Ini kisah lama pernah dimuat di Republika Online, 27 April 2003. Menarik untuk diresapi lagi.
****
Menikahlah, miliki anak, maka keajaiban akan Anda temui pada setiap helaan napas. Maaf, saya seakan sok bernasihat seperti itu. Tapi, setidaknya, jika Anda sudah melakukannya, inilah saatnya kembali merenungi setiap ucap dan polah anak-anak. Temukanlah keajaiban mereka.
Ini adalah kisah nyata tentang keajaiban mereka. Saya kumpulkan dari sejumlah kawan:
Sepasang orang tua bepergian dengan anak mereka. Anak berusia tiga tahun. Anak yang cerdas dan sedang banyak-banyaknya bertanya. Karena ada yang harus dibeli, mereka memutuskan untuk mampir di toko.
''Jangan ke toko anu, di sana ada tempat permainan. Nanti anak kita minta main dulu, padahal waktu kita sempit,'' ungkap sang ayah. Ia saat itu berbahasa Inggris kepada istrinya, dengan maksud agar sang anak tidak memahami ucapannya.
Tapi, ia kecele. Sang anak yang fasih berkata-kata itu tiba-tiba nyeletuk. ''Ayah benar. Nggak apa-apa, nggak usah ke sana, nanti aku malah minta main,'' ujarnya.
Ajaib? Bagi saya, tentu saja. Sebab, sang anak tak pernah diajari berbahasa Inggris.
Ada kisah nyata lainnya. Seorang ibu terbaring sakit. Sang suami bekerja. Tinggal dua anaknya di rumah. Mereka balita, empat dan dua tahun. Ia panggil dan peluk mereka. ''Mama sakit, jangan nakal ya,'' katanya.
Mata mereka bening, lama menatap sang ibu. Kepala mereka mengangguk. ''Ade, jangan ganggu mama ya,'' kata si sulung. Adiknya mengangguk. ''Ya,'' jawabnya. Lalu si sulung menyentuh ibunya. ''Besok mama tidak usah antar aku ke sekolah. Aku sudah besar, aku bisa berangkat sendiri--naik ojek. Biar mama istirahat saja.''
Kata-katanya begitu ajaib. Dan itu berlanjut dengan tingkahnya yang manis sepanjang hari. Ia menyapu sebisanya. Ia merapikan mainannya sendiri. Ia makan bersama adiknya tanpa kerewelan khasnya. Mereka yang biasanya gemar bertengkar menjadi sangat akur. Mereka, berdua, begitu ajaib.
Di rumah yang lain, seorang anak TK duduk di muka televisi. Sang ibu duduk di sebelahnya. Tiba-tiba tayangan film kartun terselingi iklan acara sebuah telenovela. Sepasang remaja, lelaki-perempuan, tampak berpelukan. Wajah mereka begitu dekat dan semakin dekat.
Sang anak, umur lima tahun, secara ajaib menunjukkan kejengahan. Ia melengos dari layar kaca dan tersenyum malu kepada ibunya. Lalu ia menutup muka dengan bantal. ''Iihh....'' katanya.
Berikutnya, kisah seorang bocah perempuan dua setengah tahun. Bersama sang bapak, ia menyaksikan tayangan televisi. Tiba-tiba saja, layar kaca menunjukkan tayangan seorang artis dangdut sedang meliukkan tubuhnya --dari atas hingga bawah. Posisi sang artis hampir berjongkok saat putaran tubuhnya memuncak.
Bocah di depan televisi terpana. Kepada bapaknya, ia mengucapkan kata-kata ajaib. ''Ayah, tante itu lagi eek ya,'' katanya.
Anak-anak, kata Kahlil Gibran, bukanlah milik kita. Mereka adalah putra-putri Sang Hidup. Mereka rindu pada diri mereka sendiri. Lewat kita mereka hadir, tapi bukan dari kita. Mereka ada pada kita, tapi bukan hak kita.
Maka, berhakkah kita mengisi benak mereka dengan tayangan-tayangan mengerikan di televisi? Pagi mereka penuh kata-kata makian dari film-film kartun: Dasar tolol! Aku bunuh kau! Pagi yang sama mereka menyaksikan adegan percintaan film Bollywood yang jika diputar bioskop akan diawali peringatan: Untuk 17 Tahun ke Atas.
Tepat siang hari mereka disuguhi berita penuh darah. Mayat dipertontonkan. Wajah lebam diperlihatkan. Korban pengeroyokan ditampilkan. Tak mengherankan, dengan menu TV seperti itu, seorang bocah tiga tahun di sebuah play group membuat bingung ibunya saat bertanya, ''Bunda, apa artinya diperkosa?''
