab setiap detik waktu menjadi hampa
Adalah keabadian seperti kakekmu
Yang diam dalam harap

Seusai subuh itu, anakku
Lewat nafas yang dua belas jam
Di ruang berbau obat
Sekarat dalam tangan perawat sesat
Yang ijazahnya mungkin asal tamat
Dari akademi minus surat-surat

“Untuk apakah sebuah kehidupan?”
katamu seusai subuh itu.
Nov 2006



Masih Kita Tertawa
Marilah, nak! Kita bersihkan sajak yang dilumuri lara
(ada apa antara jejak yang terkunci
memerintahkan pagi menghapus dengan embunnya?)
kita pandang dunia dari tepi mencari zenith mencari nadir
menggambar horizon yang membelah
lukisan menjadi dua dunia: atas dan bawah
sembunyikan gerimis dari kita,
(sajak tetap menjelma omong kosong
menuai perang kritikus yang kehabisan bahan bacaan)
marilah, nak, kita tertawa!
2006

Kata
Saat ini aku cuma bisa membuat sajak
Tentang rindu yang berderak-derak

(apa mungkin aku bisa melukis
Kenangan bagi anakku?)

seperti saat yang diperdebatkan itu
sajak cuma bisa menjegal nama dan bermimpi
di rumah kita
2006

Hari Pahlawan
Ada upacara kemarinpagi di pemakaman
Veteran yang menjaga lumbung padi
Mati kelaparan sebelum tugasnya selesai.
2006

Ekspresi Kaca
Ia mencoba menulis di atas kaca. Pada huruf italic. Waktu Cuma sepermainan kanak-kanak bersirobok berebut mainan. Menyulap bahasa pada hvs berukuran kwarto tentang kepak pagi. Tentang wahyu untuk para nabi. Di mana kebenaran bersembunyi! Sedangkan televisi nyinyir mengutip perih. Kau selebritis, kau bukan selebritis. Tidak jelas. Sketsa muka atau rajah tangan, bukan apa-apa. Kaca retak lalu pecah. Tertekan serupa hatinya yang guyup. Gigil ia menggenggam jemari. Berkelutuk. Meski kerontang meranggas bareng kemarau tak usai-usai. Ia terkena sindrom. Gagap dan cemas bicara. Ada ketakutan seperti pembunuhan di rumah sakit. Ia menulis, hanya bisa menulis. Di atas kaca yang pecah. Tentang apa pun yang meruak di deru api. Tentang deras: pada hujan, pada banjir. Bermimpi tentang lepas dan lega. Merenungi peluru kendali yang yang menghujam hati. Serta badai yang menikam hari serta sejumput puisi.
2006

Sekonyong-konyong
I
Sekonyong-konyong ada detik
Terlewat selangkah
Bukan untuk tapak yang panjang
Seperti berbeban
II
Kita bersitatap gagap
Bersama harap, beserta cemas yang gegas
Menghitung napas yang dikejar
Dan terlewat selangkah
“Tidakkah kita salah mengalkulasi?” katamu.
Kitapun diam. Melewati benua malam.
Meski baru setengahnya tertanam
III
Deru sepeda motor cina yang dipacu paksa
Mengawal luka
Menjadi ritme yang jaga.
Sedang kita bertambah gigil
Dan pasti muram.
Barangkali selepas genggaman lebam.
Hilanglah harapan.
2006

Walikota pergi ke Beijing
Sipakah yang menerjemahkan kota ini
Gerimis yang sesaat atau sepasukan
kemarau?
Kerontang tak tercatat juga dingin yang
sebentar
kota hanya kehendak tunggal
melulu gedung berkotak-kotak
tanpa mental sebab hilang adab
ke Beijing kita anjangsana
membawa duit yang selaksa
sambil bercerita:
kami datang dari negeri paling kaya
lihat saja kami datang dengan dendang dan pesta-pesta
(akulah yang paling kaya, katamu, karena aku tinggal
menunjuk. Siapa yang berani menanyakan
anggaran hanya membuat lempang jalan ke nisan baka)
kota hanya sekat
dibuat berdasarkan khianat musim yang telah melupakan
tanggal kapan harus berbuat:
kerontang tak tercatat atau dingin berkerat
ke Beijing kita anjangsana
menghapus peta kefakiran kota
Pagaralam, 2006

