5.10.2007

Sajak Buat Al Fajriah Yudinovic

Ada bekas leluka di tubuhnya. Demikian dalam ia berkata.
Nafas sengal satu-satu. Bergerak dalam lelah; berdetak dalam resah
Rindu pun telah nyata. Rumah seperti beku oleh satire. Dan anak-anak
berlarian menyambutnya di tempat-Nya yang baka.

Dahulu memang ada yang dipersiapkan.
Digumamkan dengan lirih: dilantun dengan cengkok tak terlatih.
Sebab ia hanya tembang ayah bunda bagi bakal anaknya.

Namaku seharusnya Al Fajriyah Yudinovic, katanya
Engkau barangkali akan memanggilku Al atau Fajriyah atau Afy.

Kemudian selepas angin berkerumun pada senja ia pamit.

Namaku seharusnya disebut ayah dengan segenap cinta
Dan ibu memanggil dengan mesra.

Kita berulang-ulang lupa dengan maut; senantiasa kalut
Lalu ia melipat peta, memandang sayu.
“Sajakku telah usai dalam ketidakusaiannya.”

Ada bekas leluka di tubuhnya. Demikian dalam ia berkata.
Nafas sengal satu-satu. Bergerak dalam lelah; berdetak dalam resah
Rindu pun telah nyata. Rumah seperti beku oleh satire. Dan anak-anak
berlarian menyambutnya di tempat-Nya yang baka.
Nov 2006