5.15.2007

Keajaiban Anak-anak

Ini kisah lama pernah dimuat di Republika Online, 27 April 2003. Menarik untuk diresapi lagi.
****
Menikahlah, miliki anak, maka keajaiban akan Anda temui pada setiap helaan napas. Maaf, saya seakan sok bernasihat seperti itu. Tapi, setidaknya, jika Anda sudah melakukannya, inilah saatnya kembali merenungi setiap ucap dan polah anak-anak. Temukanlah keajaiban mereka.

Ini adalah kisah nyata tentang keajaiban mereka. Saya kumpulkan dari sejumlah kawan:

Sepasang orang tua bepergian dengan anak mereka. Anak berusia tiga tahun. Anak yang cerdas dan sedang banyak-banyaknya bertanya. Karena ada yang harus dibeli, mereka memutuskan untuk mampir di toko.

''Jangan ke toko anu, di sana ada tempat permainan. Nanti anak kita minta main dulu, padahal waktu kita sempit,'' ungkap sang ayah. Ia saat itu berbahasa Inggris kepada istrinya, dengan maksud agar sang anak tidak memahami ucapannya.

Tapi, ia kecele. Sang anak yang fasih berkata-kata itu tiba-tiba nyeletuk. ''Ayah benar. Nggak apa-apa, nggak usah ke sana, nanti aku malah minta main,'' ujarnya.

Ajaib? Bagi saya, tentu saja. Sebab, sang anak tak pernah diajari berbahasa Inggris.
Ada kisah nyata lainnya. Seorang ibu terbaring sakit. Sang suami bekerja. Tinggal dua anaknya di rumah. Mereka balita, empat dan dua tahun. Ia panggil dan peluk mereka. ''Mama sakit, jangan nakal ya,'' katanya.

Mata mereka bening, lama menatap sang ibu. Kepala mereka mengangguk. ''Ade, jangan ganggu mama ya,'' kata si sulung. Adiknya mengangguk. ''Ya,'' jawabnya. Lalu si sulung menyentuh ibunya. ''Besok mama tidak usah antar aku ke sekolah. Aku sudah besar, aku bisa berangkat sendiri--naik ojek. Biar mama istirahat saja.''

Kata-katanya begitu ajaib. Dan itu berlanjut dengan tingkahnya yang manis sepanjang hari. Ia menyapu sebisanya. Ia merapikan mainannya sendiri. Ia makan bersama adiknya tanpa kerewelan khasnya. Mereka yang biasanya gemar bertengkar menjadi sangat akur. Mereka, berdua, begitu ajaib.

Di rumah yang lain, seorang anak TK duduk di muka televisi. Sang ibu duduk di sebelahnya. Tiba-tiba tayangan film kartun terselingi iklan acara sebuah telenovela. Sepasang remaja, lelaki-perempuan, tampak berpelukan. Wajah mereka begitu dekat dan semakin dekat.

Sang anak, umur lima tahun, secara ajaib menunjukkan kejengahan. Ia melengos dari layar kaca dan tersenyum malu kepada ibunya. Lalu ia menutup muka dengan bantal. ''Iihh....'' katanya.

Berikutnya, kisah seorang bocah perempuan dua setengah tahun. Bersama sang bapak, ia menyaksikan tayangan televisi. Tiba-tiba saja, layar kaca menunjukkan tayangan seorang artis dangdut sedang meliukkan tubuhnya --dari atas hingga bawah. Posisi sang artis hampir berjongkok saat putaran tubuhnya memuncak.
Bocah di depan televisi terpana. Kepada bapaknya, ia mengucapkan kata-kata ajaib. ''Ayah, tante itu lagi eek ya,'' katanya.

Anak-anak, kata Kahlil Gibran, bukanlah milik kita. Mereka adalah putra-putri Sang Hidup. Mereka rindu pada diri mereka sendiri. Lewat kita mereka hadir, tapi bukan dari kita. Mereka ada pada kita, tapi bukan hak kita.

Maka, berhakkah kita mengisi benak mereka dengan tayangan-tayangan mengerikan di televisi? Pagi mereka penuh kata-kata makian dari film-film kartun: Dasar tolol! Aku bunuh kau! Pagi yang sama mereka menyaksikan adegan percintaan film Bollywood yang jika diputar bioskop akan diawali peringatan: Untuk 17 Tahun ke Atas.

Tepat siang hari mereka disuguhi berita penuh darah. Mayat dipertontonkan. Wajah lebam diperlihatkan. Korban pengeroyokan ditampilkan. Tak mengherankan, dengan menu TV seperti itu, seorang bocah tiga tahun di sebuah play group membuat bingung ibunya saat bertanya, ''Bunda, apa artinya diperkosa?''

Lalu, di malam hari, putra-putri Sang Hidup sengaja atau tidak akan menyaksikan para penari latar berlenggak-lenggok menemani artis penyanyi. Cara mereka menari terkadang ''jaka sembung'' alias nggak nyambung dengan lagu yang sedang dilantunkan.

Penari-penari lelaki terlihat kemayu. Yang perempuan tampak amat suka mengangkat kaki tinggi-tinggi, mempertontonkan paha, atau membungkuk, mempertunjukkan payudara. ''Ibu, baju penarinya kok sedikit amat?'' komentar seorang bocah lima tahun.

Di saluran lain, TV juga menyodorkan menu serupa, namun dengan lagu dangdut. Inilah acara ''tarian eek'' dengan rating tinggi, yang seperti acara kisah-kisah setan menjadi andalan pengusaha siaran untuk menangguk untung --modal besar untuk masuk daftar leading company majalah FEER.

Anda, pengelola televisi, mungkin tak lagi begitu peduli pada omelan Rhoma Irama atau Ade Armando. Anda boleh jadi menganggap mereka sebagai orang-orang bawel yang puritan, tak menghargai modernitas, atau bahkan hipokrit. Takaran Anda adalah jumlah penonton dan padatnya iklan.

Tapi, menikahlah, miliki anak, maka keajaiban akan Anda temui pada setiap helaan napas. Anak-anak adalah cermin bening yang memberi tahu kita setiap saat tentang hal yang pantas dan tidak. Mereka mengingatkan kita tentang empati, belas kasih, adab, dan kejujuran ... bukan ketamakan.