Salam Selamat Datang Buat Tuan Bush
ini bukan Tikrit atau Gaza
pula Kabul atau Peshawar
kedatangan tamu bagi kami adalah kehormatan
tetapi mengapa engkau begitu cemas, tuan?
apakah yang membuatmu begitu ketakutan?

kami bukan Saigonmu yang dulu atau Pyongyang
tak kami milik Castro, Khadafi, dan Ahmadinejad
disini kami hanya punya segelintir teriakan
yang bahkan lalat pun tak memedulikan
atau kau sebetulnya seorang pengecut yang ketakutan
karena aibmu sendiri?

di mana bumi dipijak di situ bumi menolakmu
ada apakah sebetulnya, tuan?

tetapi, aku lalu bepikir lain
kau sebetulnya tidak mau diapa-apakan
hanya sejawatmu di negeri kami yang ketakutan
sehingga mencari mukanya di galian Kebun Raya
barangkali tertanam di sana
hilang saat kau datang mendaratinya
berharap engkau menggantinya
entah operasi plastik atau sekedar sketsa
sementara rakyatnya bahkan tidak boleh makan
sebab dilarang berdagang dan membawa angkutan

ini bukan Tirkit atau Gaza
hanya Buitenzorg yang kebetulan punya rusa
dan istana milik sejawatmu yang megah
yang mencari mukanya di galian Taman Pusaka

selamat, tuan
hanya engkau yang bisa membuatnya ketakutan
meski 6 miliar melayang
di atas gedung-gedung sekolah yang hancur berantakan
2006


Ekspresionisme 2006
Jika kita menanti harap lagi, dik, adalah harap yang terselubung sedangkan tahun adalah kita yang gugur dan usia yang tercatat. Jejak kusam tak terbawa dalam diam bersembunyi pada rotasi, waktu pun sepenggal nafas. Ada yang terbuai, ada yang terbuang, ada yang terkulai, ada yang tertuang. Negeri kita pun melulu bercerita tentang nestapa. Roti basi hingga jamaah haji kelaparan. Poligami yang dicemaskan dan pornografi yang diacuhkan. Penjilatan ke negeri adidaya hingga jalan-jalan berpesta di mancanegara.

Siapa peduli bahasa Indonesia, jika film-film pun dinamai asing. Siapa peduli tanah air jika tanah dan air sudah kering. Siapa peduli bangsa, jika negeri ini sudah tak eling. Kita tak usah menanti harap, dik. Ia mungkin akan hadir, barangkali pula tidak. Kita tinggal menunggu cemas.

Kita hitung saja cemas, dik. Adakah ia lebih giat daripada pengharapan. Apakah ia telah menjelma keputusasaan. Kapal tenggelam, pesawat tumbang, beras membumbung tinggi tetapi terompet dan meriam berteriak-teriak di malam tahun baru. Siapa peduli, siapa peduli. Ah, kita memang telah kehilangan kalbu. Lupa di mana letak nurani. Karena tapak yang kian kusam sudah tidak berjejak.

Persetan semuanya! Kita melaju saja, pura-pura mesra dengan bergandengan tangan sambil mulut terus mengunyah serapah. Suatu saat, kita muntahkan serapah itu ke kepalanya. Orang yang tersenyum dalam kekuasaannya yang sebetulnya rapuh. Sampai ia mengiba karena telah menghina bapak moyangnya sendiri.

Selamat tahun baru, dik. Sepertinya episode kita akan tetap sama seperti kemarin.
Catatan awal 2007

Pusara
Kemarin masih belum kering tilas tahun gugur
Seusia sobekan almanak
: Zidane dalam Materazzi
Ronaldo mencetak 15 gol sepanjang piala dunia
Ada adegan lumpur menggenang
Dalam isu poligami dan perselingkuhan anggota dewan
Artis cantik mati overdosis, syuhada gugur digantung Amerika
Ada anak kecil genit sedangkan ibu kian tua, putri yang gugur seusai hari raya
Bush yang busuk datang disambut dengan megah penjilatnya
Sinetron picisan semakin gencar menyerbu
Malapetaka kian santer mendera-dera negeri yang sebetulnya sudah lelah
Entah apakah dalam sobekan-sobekan almanak berikutnya masih tetap ada
Hanya pusara segala jejak yang kelam atau tidak
Menjadi prasasti bagi haru biru kepingan hati
Persis setelah hadir dalam 365 hari
Catatan awal 2007