Lalu, di malam hari, putra-putri Sang Hidup sengaja atau tidak akan menyaksikan para penari latar berlenggak-lenggok menemani artis penyanyi. Cara mereka menari terkadang ''jaka sembung'' alias nggak nyambung dengan lagu yang sedang dilantunkan.
Penari-penari lelaki terlihat kemayu. Yang perempuan tampak amat suka mengangkat kaki tinggi-tinggi, mempertontonkan paha, atau membungkuk, mempertunjukkan payudara. ''Ibu, baju penarinya kok sedikit amat?'' komentar seorang bocah lima tahun.
Di saluran lain, TV juga menyodorkan menu serupa, namun dengan lagu dangdut. Inilah acara ''tarian eek'' dengan rating tinggi, yang seperti acara kisah-kisah setan menjadi andalan pengusaha siaran untuk menangguk untung --modal besar untuk masuk daftar leading company majalah FEER.
Anda, pengelola televisi, mungkin tak lagi begitu peduli pada omelan Rhoma Irama atau Ade Armando. Anda boleh jadi menganggap mereka sebagai orang-orang bawel yang puritan, tak menghargai modernitas, atau bahkan hipokrit. Takaran Anda adalah jumlah penonton dan padatnya iklan.
Tapi, menikahlah, miliki anak, maka keajaiban akan Anda temui pada setiap helaan napas. Anak-anak adalah cermin bening yang memberi tahu kita setiap saat tentang hal yang pantas dan tidak. Mereka mengingatkan kita tentang empati, belas kasih, adab, dan kejujuran ... bukan ketamakan.
abi dari: al fajriah yudinovic, zaizathifah mirajiah yudinovic, muhammad az zahwan yudinovic, & zelena humairah yudinovic
5.15.2007
5.14.2007
5.13.2007
Impression of the Morning
more than anything happened
the morning come up over the hills
your face over there!
"i want to go," you said
may be then you go
to the unknown place?
under branches that wave in the wind
as if motioning to some unseen secret way
over there where
the morning comes up over the hills
like Garuda Pancasila song sound
that repeats itself through all the valleys
covered with all the nervous laughter of
another morning
coming slowly
like the name that you've tried to forget
come to where the name is
coming slowly
"i have to go," you said more
2007
the morning come up over the hills
your face over there!
"i want to go," you said
may be then you go
to the unknown place?
under branches that wave in the wind
as if motioning to some unseen secret way
over there where
the morning comes up over the hills
like Garuda Pancasila song sound
that repeats itself through all the valleys
covered with all the nervous laughter of
another morning
coming slowly
like the name that you've tried to forget
come to where the name is
coming slowly
"i have to go," you said more
2007
5.11.2007
Rindu Itu
rindu itu, istriku
adalah seribu bilangan terbagi nol
sedangkan kita bertemu
pada purnama satu terlewat itu
rindu itu, istriku
kau, aku
bicara pun tak mampu
Memandang Hujan dan Rimisnya
: SN
Memandang hujan dan rimisnya
menjatuhi atap-atap rumah yang layu
pelan-pelan menjelma kuyup
lalu kucari kau pada jeruji rinyai
bahkan bayangmu tak ada
hari pun lusuh dan berkubang
seperti hati yang berlubang
Aku ingin bercermin pada matamu. Membaca harap
Lalu kita bersitatap memandang lamat-lamat.
Penghujan telah tiba, katamu.
Kita pun menghitung rintiknya menanti kabar.
Musim ini tanaman kita hambar.
Matamu berkaca-kaca. Menetaskan buram.
Kita saling bergumam dalam gamam
2006
5.10.2007
Pias
Barangkali tak ada lagi ceracau
Pada kota yang kehilangan jiwanya
Kabut bukan gelap sebentar
Kau lalu patuh dalam diam
Serupa kerikil dan dendam
Yang berserakan tak beraturan
Selamat malam koruptor, katamu
2006
Pada kota yang kehilangan jiwanya
Kabut bukan gelap sebentar
Kau lalu patuh dalam diam
Serupa kerikil dan dendam
Yang berserakan tak beraturan
Selamat malam koruptor, katamu
2006
Dering
Ada telepon berdering di siang yang berisik. Hallo hallo namamu lupa bukan? Mengapa kita tidak melupakan saja pertemuan-pertemuan itu? Aku ingin menuliskanmu pula dalam katalog hati, sebab sesiapa tidak ada sebelumnya. Siapakah yang hadir kelak membawa koreografi cinta mengetuk-ngetuk dalam gerigil. Kabarmu nyaris tak terkait, sedangkan anakku akan mengisi kalender untukku. Engkau bukanlah tak ada.
Ada dering dari telepon di sudut rumah. Bercerita tentang buram yang diperuntukkan khusus bagi perlepasan gharizah. Menghitung sujud yang pernah hilang, Kita memamah polutan kesalahan. Anakku, akukah ayah yang terseret nafas yang deras hilang rupa bernama kesetiaan? Barangkali sebetulnya engkau tak ada.
2006
Ada dering dari telepon di sudut rumah. Bercerita tentang buram yang diperuntukkan khusus bagi perlepasan gharizah. Menghitung sujud yang pernah hilang, Kita memamah polutan kesalahan. Anakku, akukah ayah yang terseret nafas yang deras hilang rupa bernama kesetiaan? Barangkali sebetulnya engkau tak ada.
2006
Sajak Buat Al Fajriah Yudinovic
Ada bekas leluka di tubuhnya. Demikian dalam ia berkata.
Nafas sengal satu-satu. Bergerak dalam lelah; berdetak dalam resah
Rindu pun telah nyata. Rumah seperti beku oleh satire. Dan anak-anak
berlarian menyambutnya di tempat-Nya yang baka.
Dahulu memang ada yang dipersiapkan.
Digumamkan dengan lirih: dilantun dengan cengkok tak terlatih.
Sebab ia hanya tembang ayah bunda bagi bakal anaknya.
Namaku seharusnya Al Fajriyah Yudinovic, katanya
Engkau barangkali akan memanggilku Al atau Fajriyah atau Afy.
Kemudian selepas angin berkerumun pada senja ia pamit.
Namaku seharusnya disebut ayah dengan segenap cinta
Dan ibu memanggil dengan mesra.
Kita berulang-ulang lupa dengan maut; senantiasa kalut
Lalu ia melipat peta, memandang sayu.
“Sajakku telah usai dalam ketidakusaiannya.”
Ada bekas leluka di tubuhnya. Demikian dalam ia berkata.
Nafas sengal satu-satu. Bergerak dalam lelah; berdetak dalam resah
Rindu pun telah nyata. Rumah seperti beku oleh satire. Dan anak-anak
berlarian menyambutnya di tempat-Nya yang baka.
Nov 2006
Nafas sengal satu-satu. Bergerak dalam lelah; berdetak dalam resah
Rindu pun telah nyata. Rumah seperti beku oleh satire. Dan anak-anak
berlarian menyambutnya di tempat-Nya yang baka.
Dahulu memang ada yang dipersiapkan.
Digumamkan dengan lirih: dilantun dengan cengkok tak terlatih.
Sebab ia hanya tembang ayah bunda bagi bakal anaknya.
Namaku seharusnya Al Fajriyah Yudinovic, katanya
Engkau barangkali akan memanggilku Al atau Fajriyah atau Afy.
Kemudian selepas angin berkerumun pada senja ia pamit.
Namaku seharusnya disebut ayah dengan segenap cinta
Dan ibu memanggil dengan mesra.
Kita berulang-ulang lupa dengan maut; senantiasa kalut
Lalu ia melipat peta, memandang sayu.
“Sajakku telah usai dalam ketidakusaiannya.”
Ada bekas leluka di tubuhnya. Demikian dalam ia berkata.
Nafas sengal satu-satu. Bergerak dalam lelah; berdetak dalam resah
Rindu pun telah nyata. Rumah seperti beku oleh satire. Dan anak-anak
berlarian menyambutnya di tempat-Nya yang baka.
Nov 2006
Hymne Maghrib
Belum lewat maghrib
Barangkali baru saja rakaat ketiga
Di masjid yang lalu menjadi sunyi seusai hari raya
Seperti jendela yang masih terbuka
Di luar berbisik angin menjelang gulita
Engkau pun berbisik dalam berisik
“Ayah, aku melihat rumah kita. Aku menunggumu dan ibu
di sana.”
Bahkan selamat jalan tak terucap
Zikir seusai maghrib seperti jalan
bagi talkin dan perpisahan diam-diam
pada malam berkaca-kaca
melebamkan senyum yang bertahan payah
aku memunguti jejakmu dengan harap
dan engkau tak ada.
Nov 2006
Barangkali baru saja rakaat ketiga
Di masjid yang lalu menjadi sunyi seusai hari raya
Seperti jendela yang masih terbuka
Di luar berbisik angin menjelang gulita
Engkau pun berbisik dalam berisik
“Ayah, aku melihat rumah kita. Aku menunggumu dan ibu
di sana.”
Bahkan selamat jalan tak terucap
Zikir seusai maghrib seperti jalan
bagi talkin dan perpisahan diam-diam
pada malam berkaca-kaca
melebamkan senyum yang bertahan payah
aku memunguti jejakmu dengan harap
dan engkau tak ada.
Nov 2006
menendang bola
pluit pembuka
bola ditendang
gol
aku begadang di tengah mimpi tentang istriku yang jauh
aku tiba-tiba kangen kamu, dik
bola ditendang
gol
aku begadang di tengah mimpi tentang istriku yang jauh
aku tiba-tiba kangen kamu, dik
Langganan:
Postingan (Atom)